Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 47 - Bahagia Versi Sederhana


__ADS_3

Acara syukuran 4 bulanan anak dari Dirga dan Adisty pun berjalan dengan baik. Jam 8 malam pun acara doa sudah usai, kini keluarga pak Basir membagikan santunan untuk  40 anak yatim piatu yang diundang. Ibrahim dan Aira pun ikut membantu untuk membagikan bingkisan kepada para tamu yang hendak pulang.


"Sayang, jika lelah duduklah, biar aku dan yang lain yang membagikan ini," bisik Ibrahim pada sang istri dan Aira pun tersenyum mendapatkan perhatian dari sang suami.


"Aku tidak lelah Sayang," jawab Aira. Sebuah panggilan yang membuat Ibrahim pun tersenyum lebar. Aira memang selalu menuruti semua keinginan Ibrahim, termasuk untuk panggilan Sayang ini dan sifat Aira yang penurut itulah yang membuat Ibrahim semakin mencintai Aira. Sejenak keduanya saling tatap dengan bibir yang saling mengukir senyum.


Siapapun orang yang melihat kedekatan mereka pasti melihat jika banyak cinta disana.


Pak Basir dan ibu Rachel yang melihat pun tidak henti-hentinya mengucapkan syukur. Mereka sangat bahagia Ibrahim kini sudah benar-benar berubah. Seolah sudah menemukan pasangan yang pas untuk hidupnya.


Ibrahim kini lebih tenang, sopan santun dan menghargai sesama. Tidak seperti dulu yang sombong dan selalu menatap ke atas.


Aira membawa banyak perubahan baik untuk Ibrahim.


Jam setengah 9 rumah pak Basir sudah sepi, Ibrahim dan Aira yang pulang paling akhir pun kini berpamitan pada tuan rumah.


Aira bersikap biasa saja, ia bahkan tidak hanya memeluk ibu Rachel, namun juga memeluk Adisty dan mengucapkan selamat atas kehamilan ini. Juga mengelus sayang pucuk kepala Dona, anak kedua pak Basir dan ibu Rachel yang kini masih kuliah semester 2. Namun saat hendak pamit kepada Dirga, Dirga tiba-tiba menerima telepon.


Aira tak berpikiran buruk apapun, mungkin itu memang telepon yang mendesak. Ibrahim pun berpamitan pula pada semua orang, juga mengucapkan selamat kepada Adisty sama seperti yang dilakukan oleh sang istri. Dan saat itu Dirga juga belum selesai dengan teleponnya.


Akhirnya Ibrahim dan Aira pulang diantar oleh pak Basir, ibu Rachel dan semuanya hingga sampai di teras rumah.


"Maafkan Dirga Ya, dia sedang ada kasus, jadi sibuk dengan ponselnya," ucap ibu Rachel pada Ibrahim, Ibrahim dan Aira sudah seperti anaknya sendiri. Terlebih Ibrahim adalah anak yatim piatu, bahkan kakeknya pun telah meninggal.


"Iya Bu, tidak apa-apa," jawab Ibrahim.


Dan setelahnya Ibrahim dan Aira masuk ke dalam mobil dan segera pulang.


"Kamu lelah?" tanya Ibra pada sang istri, kini mobil mereka sudah mulai memasuki jalan raya. Gemerlap cahaya gedung-gedung tinggi kota Jakarta pun nampak begitu Indah.


Aira menoleh pada suaminya, mengelus lembut lengan kiri sang suami dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku tidak lelah, apa mas mau minum?" tawar Aira dan kini Ibrahim menganggukkan kepalanya.


Aira langsung membuka sebotol air mineral yang memang selalu dia bawa dan memberikannya pada sang suami. Ibrahim menyetir dengan hati-hati dan mulai minum.


Malam itu mereka saling menggenggam selama perjalanan pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sonya.


Awal-awal ia tinggal di dalam penjara memang terasa berat, bahkan kebenciannya pada Aira semakin bertambah banyak.


Sonya sampai lelah sendiri dengan kebencian dan semua keluhannya. Sampai dia lupa untuk tetap bersyukur dengan hidup yang ia peroleh hari ini.


Di dalam penjara sana, ia tidak hanya dikurung di dalam sel. Setiap hari jumat selalu ada pengajian rutin untuk membuka mata hati para tahanan.


Tentang hidup didunia ini yang bukan hanya sekedar memikirkan dunia semata, namun juga harus memikirkan kehidupan di akhirat kelak. Apa yang akan kita bawa untuk hidup di keabadian sana.


Sonya terus menangis, dari semua itu tidak sekalipun ia pernah belajar.


Ya Allah, lirih Sonya di dalam hati.


Sampai nyaris setengah tahun ia ditahan di dalam penjara barulah Sonya benar-benar bisa menerima semuanya. Menerima bahwa ia adalah seorang pembunuh dan harus mendapatkan hukuman ini. Menerima bahwa Ibrahim bukanlah jodohnya dan menerima bahwa Aira bukanlah musuhnya.


Selama di dalam penjara pun Sonya menjalani pengobatan untuk penyakitnya. Miom yang ada di dalam rahimnya berhasil mengecil, namun tidak bisa dihilangkan. Untuk membuat Miom itu tidak kembali membesar, maka Sonya harus menjalani hidup sehat, makanan sehat dan berpikir yang positif.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan lagi Yusuf genap berusia 2 tahun, anaknya itu pun kini sudah semakin aktif lari kemana-mana.


Aira pun mulai mengurangi jam menyusu Yusuf padanya, agar saat disapih nanti Yusuf tidak rewel apalagi sampai demam.

__ADS_1


Menjelang 2 tahun usia Yusuf, Ibrahim mengajak Aira untuk kembali berkonsultasi pada dokter Irna tentang rencana mereka untuk menambah momongan. 


Sehabis makan siang bersama, Ibrahim, Aira dan Yusuf bersama-sama menuju rumah sakit milik keluarga mereka. 


Awalnya Ibrahim ingin memanggil dokter Irna saja untuk memeriksa mereka di rumah. Apalagi semua peralatan kehamilan bahkan untuk melahirkan sudah tersedia di rumah ini, di ruangan khusus saat Aira melahirkan Yusuf dulu.


Tapi Aira menolak, mengatakan jika mereka kan mau konsultasi bukan memeriksakan kandungan. 


Akhirnya Ibrahim pun menurut saja, kini Ibrahim, Aira serta Yusuf sudah berada di rumah sakit. Duduk di kursi tunggu, menunggu nomor Antrian mereka dipanggil.


"Kenapa pakai antri sih sayang, kita bisa langsung masuk tanpa menunggu seperti ini," ucap Ibrahim pada sang istri, bahkan jika mereka mau, mereka bisa menunggu di ruang VIP dan memanggil dokter Irna kesana. 


Aira hanya terkekeh, dia tidak mau menikmati semua itu, menunggu bersama sang suami seperti ini adalah sesuatu yang membahagiakan untuknya. 


Bahagia versi sederhana yang selalu Aira idam-idamkan. 


"Kita antri saja, lagipula kita punya banyak waktu untuk bersama-sama," jawab Aira, ia memeluk lengan suaminya erat, sementara Ibrahim memangku Yusuf yang tidak bisa tenang. Maunya lari kemana-mana.


Belum sempat nomor antrian mereka dipanggil. Ibrahim melihat pak Basir dan ibu Rachel di ujung sana, melihat kedua orang itu dengan wajahnya yang cemas.


"Sayang, ibu bukan ibu Rachel dan pak Basir? kenapa mereka disini? ayo kita temui dulu," ucap Ibrahim, Aira pun mengikuti arah pandang sang suami dan melihat pak Basir dan ibu Rachel disana. 


Makan tanpa menunda, Ibrahim dan Aira menghampiri keduanya.


"Ibu," panggil Aira seraya mendekat. 


"Aira, masya Allah kamu disini Nak," sahut ibu Rachel dengan wajahnya yang masih tidak tenang. Mereka berdiri di depan ruang  persalinan. 


Ibrahim dan Aira cukup tahu jika miungkin saja Adisty sedang melahirkan. Lalu Digra menemani istrinya itu di dalam.


"Bu, apa Adisty melahirkan?" tanya Aira dan ibu Rachel pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Namun raut wajah cemas ibu Rachel dan pak Basir membuat Aira dan Ibrahim saling pandang. Tanpa banyak bertanya, Aira dan Ibrahim pun mendoakan keselamatan dan kesehatan untuk  Adisty dan anaknya.


__ADS_2