
Seperti kata Ibrahim, setelah mereka melaksanakan salat Maghrib berjamaah dia mengajak Aira untuk menelpon sang anak.
Panggilan video hingga mereka bisa melihat wajah ceria Yusuf di ujung sana.
"Kalian jangan cemaskan Yusuf, nikmati saja waktu bersama kalian," ucap ibu Asma, dia yang memegang kamera itu dan mengarahkannya kepada Yusuf yang sedang dipangku oleh Pak Imam.
"Iya Bu, terima kasih ya," jawab Ibrahim dan ibu Asma hanya mampu tersenyum lebar mendengar itu. Setelah puas menelpon sang anak panggilan telepon itu pun diputus.
Ibrahim langsung memeluk istrinya dari arah belakang. Mengelus lembut perut Aira yang sudah semakin membuncit.
Setelah melakukan USG, mereka bisa tahu jika kini Aira tengah mengandung bayi perempuan. Ibrahim sungguh bahagia ketika mengetahui itu, seolah hidupnya kini sudah benar-benar sempurna. Memiliki anak pertama laki-laki dan yang kedua perempuan.
Meskipun setiap anak sama, namun tetap tak bisa dipungkiri oleh Ibrahim, jika dia menginginkan keduanya, anak laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengabulkan keinginannya melalui Aira
Istri yang selalu menyempurnakan hidupnya.
"Malam ini mau kemana?" tanya Ibra, banyak tempat indah yang bisa mereka kunjungi malam ini. Namun Ibrahim tidak ingin memaksakan sang istri untuk pergi, apalagi jika Aira sudah merasa lelah.
"Tidak ingin kemana-mana, dari kamar kita saja pemandangannya sudah begitu indah," jawab Aira.
Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, menikmati pelukan hangat ini. Kini mereka berdiri di dekat dinding kaca kamar mereka, di bawah sana mereka melihat banyak orang berkumpul dengan gemerlap lampu. Hanya melihat sukacita orang dibawah sana sudah membuat Aira pun ikut tersenyum juga.
Tapi dia menyukai suasana tenang seperti ini, menghabiskan waktu berharganya dengan sang suami.
"Aku mencintaimu," lirih Ibra, tepat di telinga sang istri, membuat tubuh Aira meremang dengan pandangannya yang mulai kabur.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Ibra lagi sebelum Aira sempat menjawab.
Malam itu mereka terus terjaga, berbaring di atas ranjang dengan saling memeluk erat, bicarakan banyak hal tentang masa depan rumah tangga mereka, juga tentang anak-anak mereka.
Aira juga mengatakan kepada suaminya agar Ibrahim mengiklaskan masa lalu. Menghilangkan rasa bersalahnya kepada kakek Pram dan juga mulai memaafkan Sonya. Hidup dengan menyimpan kemarahan dihati hanya akan membuat diri sendiri merugi, terus membenci.
Namun mendengar itu Ibrahim tidak langsung menjawab iya, dia lebih dulu mencium puncak kepala sang istri dengan sayang. Perihal memaafkan memang masih sulit untuk dilakukan, terlebih tentang memaafkan diri sendiri atas kesalahannya kepada kakak Pram.
__ADS_1
Dan tentang Sonya, seumur hidup dia tidak akan bisa memaafkan wanita itu. Meskipun kematian adalah takdir, namun Sonyalah yang merebut nafas terakhir sang kakek.
"Aku akan berusaha sayang, tapi sekarang aku belum bisa melakukan itu semua," jawab Ibrahim.
Dan Aira hanya bisa berharap, agar waktu yang dibutuhkan oleh sang suami untuk memaafkan semuanya tidak terlalu lama. Aira ingin mereka merasakan kebahagiaan yang hakiki, tanpa ada lagi rasa benci di dalam hati.
Aira tidak lagi menjawab ucapan suaminya itu, dia hanya semakin memeluk Ibrahim erat dan Ibrahim pun membalasnya pula.
Malam pun berlalu dan kini pagi mulai menyapa keduanya. Menghabiskan waktu bersama di dalam bathup dengan saling menggosok punggung satu sama lain secara bergantian. Sesekali keduanya tertawa membicarakan hal-hal lucu yang pernah mereka lalui.
Hingga ritual mandi pun usai dan mereka memutuskan untuk sarapan di salah satu restoran hotel ini.
Crudo Restaurant at six sense uluwatu.
Menikmati sarapan di bawah hangatnya sinar matahari pagi dan indahnya pemandangan yang membentang luas sepanjang mata memandang.
Sebelum pergi Ibrahim mengatakan kepada sang istri untuk tidak pergi kemana-mana. Nanti kalau pun ada sesuatu yang terjadi di Aira harus segera menghubungi dia. Aira menganggukkan kepalanya patuh, dia pun tidak ada niat untuk pergi ke mana-mana.
Ibrahim pergi namun dia tidak langsung menuju kamar mandi dia lebih dulu menuju ke meja resepsionis dan meminta para pelayan di sana untuk mengawasi istrinya. Para pelayan itu pun menganggukkan kepalanya, mereka malah tersenyum menyambut hangat keinginan Ibrahim.
Setelah dirasa aman barulah Ibrahim menuju ke kamar mandi.
Dan melihat kepergian Ibrahim itu, seorang pria langsung tersenyum lebar. Dirga yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Aira yang kini duduk sendirian.
"Aira," panggil Dirga.
sontak saja Aira terkejut dengan cepat dia mengangkat wajahnya melihat kearah sumber suara dan dilihatnya Dirga yang berdiri di sana.
Deg! seketika ada perasaan tidak nyaman yang Aira rasa, merasa datangnya Dirga akan membuat hal buruk yang akan terjadi setelah ini.
Dirga pun lantas duduk di kursi yang harusnya jadi milik Ibrahim.
__ADS_1
"Apa ada kamu kesini?" tanya Aira dengan suaranya yang dingin, dia ingin Dirga segera pergi sebelum suaminya kembali.
Dan Dirga yang melihat perubahan raut wajah Aira itu pun tersenyum kecil, tadi dia lihat dengan jelas Aira yang selalu tersenyum saat bersama Ibrahim.
Namun kini senyum itu langsung hilang diganti dengan wajah yang dingin saat Aira melihat dirinya datang.
"Apa kamu benar-benar mencintai pembunuh itu?" tanya Dirga dengan amarah yang mulai menghampiri. Hatinya merasa sesak melihat Aira yang semakin lama semakin bodoh. Dimana Aira yang tegas dulu saat melawan Ibrahim? Dimana Aira yang dengan kukuh meminta ingin pisah?
Di mana Aira nya yang itu?
"Apa maksudmu? jika tidak ada yang penting lebih baik kamu segera pergi dari sini sebelum suamiku kembali. Aku tidak ingin ada keributan di antara kita," jelas Aira.
Diusir dan pertanyaannya tidak dijawab Dirga pun makin mengeram kesal. Dia hendak menarik Aira untuk segera pergi dari sini namun niatnya urung saat 2 pelayan menghampiri meja mereka.
"Nyonya apa ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pelayan. Dari ujung sana tadi mereka melihat Dirga yang datang menghampiri Aira, juga perubahan raut wajah Aira yang nampak tak nyaman.
Karena itulah kini mereka menghampiri, mematuhi perintah Ibrahim beberapa saat lalu untuk menjaga istrinya dengan baik.
Aira tidak langsung menjawab pertanyaan pelayan itu, namun ia menatap Dirga memberi isyarat untuk Dirga segera pergi meninggalkan dirinya sebelum akhirnya bertindak lebih.
Dirga tidak bisa berkutik, dengan terpaksa akhirnya Dirga meninggalkan Aira di sana. Meski dengan hatinya yang semakin menaruh rasa amarah kepada Aira dan juga Ibra.
Dirga pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah awal, dia akan terus menuntut penjelasan dari Aira.
Kenapa Aira sampai kembali kepada Ibrahim? lalu tak adakah sedikit rasa untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karya baru anakku 😍 yuk mampir 🐝
Anita dan Arion 🌻
__ADS_1