
Gugup.
Aira sangat gugup saat mobil yang ia naiki mulai memasuki halaman perusahaan SM Corp.
Bahkan di depan sana ia dapat melihat sudah banyak orang yang menunggu.
Luna yang duduk disebelahnya pun dapat melihat dengan jelas jika Nyonya nya ini tengah gelisah.
“Semuanya akan baik-baik saja Nyonya, tenanglah,” ucap Luna, coba menenangkan.
Tapi tak sedikitpun berpengaruh bagi Aira, ia gugup bahkan sangat takut. Takut ia tak bisa melakukan semuanya dengan baik, takut tak bisa berkata-kata saat bertemu direksi yang lainnya dan takut tak pantas untuk duduk di kursi tertinggi SM Corp.
Tadi pagi di hadapan suaminya, Aira bisa bersikap angkuh dan seolah bisa melakukan semuanya dengan baik. Namun kini ia sungguh takut.
Aira hanya mampu meremat kedua tangannya yang yang sudah basah oleh keringat dingin.
Mobil berhenti dan degub jantung Aira makin tak menentu.
Luna turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk sang Nyonya. Sementara pak Basir dan petinggi SM Corp yang lainnya menyambut dengan tangan terbuka.
Bahkan mereka semua tersenyum ramah, membuat Aira sedikit bisa menghembuskan nafasnya lega.
Perkenalan singkat dan mereka semua langsung menuju ruang rapat utama SM Corp.
Luna mengambil alih jalannya rapat ini. Hingga akhirnya waktunya Aira untuk bicara.
Meski takut dan gugup, namun Aira coba berani. Berani untuk melawan rasa takutnya sendiri.
Jika ia terus takut dan bersembunyi, selamanya Ibra akan terus menatapnya hina.
Awalnya Aira memang bicara dengan terbata-bata, namun saat melihat semua direksi yang menatapnya penuh dukungan, membuat Aira akhirnya bicara dengan lancar.
Ia ingat semua ucapan yang sudah diajarkan pak Basir semalam.
Sampai akhirnya rapat ini usai dengan sangat baik dan Aira resmi menjadi CEO SM Corp yang baru.
Jam 11 siang, Luna sudah mengantar Aira untuk menuju ruang kerjanya. Duduk di kursi yang selama ini di duduki oleh suaminya.
Luna bisa mendengar dengan jelas, helaan nafas lega sang Nyonya. Membuat Luna tersenyum kecil, merasa lucu.
__ADS_1
Ia bahkan sampai heran, kenapa Tuan Ibrahim begitu membenci Nyonya Aira. Wanita yang memiliki hati yang tulus, mau berubah dan sholehah.
“Aku baru sadar, gedung ini tinggi sekali dan sangat megah,” ucap Aira setelah ia melihat sekeliling.
Sedari tadi gugup menguasai sampai ia tak sempat untuk melihat sekitar. Namun sudah duduk disini membuat ia baru sadar.
Bahwa kini ia berada di tempat yang sangat indah.
“Gedung ini memiliki 30 lantai Nyonya, dan ruangan anda ini berada di lantai paling atas. Semua ruang rapat dan pertemuan juga berada di lantai ini,” jelas Luna dan Aira pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jam 2 setelah anda istirahat, saya akan kembali kemari dan mengajak anda untuk berkeliling,” timpal Luna lagi dan Aira mengangguk.
Tak berselang lama setelah Luna pergi, ada dua office girl yang masuk dan membawakan makan siang untuk Aira.
Aira bahkan langsung bangkit dari duduknya dan menerima makan siang itu.
“Tidak perlu Nyonya, biar kami yang siapkan di atas meja,” ucap salah satu office girl itu, namun Aira sungguh merasa tak enak hati.
Pasalnya kedua office girl ini adalah wanita paruh baya.
“Jangan begitu bude, biar saya bantu,” jawab Aira pula.
Yang makan hanya dia sendiri, namun porsinya begitu banyak. Ada pula beberapa irisan buah yang tersedia di sana.
“Selamat makan siang Nyonya,” ucap kedua office girl itu dan segera berlalu dari sana.
Sedangkan Aira hanya mengangguk sebagai jawaban lalu duduk di kursi sofa.
“Bagiamana Yusuf di rumah ya? Dia menangis atau tidak,” gumam Aira. Bukannya langsung makan. Namun ia malah teringat akan sang anak.
Membayangkan wajah Yusuf yang entah, di bayangannya hanya ada Yusuf yang menangis, Yusuf yang rewel dan Yusuf yang terus mencarinya.
Pikiran-pikiran yang membuatnya ingin segera pulang.
Lamunan Aira putus saat ia mendengar pintu ruangannya kembali di ketuk. Tanpa tahu siapa yang mengetuknya, Aira mempersilahkan orang itu untuk masuk.
Dan betapa terkejutnya Aira saat ia melihat siapa yang datang.
Ibrahim, sang suami.
__ADS_1
Berjalan masuk dan menatapnya dengan tatapan meremehkan.
“Jadi ini CEO barunya,” ucap Ibrahim, ia langsung menahan tubuh Aira yang hendak bangkit dari duduknya. Menahan Aira agar tetap duduk lalu ia duduk pula disebelahnya.
“Bagaimana? Apa rasanya menyenangkan duduk di kursi itu?” tanya Ibrahim lagi, ia menatap lekat wajah Aira yang kini di tutup riasan tipis, makin membuat Aira terlihat mempesona.
“Apa harta kakek Pram masih kurang? Sampai-sampai kamu merias diri untuk merayu pria lain,” ucap Ibrahim lagi.
Ia terus bicara sedangkan Aira hanya diam, diam dan terus membalas tatapan Ibrahim tak kalah dinginnya.
Hati sungguh sakit, setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibrahim selalu berhasil membuatnya terluka.
Namun sadar ia tak boleh terlihat lemah, Aira coba mengubur dalam-dalam rasa sakit hati itu.
“Untuk apa kamu kesini? Ini bukan lagi ruangan mu,” balas Aira akhirnya, ia lebih dulu memutuskan tatapan keduanya dan mulai memakan irisan buah di atas meja.
Bersikap seolah kedatangan Ibrahim tidak membuatnya terpengaruh.
Ibrahim yang melihat sikap istrinya tetap angkuh pun berdecih. Semakin lama ia semakin tak mengenal Aira.
“Aku tidak akan berdebat tentang jabatan CEO mu, tapi jangan lupakan kewajiban mu sebagai istri dan ibu,” ucap Ibrahim. Membuat pergerakan tangan dan mulut Aira berhenti seketika.
Sementara Ibrahim menyeringai, jika Aira terus menyerang dengan kelemahannya. Maka Ibrahim pun akan melakukan hal yang sama.
Dan kelemahan Aira adalah bahwa kini ia masihlah istri Ibrahim.
Belum sempat Aira kembali berucap, Ibrahim segera menarik Aira dan mencium bibir sang istri dengan kasarnya.
Bahkan Ibrahim meremaati kedua dada Aira yang penuh. Hingga cairan Asi yang belum sempat ia pompa keluar dan membasahi bajunya.
Aira meronta dan coba mendorong Ibrahim, namun sayang dia kalah tenaga. Air mata yang coba ia tahan akhirnya keluar. Mengalir seirama dengan tubuhnya yang sudah jatuh diatas sofa. Sementara Ibrahim menindihnya dengan begitu kuat.
“Jangan lupakan Aira, bahwa kamu adalah istriku,” ucap Ibrahim, ia menghapus salivanya sendiri yang tertinggal di bibir Aira.
Lalu kembali melumaatnya dengan begitu lembut. Tidak kasar seperti tadi. Dan tidak peduli dimana mereka berada kini. Ibrahim membuat keduanya menyatu.
Membuat Aira merasa jika dia hanyalah seorang pelampiasan hasrat Ibrahim.
Luna yang hendak masuk dan tak sengaja melihat itupun hanya mampu bergeming. Tidak bisa melakukan apapun selain menutup pintunya kembali.
__ADS_1
Lalu berjaga agar tak ada yang masuk ke dalam sana.