BENCI JADI BUCIN

BENCI JADI BUCIN
Perasaan ini


__ADS_3

Happy Reading ๐Ÿ˜Š


Pov Kenzo


Hari ini bayak sekali pekerjaan yang harus aku urus, semenjak Mira melahirkan tua Kevin memang jarang sekali masuk kantor karena selalu menjaga Mira.


Aku ikut merasa senang ketika mengetahui Mira melahirkan dengan keadaan yang sehat, ingin rasanya aku ikut menjenguknya kala itu, tapi rasanya sudah tidak ada lagi yang aku harapkan.


Antusias menjadi seorang Ayah juga sebentar lagi akan ku rasakan. Lindsay, wanita itu yang telah mengandung anak ku, ingin rasanya bisa selalu menemani nya dikala pemeriksaan kehamilan atau setiap saat berada di samping nya.


Tapi entah kenapa aku masih merasa malu untuk berkata jujur dengan Lindsay, bahwa aku begitu merindukan nya. Entah perasaan apa yang aku rasakan ini, hanya saja pada waktu malam itu aku tidur sambil memeluk nya, membelai perutnya yang sudah semakin besar.


Dimana calon anakku berada di dalam sana, hati ini rasanya sungguh bahagia, ada sebuah rasa yang tak bisa ku jabarkan.


Tok,tok,tok


"Masuk,"


Ceklek ..


Aku melihat Jennifer masuk ke dalam ruangan ku dengan senyum nya yang mengembang.


"Siang Ken, hari ini aku akan mentraktir mu makan siang" ucap wanita itu.


"Tidak usah Jenn, aku masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan" jawabku.


"Ayolah Ken, untuk hari ini saja aku mentraktir mu, karena hari ini adalah hari ulang tahun ku, please!!" ucap Jennifer memohon.


Sebenarnya aku sangat malas untuk makan diluar, tapi melihat sahabat ku yang menggunakan puppy eyes nya itu aku menjadi tidak tega.


"Baiklah, tapi untuk kali ini saja," jawabku menerima ajakan makan siang Jennifer.


Sebenarnya setelah malam dimana kita hampir melakukan itu, aku berusaha untuk menghindari nya, rasanya aku sudah tidak punya harga diri sebagai seorang pria.


Kukira Jennifer juga akan marah padaku karena aku meninggalkan dia yang sudah siap bermain dengan ku malam itu. Tapi ternyata aku salah.


Jennifer tidak marah, bahkan sikap Jennifer terlihat masih biasa saja dan juga semakin perhatian, membuat ku menjadi merasa tidak enak.


Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di restoran yang berada di sebuah Mall.


Jennifer ingin membeli sesuatu terlebih dahulu.


"Lihat gaun ini Ken, bagus tidak?" ucap Jennifer memperlihatkan sebuah gaun biru selutut.


"Hemm, bagus" jawabku singkat.

__ADS_1


"Baiklah aku akan membeli ini saja" ucap wanita itu dan dia langsung menuju ke kasir.


Aku tidak mengikuti nya karena memang aku tidak akan membayar kan bajunya, dia yang ingin beli sendiri, biarlah semua orang menganggap ku pelit, tapi memang bukan aku yang menginginkan itu.


Aku melihat-lihat seluruh pakaian perempuan yang ada di toko itu. Mataku menuju ke sebuah Dres cantik berwarna abu-abu.


Entah kenapa tiba-tiba aku memikirkan Lindsay, membayangkan dia memakai dress itu, pasti sangat cantik.


Lalu aku pun memberanikan diri untuk meminta salah satu pegawai di toko itu untuk membungkus dress itu.


"Apakah kamu membeli gaun Ken?" tanya Jennifer padaku pada saat kami keluar dari toko pakaian tersebut.


"Hemm," jawabku.


"Apakah itu untuk ku?"


Aku menaikan sebelah alisku ketika mendengar ucapan Jennifer.


"Aku hanya bercanda Ken, maaf-maaf" ucapnya tergelak.


Aku hanya diam tidak menanggapi ucapan nya.


"Ayo kita makan di restoran itu saja," ucap nya menunjuk sebuah restoran di depan kami.


"Baiklah, ayo"


"Ada apa Jenn?" tanyaku melihat ke arah high heels Jennifer.


"Seperti nya heels nya akan patah Ken, aduh bagaimana ini" ucapnya panik.


Entah kenapa aku merasa dia begitu konyol saat melihat heels Jennifer yang akan patah itu.


"Ken, bantu aku berjalan, biar nanti aku buang saja high heels tidak berguna ini, bikin malu saja!" gerutu Jennifer membuat ku tergelak.


Dasar aneh-aneh saja wanita satu ini, kemudian aku membantu Jennifer berjalan dengan menggandeng nya.


Dia berusaha menyeimbangkan langkah nya, padahal aku tahu kondisi heels nya sudah hampir patah.


Kami pun mencari tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar. Aku menahan tawa sedari tadi saat Jennifer menggerutu menyumpahi sepatu nya itu.


"Hahaha, untuk apa sumpah serapahmu itu Jenn, sepatu nya tidak salah, tapi mungkin kamunya yang terlalu berat jadi heels itu tidak bisa menopang tubuh mu," ucap ku tergelak.


Saat kami memesan makanan aku seperti melihat seseorang yang sangat familiar. Dua wanita yang juga sedang makan di restoran itu.


Deg, deg, deg,

__ADS_1


"Lindsay" gumamku.


Ya aku tahu betul kalau itu Lindsay dan Inez, mereka berdua memang sedang menyamar, tapi aku masih tetap bisa mengenalinya.


Tiba-tiba jantung ini berdebar kencang saat mata kami bertemu, entah kenapa aku merasa tidak nyaman saat di tatap seperti itu.


Aku merasa seperti sudah ketahuan selingkuh oleh istri sendiri, dengan berani aku berdiri dan melangkah menuju meja Lindsay dan Inez.


"Ken, mau kemana?" seru Jennifer menghentikan langkah ku.


"Mau menemui seseorang" jawab ku singkat.


Aku melihat Lindsay yang salah tingkah ketika aku berjalan ke arah nya.


Akupun tersenyum ketika dia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan memainkan ponsel Inez, ya Lindsay memang tidak ku beri ponsel, aku hanya ingin dia fokus dengan kehamilan nya dan tidak akan terganggu dengan berita di luar sana dari gadget manapun.


"Hai, kalian berdua makan disini juga?" aku menyapa Lindsay dan Inez yang sudah ketahuan bahwa mereka keluar dari villa.


"Eh, tuan Kenzo" jawab Inez menampilkan sederet gigi putih nya.


Lindsay hanya diam saja tidak berani menatap ku, entah apa yang dia rasakan saat ini, sepertinya acara makan siang nya telah aku ganggu jadi dia merasa kesal mungkin.


Entahlah ...


"Ken, siapa mereka?" tiba-tiba Jennifer menghampiri ku dan menggandeng lengan ku erat.


Jujur aku merasa sedikit risih dengan kelakuan wanita ini.


"Lindsay, perkenalkan dia Jennifer sahabat ku dan rekan kerja di kantor" entah kenapa aku malah memperkenalan Jennifer pada Lindsay.


Seakan memberi tahunya bawah aku dan Jenn hanya sebatas sahabat. Oh Tuhan kenapa aku merasa terpergok seperti ini, ingin Lindsay tidak salah paham dengan hubungan ku dan Jennifer.


Tapi seketika aku merasa bahagia ketika melihat senyum yang mengembang di bibir wanita yang telah mengandung darah dagingku itu.


Aku menghela nafas lega seakan merasa bahwa kekasihku tidak salah paham terhadap ku.


Apa? kekasih? ya Tuhan Lindsay bukan kekasih ku, dia hanya wanita yang rela menyerahkan rahimnya untuk kehidupan anakku.


"Hai, aku Jennifer sahabat Ken, tapi sebentar lagi kami akan menjadi sepasang kekasih"


DUUAARRR ... !!!


Telinga ku bagai di sambar petir ketika mendengar Jennifer mengatakan itu.


Bersambung ...

__ADS_1


Hihihi gimana petirnya ikut nyamber akak Reader gak โšกโšกโšกโšก๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคฃ


Maaf masih banyak typo ya, besok aku revisi ulang ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™ˆ


__ADS_2