
Happy Reading βΊοΈ
Kenzo menatap Lindsay dengan iba, tidak pernah dia bayangkan bahwa wanita itu akan melakukan hal ini.
Ponsel Kenzo berdering, dilihat nya nama Kevin di layar. Dia ingat akan janjinya semalam bahwa dia akan menyerahkan Lindsay pada atasannya itu.
Tapi saat ini Lindsay dalam keadaan yang tidak baik, akan kah dia mengangkat teleponnya, kalau tidak nanti dia akan dipecat dari perusahaan karena telah berbohong pada Kevin CEO di perusahaannya itu.
"Halo tuan Kevin" ucap Kenzo yang akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
"Kenzo, maaf hari ini aku tidak bisa datang untuk menemui mu, karena aku sedang mengantarkan istriku ke rumah sakit, tolong awasi Lindsay, jangan biarkan dia kabur sampai aku sendiri yang akan membawanya ke kantor polisi"
"Baiklah tuan, serahkan pada saya"
"Aku tidak akan ke kantor dulu, kamu urus klien kita yang akan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan"
"Tapi tuan, hari ini saya izin tidak masuk ke kantor, kondisi saya sedang tidak sehat"
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengurusnya"
Tut ... Kevin mematikan panggilannya.
Kenzo menghela nafas kasar, seperti seseorang yang sedang menyembunyikan buronan rasanya sungguh tidak enak hati.
Tiba-tiba tangan Lindsay bergerak, dia membuka matanya perlahan dan mengerjab beberapa kali.
Kenzo yang melihat itu merasa sedikit tenang, kemudian dia mendekati ranjang dan menyentuh tangan Lindsay.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenzo.
Lindsay menatap pria di hadapannya itu, ada perasaan marah dan kecewa yang terpancar dimatanya.
"Untuk apa kamu menyelamatkanku?" ucap Lindsay lirih.
Memandang tangan yang di pegang oleh Kenzo. Pria itu meremas lembut kemudian mencium punggung tangan Lindsay berkali-kali.
"Lindsay, maafkan aku, maaf karena telah melakukan tindakan bodoh itu padamu" ucap Kenzo.
Lindsay mengalihkan pandangan nya, perasaan nya saat ini benar-benar diliputi rasa penyesalan yang sangat dalam.
__ADS_1
"Hiks, hiks," tiba-tiba wanita itu menitikkan air matanya.
"Kenapa kamu menyelamat ku!! seharusnya biarkan aku mati saja!" seru Lindsay.
Wanita itu mencengkram rambutnya dengan sebelah tangannya, menarik keras frustrasi dengan keadaan yang menimpanya saat ini.
Kenzo yang melihat hal itu menjadi tidak tega, kemudian dia membawa Lindsay kedalam pelukannya.
"Aku tidak ingin kamu mati dengan cara seperti itu, tenanglah Linds, kita akan mencari jalan keluarnya nanti, sebaiknya beristirahatlah sampai kondisi kamu membaik" ucap Kenzo.
Lindsay tidak menjawab, dia hanya bisa menangis meraung meratapi nasibnya.
Sedangkan di sisi lain.
Kevin dan Mira memandang layar monitor di hadapannya itu, nampak sebuah gambar USG calon anak mereka yang masih tampak sebesar biji jagung.
"Itu adalah calon anak kalian, karena usianya kandungannya yang baru menginjak 6 minggu jadi masih terlihat sekecil itu" jelas dokter wanita yang tengah memeriksa kondisi kehamilan Mira.
Kevin dan Mira tersenyum bahagia dan haru, tidak pernah di bayangkan bahwa mereka akan sangat cepat di beri anugrah keturunan menjadi sang penerus keluarga Abraham Benecdit yang kedua.
"Kalau kondisi istri saya baik-baik saja kenapa dia selalu muntah-muntah dok? apa karena Mira keracunan makanan?" tanya Kevin polos.
"Ini hal wajar sayang, apa kamu belum pernah mendengar kata morning sick ness?" ucap Mira.
"Apa itu morning sick ness dok?" tanya Kevin.
"Morning sick ness adalah rasa mual dan muntah pada ibu hamil dalan tiga bulan pertama, apalagi kalau mencium aroma menyengat hidungnya, tapi tidak selalu seperti ini tuan, setiap tubuh orang hamil itu berbeda-beda" jawab dokter wanita itu.
"Apakah tidak ada obatnya, istriku ini juga nafsu makannya berkurang?" tanya Kevin lagi.
"Itu adalah hal wajar tuan"
"Sudah ku bilang kan sayang, itu adalah kondisi yang wajar" ucap Mira.
"Kondisi kehamilan nona Mira saat ini sangat baik dan sehat dan yang paling penting baik-baik saja" ucap sang dokter.
Dokter wanita itu sudah sangat paham dengan kondisi Kevin yang begitu khawatir.
"Sebaiknya kita pulang saja sayang, aku sudah sangat lapar" ucap Mira.
__ADS_1
Kevin mengangguk, kemudian dia memapah Mira untuk bangun.
"Baiklah dok, aku mengerti sekarang, terima kasih" ucap Kevin yang dibalas senyuman dari dokter tersebut.
Kemudian mereka langsung pergi dari ruang pemeriksaan itu.
###
Dalam perjalanan menuju ke apartemen tiba-tiba Mira merasa sedih.
"Sayang, antar kan aku ke makam Stuard" ucap Mira.
"Untuk apa sayang?" tanya Kevin menatap wajah istrinya.
"Entahlah, tiba-tiba aku memikirkan Stuard karena pria itu telah memberikan nyawanya untukku, mungkin dengan aku ber-ziarah ke makam Stuard bisa sedikit menghilangkan bebanku ini" jawab Mira.
"Jangan terlalu memikirkan Stuard sayang dia sudah tenang di sana, aku dengar dari orang-orang kalau kita sering memikirkan sesuatu saat hamil nanti anak kita akan seperti dia, seperti orang yang kamu pikirkan itu"
Mira hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, memang benar apa kata Kevin, kalau dulu Mira sering mendengar itu dari neneknya yang ada di Indonesia, bahwa nanti anak kita akan mirip dengan kelakuan orang yang selalu dipikirkan.
"Dia itu anakmu sayang, bukan anak Stuard, mana mungkin akan mirip dengan Stuard" jawab Mira terkekeh.
"Baiklah kalau itu keinginanmu kita akan mengunjungi makamnya," jawab Kevin sedikit merasa lega karena istrinya itu sudah bisa tertawa.
Kevin segera menyuruh sopirnya untuk mengantarkan Mira ke area pemakaman tempat peristirahatan Stuard.
Sedangkan dirumah sakit.
Kenzo dengan telaten menyuapi Lindsay, meskipun wanita itu selalu menolak untuk makan tapi Kenzo berhasil membujuknya.
"Aku sudah kenyang Ken," ucap Lindsay.
"Baiklah, kalau begitu minum dulu" ucap Kenzo mengambilkan air minum untuk Lindsay.
Wanita itu mengambil gelas yang dibawa Kenzo dan meneguknya setengah.
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara gaduh.
"Kami dari kepolisian dan akan menangkap nona Lindsay yang telah melakukan kejahatan dan menjadi buronan itu selama ini dengan tuduhan pembunuhan yang telah direncanakan."
__ADS_1
Bersambung ...
Maaf masih banyak typo betebaran.πππ»