
Setelah saling memaafkan antara Ibrahim, Aira dan Sonya.
Kini keadaan ruang rawat itu sudah terasa lebih tenang, tidak ada lagi terdengar suara isak tangis. hanya terdengar tawa tawa kecil yang keluar dari mulut Aira dan Sonya.
Tawa yang rasanya belum terasa lepas, karena sisa-sisa tangis tadi masih menyisakan sesak di tenggorokan mereka.
"Mamaku sudah mengatakan jika kamu baru saja melahirkan seorang anak perempuan, Apa itu benar?" tanya Sonya dengan bibirnya yang mengukirkan senyum tipis.
Dan Aira pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, namanya adalah Yuna," terang Aira, dia tidak tersenyum lebar ataupun tersenyum tipis. dia hanya menunjukkan wajahnya yang biasa namun menatap penuh perhatian kepada Sonya, Aira sungguh tidak ingin terlihat bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Maafkan aku tentang Yusuf, dulu aku tidak menyayangi Yusuf sebagaimana seharusnya aku menjadi seorang ibu kedua untuknya," balas Sonya.
Saat ini Sonya sungguh ingin bertemu dengan Yusuf, memeluk anak laki-laki itu dengan sayang, penuh penyesalan atas semua yang pernah dilakukannya di masa lalu, tentang dia yang berulang kali menyebut Yusuf adalah anak bodoh.
"Maafkan aku," ucap Sonya lagi saat Aira belum sempat Aira menjawab.
Sonya pun ingin melihat anak Aira yang kedua, memeluk bayi mungil itu andaikan diizinkan. Di usianya yang sudah matang ini Sonya sungguh menginginkan kehadiran seorang bayi di dalam hidupnya.
Sebuah harapan yang tidak pernah terwujud sejak beberapa tahun silam.
__ADS_1
Dan kini rasanya pun Sonya tak kuasa untuk berucap meminta akan hal itu kepada Aira. Sudah terlalu banyak hal yang dilakukan Aira untuknya dan Sonya tidak ingin meminta lebih.
Biarlah keinginannya ini dia simpan sendiri, sampai suatu saat nanti Aira sendiri yang akan menunjukkan anak-anaknya kepada dirinya. Sampai saatnya entah itu kapan Sonya akan kembali bertemu dengan Yusuf.
Sebelum Dzuhur datang Ibrahim dan Aira memutuskan untuk pamit pulang.
Dan Sonya mengukirkan senyum saat melihat kedua orang itu keluar dari ruangan rawatnya.
"Alhamdulilah," ucap Ibu Sahila penuh syukur dia sungguh merasa lega, seolah beban yang selama ini dia tanggung di hati dan di hidupnya nya hilang begitu saja.
Kedatangan Ibrahim dan Aira untuk menemui Sonya, membuatnya benar-benar yakin jika anaknya sudah mendapatkan maaf dari kedua orang itu.
Maaf yang harganya terasa begitu mahal bagi keluarga mereka.
Dan Sonya menjawabnya dengan sebuah anggukan lemah.
"Mah Pah, bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Sonya, membuat kedua orang tuanya langsung menatap ke arahnya dengan tatapan lekat.
"Apa sayang, katakan?" tanya pak Dedi.
"Aku ingin ke makam kakek Pram," ucap Sonya lirih. bahkan mulutnya terasa bergetar ketika mengucapkan satu nama itu.
__ADS_1
Pak Dedi dan ibu Sahila langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias, mereka memang ingin segera mengajak sang anak untuk mengunjungi makan kakek Pram, bersimpuh memohon maaf di depan makam itu.
Mengucapkan maaf secara langsung atas semua kesalahan kesalahan yang pernah dilakukan oleh Sonya kepada kakek Pram.
Menggunakan kursi roda nya Sonya bersama kedua orangtuanya hari itu juga pergi menuju pemakaman kakek Pram.
Sedari turun dari dalam mobil Sonya sudah menangis. Bahkan dalam hatinya dia terus mengucapkan kata maaf kepada kakek Pram.
Hingga akhirnya Kini dia sampai di depan batu nisan sang kakek.
Sonya tidak mampu berkata-kata, lidahnya kelu, masih terbayang dengan jelas di ingatannya saat ia melipat selang pernafasan kakek Pram.
Membayangkan hal itu saat ini Sonya benar-benar merasa menjadi orang yang paling jahat.
Bagaimana bisa dia berbuat setega itu, hanya karena sebuah keinginan yang tak bisa terpenuhi dia sampai menghilangkan nyawa seseorang.
Kek Maafkan aku, bawa lah aku pergi bersamamu kek, batin Sonya.
Dalam hatinya pun terasa beban yang begitu berat, rasanya hanya dengan kematiannya pula lah dia bisa melupakan rasa bersamanya kepada kakek Pramuka.
Menembus nyawa kakek Pram, dengan nyawanya sendiri.
__ADS_1
Jika sudah seperti itu maka semuanya terasa setimpal, hingga tidak lagi jadi beban untuk Sonya.