
Hari ini Aira pulang sangat terlambat, jam 8 malam ia baru menyelesaikan semua pekerjaannya. Sehabis magrib tadi ia sudah menelpon bik Sumi, sambungan video call untuk melihat sang anak.
Mengobati rasa bersalahnya karena tak memiliki waktu yang banyak bersama Yusuf.
Sabar sayang, setelah ini kita akan terus bersama. kata-kata itulah yang Aira ucapkan sebelum memutus sambungan teleponnya tadi.
Membuatnya kembali bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaan.
"Mari Nyonya," ucap Luna, mempersilahkan sang Nyonya untuk memimpin langkah keluar dari ruang CEO.
Aira jalan di depan sementara Luna mengikuti.
"Sebaiknya kita lihat studio 7 dulu, saat ini ada siaran langsung kan?" tanya Aira dan Luna menjawab Iya dengan suaranya yang tegas.
Mereka lantas turun ke lantai 20, lalu berjalan menuju studio 7. Acara siaran langsung Mata-Mata, bintang tamunya adalah beberapa pengacara muda, Dirga menjadi salah satu bintang tamunya.
Aira dan Luna masuk ke ruang pengawasan. Dari sana ia bisa melihat jalannya acara dari berbagai sudut kamera. Bahkan melihat pula rating acara ini secara langsung.
Sudut bibir Aira tersenyum, saat melihat rating acara itu berada di nilai yang cukup bagus.
Menandakan bahwa para pemirsa menyukai bintang tamu dan topik pembicaraan malam ini.
Senyum Aira makin mengembang saat ia melihat satu kamera yang hanya mengambil gambar Dirga. Anak pak Basir dan ibu Rachel yang selalu bersikap dingin padanya, namun nyatanya bisa tersenyum juga.
Orang-orang kota memang aneh, memiliki banyak kepribadian. Batin Aira, memilih berpikir lucu tentang semua orang.
"Ayo pergi," ucap Aira pada sang asisten dan Luna menganggukkan kepalanya patuh.
Aira memang sudah menyukai pekerjaannya ini. Namun semuanya terasa hampa saat ia tiba di rumah. Aira tidak ingin hidup seperti ini. Ia ingin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Hanya bersama Yusuf, Aira yakin akan merasakan kebahagiaan itu.
Tidak disadari oleh Aira, saat ia keluar dari studio 7, Ibrahim melihat langkahnya.
Larut malam tak pulang, Ibrahim berniat ingin tahu apa yang dilakukan istrinya itu. Namun ternyata Aira malah hanya melihat Dirga di sana.
Kemarahan Ibrahim kembali tersulut, ia bahkan mengepalkan tangannya kuat dan menatap Aira dengan kebencian yang membuncah.
__ADS_1
Secepat yang Ibrahim bisa, ia segera menyusul Aira. Bahkan dengan segera menarik tangan istrinya itu agar mengikuti langkahnya.
"Ikut aku!" ucap Ibrahim, ia membentak hingga membuat Aira tersentak.
Luna bahkan bergegas cepat untuk menghentikan sang Tuan.
"Tuan Ibra, saya mohon jaga sikap Anda, lepaskan Nyonya Aira," pinta Luna, ia bahkan tak segan untuk membalas tatap sang Tuan. Luna pun tak bisa tahan jika melihat Nyonya Aira yang selalu di sakiti seperti ini.
Dan melihat sikap Luna itu Ibrahim malah berdecih.
"Minggir lah jika tidak ingin ku pecat!" ancam Ibra, kemarahan Ibrahim sudah sampai di ubun-ubun dan kini Luna malah memancing amarahnya.
Aira mencoba melepaskan cengkraman sang suami yang terasa sakit, namun tak membuahkan hasil.
"Lepas Mas, tanganku sakit!" pinta Aira pula. Tapi Ibrahim tidak peduli. Ia terus menarik Aira dan melewati Luna begitu saja.
Hingga akhirnya Ibrahim dan Aira kini berada di dalam lift berdua.
"Mas, kamu apa-apaan sih! tanganku sakit," keluh Aira, ia masih berusaha melepaskan tangan ku namun Ibrahim tidak sedikitpun merasa iba.
"Diam! jangan banyak bicara!"
"Kamu terlalu kekanak-kanakan Mas, tanpa sebab kamu marah, bahkan tak malu bertengkar di tempat umum seperti ini," ucap Aira, kini suaranya pun terdengar lebih dingin. Aira sungguh lelah, sangat sangat lelah atas sikap suaminya itu.
Berulang kali Ibrahim selalu memperlakukannya dengan kasar tanpa menjelaskan apa salah Aira.
Berulang kali Ibrahim memarahinya tanpa sebab. Lalu mengambil kesimpulan sesuka hati tanpa peduli apa kebenarannya.
"Kamu bicara tentang malu? lalu dimana malu mu? semalam kamu bilang mencintai aku, tapi malam ini kamu pulang larut malam hanya untuk melihat pria lain," jawab Ibrahim panjang lebar, namun Aira sungguh tak tahu kemana arah pembicaraan Ibrahim.
Tak tahu apa lagi yang kini di tuduhkan oleh suaminya itu.
"Sudahlah Mas, aku capek, sangat capek, bisakah kita berpisah tanpa ada pertengkaran seperti ini?" tanya Aira dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.
Sementara Ibrahim semakin marah tiap kali mendengar jawaban sang istri. Seolah semua jawaban Aira itu membenarkan semua prasangka di dalam hatinya. Bahwa Aira ingin mereka berpisah karena Dirga. Karena Aira menyukai pengacara itu.
"Baiklah, kamu ingin kita berpisah tanpa ada pertengkaran?" tanya Ibrahim, ia masih mencengkram erat tangan Aira, bahkan kini menatap sang istri dengan tatapannya yang tajam pula.
__ADS_1
Dilihatnya Aira yang mengangguk kecil dan Ibrahim langsung tersenyum smirk.
Ting!
Pintu lift terbuka saat mereka sampai di lobby. Ibra lalu menarik Aira untuk kembali mengikuti langkahnya yang lebar.
Tubuh ringkih Aira tertarik dan hanya bisa pasrah atas perlakuan sang suami.
"Masuk!" titah Ibrahim, ia bahkan mendorong Aira untuk masuk ke dalam mobilnya yang berada di basement kantor.
Aira masuk di kursi tengah dan segera di susul oleh Ibrahim.
"Kamu ingin kita berpisah tanpa ada pertengkaran? baiklah, kalau begitu lakukan kewajiban terakhirmu sebagai istriku," ucap Ibra dan seketika itu juga membuat tubuh Aira bergetar, rasa takut itu tiba-tiba menguasai dirinya. Apalagi saat melihat Ibra yang menatapnya dengan tatapan entah.
Aira menggelengkan kepalanya saat Ibrahim mulai mengikis jarak.
"Jangan seperti ini Mas, jangan perlakukan aku seperti ini," pinta Aira, air matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Namun Ibrahim sungguh tak peduli.
Ibrahim mencengkram erat kedua tangan Aira dan memulai permainannya. Memagut bibir ranum sang istri untuk terakhir lagi. Meremaati semua yang ia mau sesuka hati.
Aira menangis, namun setiap air mata yang jatuh tertanggal pula satu per satu baju dari tubuhnya. Sampai akhirnya penyatuan itu tak bisa lagi di hindari oleh Aira.
Hentakan Ibrahim sungguh membuatnya sakit, bahkan perutnya terasa tercabik-cabik.
"Mas, sakit," rintih Aira.
Pergerakan kasar Ibrahim terhenti saat merasa sesuatu mengalir dari inti sang istri. Dan saat Ibrahim melihat, itu adalah aliran darah segar.
"Aira, kamu kenapa?" tanya Ibrahim. Ia melepaskan diri dan mulai menatap cemas sang istri. Sementara Aira hanya menangis tak kuasa lagi untuk bersuara. Bukan hanya inti dan perutnya yang sakit. Hatinya pun teramat pedih.
"Aira?" panggil Ibrahim, namun Aira tak lagi menyahutinya. Dan saat Ibrahim memeriksa, mata Aira sudah terpejam. Tubuhnya bahkan langsung ambruk tergeletak di atas kursi belakang.
Secepat yang Ibrahim bisa ia kembali memasangkan baju sang istri, lalu dengan segera menuju rumah sakit.
Ibrahim menggendong Aira, hingga darah segar sang istri mengenai tubuhnya dengan tak tanggung-tanggung.
"Selamatkan istriku!" ucap Ibrahim saat para perawat mulai menyambutnya.
__ADS_1
Ibrahim terduduk di atas lantai, bersimpuh dengan kedua lututnya. Ia teringat saat Aira hamil Yusuf dan mengalami pendarahan.
Membuat Ibrahim yakin jika saat ini Aira pun tengah hamil. Karena nyatanya Ibrahim lah yang menukar obat Aira selama ini. Pil KB jadi pil Penyubur kandungan.