
Selesai melaksanakan salat Maghrib berjamaah Aira menggendong Nusa di dalam dekapannya, sedangkan Ibrahim memangku Yusuf dan mereka masih bersama-sama bersimpuh di atas Sajadah.
Aira menunduk menatap lekat wajah Nusa yang sedang terlelap. bayi mungil tanpa dosa dan tidak tahu apa-apa ini telah kehilangan ibunya, seketika hati Aira kembali terenyuh.
Matanya kembali berkaca-kaca namun ia tahan sekuat tenaga agar air mata air itu tidak jatuh.
Namun Ibrahim dapat melihat dengan jelas kesedihan sang istri. Ibrahim tahu betapa lembutnya hati istrinya itu.
Namun Andai kata mereka harus merawat Nusa hingga dewasa nanti, tetap saja ada rasa yang mengganjal di hatinya.
Nusa masih memiliki Ayah, masih memiliki kakek dan nenek dan Ibrahim yakin mereka semua bisa merawat Nusa dengan baik, bukan istrinya.
"Aira," panggil Ibrahim dengan suaranya yang pelan.
Aira pun mengangkat wajahnya dan membalas tatapan sang suami.
"Iya Mas, kenapa?" tanya Aira.
"Besok sebaiknya kita Antar Nusa ke rumah Ibu Rachel."
Deg! mendengar itu seketika hati Aira berdenyut. ternyata Ia dan Ibrahim tidak sepemikiran, ternyata suaminya ingin Nusa dikembalikan.
Aira hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar karena lidahnya pun kelu untuk buka suara. Karena sejatinya apapun keputusan Ibrahim Ia pasti akan turuti.
Aira percaya baik buruknya tentang Nusa sudah Ibrahim pikirkan matang-matang.
"Iya Mas," jawab Aira pasrah. malam ini airnya tidak menyusui Nusa secara langsung ia menggunakan dot. Bahkan beberapa kali Aira mencoba memberikan susu formula kepada Nusa, membuat agar bayi mungil Ini tidak ketergantungan kepada dirinya.
Dan Ibrahim yang melihat usaha istrinya itu pun merasa terenyuh. Aira selalu saja bisa membuatnya semakin mencintai. Sifat penurut Aira dan bicaranya yang lemah lembut, selalu bisa membuat dia tersentuh.
Di pertiga malam saat Nusa bangun, Ibrahim mengambil alih tugas istrinya untuk memberi susu kepada Nusa.
"Maafkan aku Aira, Bukan aku tidak ingin merawat Nusa. Tapi Nusa masih memiliki keluarganya sendiri. Nusa masih memiliki ayahnya, juga kakek dan nenek yang lengkap. Aku yakin mereka akan menjaga Nusa dengan baik," jelas Ibrahim, tubuhnya bergerak menimang Nusa yang berada di dekapan nya, juga satu tangannya yang memposisikan dot susu di dalam mulut bayi mungil ini. sementara Aira duduk di sofa memperhatikan.
__ADS_1
"Iya Mas, kamu benar. aku saja yang selalu berpikir berlebihan tentang Nusa," jujur Aira.
Jiwa keibuan merasa tidak rela jika Nusa harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.
Hanya membayangkannya saja kini air mata air kembali jatuh. Namun dengan segera ia menghapus air matanya sendiri.
Dan malam pun berlalu hingga pagi menjelang.
Setelah sarapan dan bersiap, Aira Ibrahim, kedua anaknya beserta Pak Imam dan Ibu Asma pergi mengunjungi rumah Pak Basir dan Ibu Rachel. Menggunakan dua mobil beriringan mereka sampai di rumah Pak Basir.
Mereka kemari untuk mengantarkan Nusa pulang ke rumah keluarganya.
Aira terus memantapkan hati meyakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang tepat.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam akhirnya pintu rumah Pak Basir dibuka dan yang membukanya adalah ibu Rachel sendiri.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu. Lalu Pak Basir dari arah dalam pun menghampiri mereka tapi Dirga tidak keluar, kata Pak Basir Dirga masih mengurung dirinya di dalam kamar.
Mendengar itu hati Aira berdesir, mulai merasa ragu untuk meninggalkan Nusa di rumah ini. Karena kini semua orang di rumah ini masih dalam keadaan berduka. Aira sungguh takut Nusa akan bisa merasakan kedukaan itu, hingga akhirnya bayi mungil ini terus menangis.
Aira percaya Ibu Rachel tidak akan mungkin menyia-nyiakan Nusa.
Tak berselang lama setelah saling menegur sapa, Ibrahim pun menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah ini, yaitu untuk mengembalikan Nusa.
Berharap dengan kehadiran Nusa di rumah ini akan membuat semua orang kembali ceria, kembali memiliki semangat hidupnya yang baru, memiliki tujuan yang baru sehingga tidak terpuruk dalam kesedihan terus menerus.
Dan Aira yang mendengar itu pun mengulas senyumnya kecil, membenarkan pikiran sang suami.
Bodohnya kenapa Ia tidak sampai terpikir ke sana.
Dan Pak Basir pun menyambut dengan tangan terbuka bahkan berterima kasih sebanyak-banyaknya selama ini keluarga Ibrahim sudah bersedia untuk merawat Nusa.
Hari yang Aira kira akan penuh dengan air mata, ternyata berakhir dengan perasaannya yang lega.
__ADS_1
Saat itu mereka memang tidak bertemu dengan Dirga, namun kini semua urusan tentang Nusa sudah usai. Bayi mungil itu setelah kembali ke dalam pelukan keluarganya.
Sebelum zuhur Ibrahim dan semua keluarganya pamit untuk pulang. Di sepanjang perjalanan mereka pulang Aira terus tersenyum juga menggenggam 1 tangan suaminya yang bebas dari menyetir.
Ibrahim yang melihat senyum itu pun merasa lega juga. Seolah beban yang selama ini bersarang di hatinya sudah menghilang.
"Apa yang membuatmu bahagia seperti itu?" tanya Ibrahim kini mobil mereka berhenti di lampu merah, di dalam mobil ini hanya ada Aira dan Ibrahim. sementara Yusuf berada di mobil belakang bersama dengan kakek dan neneknya.
"Mas benar, dengan adanya Nusa di tengah-tengah keluarga Pak Basir akan menjadi pelipur lara mereka," jawab Aira.
"Dan aku tidak berpikir sampai sejauh itu," timpal Aira lagi, jujur.
"Aku terus saja sibuk sendiri, mencemaskan ini dan itu yang belum pasti akan terjadi."
Mendengar itu itu Ibrah mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah Aira.
"Itu karena kamu sangat menyayangi Nusa," balas Ibrahim dan Aira hanya tersenyum sebagai tanggapannya.
Aira merasa sangat-sangat bersyukur kini Ibrahim benar-benar sudah berubah. Bukan lagi Ibrahim yang berpikiran pendek, menyelesaikan semua masalah dengan emosi.
Tapi kini Ibrahim bahkan memiliki pemikiran yang jauh lebih matang dibanding dirinya. Suaminya benar-benar sudah berubah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berlalu.
Kini Minggu sudah berganti bulan, bahkan Aira pun sudah dinyatakan hamil kembali.
Nusa juga tumbuh menjadi anak yang sehat. Nusa kini sudah bukan lagi menjadi Nusa, karena Dirga sudah mengganti namanya menjadi Akbar. Aira dan Ibrahim pun mengetahui tumbuh kembang anak itu melalui Pak Basir dan ibu Rachel. Karena semenjak dikembalikan ke keluarganya, Aira dan Ibrahim tidak pernah bisa menemui Akbar lagi. Dirga tidak mengizinkan anaknya kembali bertemu dengan Aira dan Ibrahim.
Namun baik Aira ataupun Ibrahim tidak merasa keberatan sedikitpun atas keputusan Dirga itu, asalkan Akbar tumbuh dengan sehat maka mereka pun sudah merasa bersyukur.
Dan kini usia kehamilan Aira sudah memasuki usia 2 bulan. Yusuf pun sudah menjadi bayi yang berusia 2 tahun lebih, semakin aktif dan tidak bisa lagi tinggal diam. terkadang Yusuf bahkan sampai masuk ke kolam ikan milik kakeknya.
__ADS_1
Keceriaan Yusuf itu makin membuat rumah ini terasa berwarna.