
Dirga pergi meninggalkan Aira dengan hatinya yang belum merasa lega dan puas.
Selama dia belum mendapatkan jawaban dari Aira, Dirga akan terus merasa ada yang mengganjal di hati. Membuatnya tidak leluasa untuk menjalani hidup.
Dan tak lama setelah kepergian Dirga itu, Ibrahim kembali menghampiri sang istri. Melihat wajah Aira yang nampak pias dan takut. Membuat Ibrahim bertanya-tanya ada apa?
"Sayang, kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ibrahim, dia menarik kursinya untuk lebih dekat dengan Aira dan duduk di samping sang istri. Satu tangannya bahkan menyentuh punggung Aira dengan lembut, memberikan sentuhan agar istrinya ini bisa kembali tenang dan tidak tegang seperti ini.
Ditanya seperti itu membuat Aira mendadak bingung. Dia bingung antara memberitahu tentang kedatangan Dirga kepada sang suami atau tidak.
Ditatapnya wajah Ibrahim yang menatapnya lekat dan penuh perhatian.
Untuk baby moon mereka kali ini Ibrahim sudah melakukan banyak hal untuk membuatnya terus merasa bahagia dan Aira tidak ingin menghancurkan waktu kebersamaan mereka.
Aira membuang nafasnya pelan lalu menggelengkan kepalanya kecil.
Ya, hal tidak penting tentang Dirga, tidak akan Aira sampaikan kepada sang suami. Itulah keputusan yang Aira ambil.
"Tidak ada apa-apa Mas, ayo kita makan," jawab Aira, seraya mengajak sang suami untuk kembali melanjutkan sarapan mereka.
Namun Ibrahim tidak semudah itu percaya, terlebih dari sorot mata Aira dia melihat ada keraguan.
Tapi Ibrahim tidak ingin berdebat di tempat umum seperti ini, akhirnya dia hanya menuruti Aira dan nanti akan bertanya langsung pada sang istri saat mereka berada di kamar.
Selesai sarapan, Ibrahim mengajak sang istri untuk jalan-jalan sebentar, menikmati suasana indah di hotel ini.
Namun sebelumnya Ibrahim kembali mendatangi meja resepsionis di restoran itu. bertanya kepada dua pelayan yang tadi sempat ia minta tolong untuk menjaga istrinya. Sedangkan Aira, Ibrahim minta untuk menunggu di kursi tak jauh dari meja resepsionis. Masih mampu dilihat dengan jelas dari tempatnya berdiri saat ini.
"Pak, apa ada orang yang mendatangi istri saya saat saya pergi tadi?" tanya Ibrahim pada kedua pelayan itu.
"Ada Tuan, seorang pria tadi mendatangi Nyonya Aira, tapi saya kira dia adalah teman Anda dan nyonya. Jika dilihat dari wajahnya dia seumuran dengan anda," jelas salah satu pelayan itu.
__ADS_1
Dan mendengar itu Ibrahim mengerutkan dahinya, pasalnya Aira tidak memiliki banyak teman di Jakarta apalagi di Bali. Ibrahim pun belum mengenalkan Aira kepada semua teman-temannya.
Tidak ingin berprasangka buruk kepada sang istri, Ibrahim pun memikirkan kira-kira Siapa yang menemui istrinya tadi. Hingga akhirnya terbayang wajah seorang pria yang mereka kenal berdua, Dirga.
Ibrahim Lantas menyebutkan ciri-ciri Dirga kepada kedua pelayan itu, dan kedua pelayan itu pun menjawab setuju bahwa Iya ciri-ciri orang itulah tadi yang mendatanginya Nyonya Aira.
Rahang Ibrahim mengeras, dia juga mengepalkan tangannya kuat.
Sampai detik ini setelah banyak waktu berlalu ternyata Dirga masih saja mengusik dirinya dan Aira.
Ibrahim sadar betul jika Dirga memendam rasa kepada sang istri, Andaikan rasa itu tidak ada tidak mungkin Dirga sampai sejauh ini mengganggu mereka.
Bahkan setelah kepergian Adisty, kamu tidak berubah sedikitpun. Batin Ibrahim
Setelah mengucapkan terima kasih kepada kedua pelayan itu dan memberikan tips, Ibrahim pun lantas meninggalkan mereka, kembali menghampiri sang istri dengan senyum yang biasa.
Dirga memang tidak layak untuk mereka bicarakan, Ibrahim pun memilih untuk berpura-pura tidak mengetahui ini semua. namun nanti dia akan membuat perhitungan kepada Dirga.
Hari Berlalu dan baby Moon Aira dan Ibrahim akhirnya usai, hari-hari yang indah dan intim sudah mereka lewati bersama dan kini saatnya untuk kembali ke Jakarta. bertemu dengan sang anak, juga kedua orang tua mereka.
Ibrahim juga sudah merencanakan tentang dia yang akan menemui Dirga secara pribadi.
Tepat jam 2 siang Ibrahim dan Aira sudah mendarat di Bandara Internasional soekarno-hatta, supir keluarga Surya pun sudah menjemput kedatangan mereka. Awalnya Aira dan Ibrahim tidak membawa apa-apa saat pergi ke Bali.
Namun saat pulang sekarang mereka membawa 1 koper yang berisi oleh-oleh. bukan hanya untuk keluarga mereka sendiri akhirnya dan Ibrahim juga memberikan hadiah untuk Pak Basir Ibu Rachel dan Akbar.
Bagaimanapun hubungan mereka dengan Dirga tidak akan merusak hubungan yang sudah terjalin diantara mereka dengan Pak Basir dan Ibu Rachel. Terlebih Akbar yang sudah Aira anggap seperti anaknya sendiri.
Baru saja akan masuk ke dalam mobil, langkah Ibrahim dan Aira terhenti saat mendengar seorang pria memanggil nama Aira.
"Aira," panggil Dirga.
__ADS_1
Yang entah sudah sejak kapan berdiri di sana, tak jauh dari tempat mobil mereka terparkir.
Dan melihat Dirga di sana seketika kemarahan Ibrahim kembali membuncah, ia menggertak kan rahang giginya dan menatap tajam kepada pria tidak tahu diri itu.
Ibrahim bahkan langsung meminta Aira untuk masuk ke dalam mobil sementara dia langsung menghadapi Dirga secara langsung. Dan Aira menurut, dalam hatinya dia terus berdoa agar tidak terjadi keributan.
perasaan was-was yang dirasakan oleh air juga dirasakan oleh super keluarga Suryo.
"Nyonya tenang saja, saya akan melerai mereka jika ada keributan," ucap Sopir itu yang kini sudah duduk di kursi kemudi, dia dan Aira sama-sama memperhatikan Ibrahim dan Dirga dari dalam sini.
Dirga belum sempat berucap namun Ibrahim sudah lebih dulu melayangkan sebuah tinjauan keras di wajah Dirga.
Bugh!
Dan di dalam mobil Aira menjerit. lantas dengan cepat air segera keluar dari dalam mobil.
"Mas!" pekik Aira.
Membuat perhatian Ibrahim teralihkan kepadanya dan memberi kesempatan Dirga untuk bangkit dan membalas tinjuan itu.
Bugh!
Kini wajah Ibrahim yang berhasil Dirga pukul.
Aira semakin menjerit melihatnya, pak sopir pun ikut turun untuk melerai perkelahian itu, namun dia maju mundur, takut dan ragu untuk mendekat karena kini Ibrahim dan Dirga mulai berkelahi dengan sengit.
"Mas," pekik Aira lagi, dia sungguh tak kuasa melihat sang suami dipukuli oleh Dirga. Meskipun Ibrahim juga terus membahas pukulan Dirga itu.
Sementara kedua pria itu tidak peduli dengan teriakan Aira. keduanya terus saling pukul meluapkan semua amarah di dalam hati.
Dirga begitu membenci Ibrahim, karena dari semua kejahatan yang pernah Ibrahim lakukan, Dia masih saja mendapatkan Aira sebagai istrinya. Seolah dunia ini tidak adil antara dirinya dan Ibrahim. Dirga sungguh membenci ketidakadilan itu.
__ADS_1
Dan Ibrahim pun sama halnya dengan Dirga, dia membenci Dirga dengan sepenuh hatinya. Seorang pria yang sudah sejak lama berniat untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Aira. Pukulan yang terus Ia berikan kepada Dirga ini adalah bentuk kemarahan yang sudah tidak bisa ditahan.