
1 jam berlalu dan istirahat Aira benar-benar selesai, keluar dari dalam kamar istirahatnya dengan wajah yang lebih segar.
Ia kembali duduk di kursi kerja dan memeriksa beberapa dokumen, membaca ulang kasih meeting tadi pagi dan memperbarui apa-apa yang kurang pas.
Jam 4 sore Aira memanggil Luna, mengatakan jika ia akan pulang lebih awal hari ini.
Luna pun mengangguk patuh, lalu mengiringi langkah sang Nyonya untuk turun ke Lobby dan pulang.
Sampai di rumah lagi-lagi ia bertemu dengan Sonya yang menatapnya dengan sinis. Tapi kali ini tak ada lagi ketakutan yang dirasa oleh Aira, siapa pun yang berani mengganggunya dan Yusuf dia akan lawan.
“Wah wah wah, ibu CEO baru pulang,” ucap Sonya, ia menghampiri Aira dan kini berdiri persis dihadapan ibu Yusuf ini.
“Bagaimana rasanya jadi seorang pemimpin? Enak ya? Enak ya jadi orang kaya baru?” ledek Sonya lalu tergelak sendiri, sementara Aira hanya tersenyum kecil, tak lupa juga ia menatap iba pada istri pertama suaminya ini.
Tatapan yang membuat Sonya merasa tak suka. Bahkan Aira pun berani membalas tatapannya.
“Jaga sikapmu!” hardik Sonya, ia mencengkram dagu Aira dan secepat kilat pula Aira menepisnya.
“Jaga sikap mbak Sonya di rumah ini, aku bisa mengusir mbak kapanpun aku mau,” balas Aira sengit.
“Rumah ini sudah atas namaku, camkan itu!” ancam Aira pula, lengkap dengan tatapan matanya yang begitu tajam dan dingin.
Seketika membuat Sonya bungkam seribu bahasa. Ia bahkan tak berani lagi menyela ataupun menghentikan langkah Aira yang pergi meninggalkan dirinya di dekat tangga.
Hatinya bergemuruh, menahan kesal dan amarah yang tak terluapkan. Ia hanya bisa menatap benci punggung aira yang semakin lama semakin menjauhinya.
“Dasar jalaang!” umpat Sonya.
Masih dengan deru napasnya yang memburu, Sonya mendengar derap langkah menghampiri dirinya. Saat menoleh, ia melihat sang suami yang pulang juga.
Ibrahim datang dan buru-buru ia menghampiri suaminya itu. Terus merayu sang suami agar Ibrahim mau memaafkan dirinya.
“Mas,” sapa Sonya, kekesalannya pada Aira tadi menghilang begitu saja dan diganti perasaan bahagia saat melihat sang suami.
“Istirahat di kamarku ya? Aku akan memijat kakimu,” pinta Sonya sungguh-sungguh, bahkan ia mengambil tas kerja yang di pegang oleh Ibrahim, lalu perlahan menarik tangan suaminya agar Ibrahim mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Ibrahim yang sedang merasa lelah pun hanya bisa menurut. Sore itu ia tak masuk ke kamar Aira, melainkan masuk ke dalam kamar istri pertamanya.
Sonya melayani Ibrahim dengan sebaik mungkin, melepaskan jas bahkan sepatu. Lalu menyiapkan air hangat di dalam bathup dengan aroma yang menenangkan.
Membuat Ibrahim merasa tenang dan dihargai sebagai seorang suami.
Sudut hati Ibrahim mengatakan, jika seharusnya ia memang memaafkan Sonya. Apapun kesalahan istri pertamanya ini tetap tak bisa menghapus bakti Sonya selama 5 tahun lebih menjadi istrinya.
“Mas, aku buatkan teh hangat ya?” tawar Sonya pula, dan dilihatnya Ibrahim yang menggeleng. Ibrahim malah menepuk sisi kosong disebelahnya, kini ia sedang duduk disisi ranjang.
Dengan senang hati Sonya duduk di sana, bahkan terus menatap lekat wajah sang suami yang begitu ia rindukan.
“Aku tidak akan menceraikan mu selama kamu bersikap baik seperti ini,” ucap Ibrahim. Sebuah ucapan yang membuat senyum Sonya semakin lebar.
“Dan tentang Yusuf, berusahalah terus untuk bisa menyayangi dia seperti anakmu sendiri,” jelas Ibrahim pula.
Sonya hanya diam dan menganggukkan kepalanya patuh. Ia sungguh merasa bahagia, mengetahui Ibrahim kembali memperlakukannya dengan baik seperti ini.
Sonya berusaha mengikis jarak dan berniat menjangkau bibir sang suami, namun belum sampai pada bibir itu, Ibrahim lebih dulu memalingkan wajahnya.
“Aku belum selesai bicara,” ucap Ibrahim.
Saat itu juga Sonya merasakan sebuah firasat buruk, merasa jika ucapan Ibrahim selanjutnya bukanlah hal yang baik untuknya.
“Aku tahu semua yang kamu lakukan selama berada di luar rumah, aku tau beberapa kali kamu bermalam di hotel. Tapi saat melihat itu aku tidak merasa marah sedikitpun, kamu tau kenapa? Karena cintaku untukmu sudah tidak ada,” jelas Ibrahim, seketika tubuh Sonya bergetar. Perasaan takut itu tiba-tiba menguasai dirinya.
Ibrahim pun tidak tahu, kapan pastinya perasaan itu hilang dari dalam hatinya. Kini semua yang ia rasa hanya tentang Aira, benci pada Aira yang membuatnya tidak bisa mencinta.
“Jadi sadarlah akan posisimu, kamu hanya istri pertamaku, tidak lebih, hanya sebuah status,” timpal Ibrahim lagi.
Sementara Sonya diam seribu bahasa, tak ada satupun kata yang bisa ia ucapkan untuk membela diri.
Ibrahim bangkit dari duduknya, mengelus pucuk kepala Sonya dengan lembut lalu segera keluar dari sana.
Kepergian Ibrahim itu membuat air mata Sonya langsung jatuh. Ia membodohi dirinya sendiri berulang kali. Mengutuk kekhilafan yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
Kini tak ada satupun yang bisa ia lakukan, selain terus menjadi istri pertama Ibrahim, meski istri yang tidak dicintai.
Tangis Sonya pecah, ia terus memukuli dadanya yang terasa sesak. Kenangan kelakuan bejatnya di hotel bersama pria lain kembali terngiang diingatan, makin membuatnya benci pada dirinya sendiri.
Saat itu ia mabuk dan tanpa sadar melakukan perbuatan hina itu. Kemudian kembali terulang karena merasa telah terbiasa.
“Semua ini karena Aira, semua ini karena AIRA!” kesal Sonya. Tak ingin terus menyalahkan dirinya sendiri terus, Sonya pun menumpahkan semua kesalahannya pada Aira.
Seorang wanita yang membuatnya hidup hina seperti ini.
Dan Saat Ibrahim keluar dari dalam kamar Sonya, tatapannya langsung bertemu dengan Aira yang juga keluar dari dalam kamarnya dengan menggendong Yusuf.
Ibrahim berjalan menghampiri dan Aira menutup pintu hendak turun ke lantai 1.
“Berikan Yusuf padaku,” pinta Ibrahim saat ia sudah sampai di hadapan Aira.
Aira tak bisa menolak, bagaimanapun Yusuf memanglah anak kandung Ibrahim.
Dengan hati-hati Ibrahim mengambil Yusuf, digendongnya dengan sayang bahkan berulang kali diciumi.
“Anak ayah sayang,” ucap Ibrahim pada sang anak.
Lalu membawa Yusuf untuk ikut dengannya ke ruang kerja.
“Besok kita main sama-sama ya sama mama Sonya?’ tawar Ibrahim, ucapannya itu masih terdengar oleh Aira yang masih berdiri diposisi yang sama. Melihat kepergian Ibrahim bersama Yusuf.
Hanya mendengar Ibrahim, Yusuf dan Sonya kan menghabiskan waktu bersama, hati Aira merasa berdesir. Ada rasa tak terima di dalam sana.
Ia hanya ingin Yusuf terus bersama dirinya dan ...
Juga Ibrahim.
Aira pun akhirnya menghela nafas, mencoba tenang, mencoba tak terpancing dan menjalani ini semua dengan baik.
Bagaimana pun dirinya, Ibrahim dan Sonya memang terikat dalam sebuah hubungan rumah tangga.
__ADS_1