Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 66 - Yuna El Ibrahim Suryo


__ADS_3

Bantu Like dan Komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu hingga tiba saatnya Aira melahirkan sang anak kedua.


Putri cantik lahir dari rahimnya dengan sehat selamat. Sama seperti saat melahirkan Yusuf dulu, kini saat melahirkan anak keduanya pun Ibrahim menemani Aira dari awal hingga akhir dan persalinannya pun tetap berada di rumah mereka.


Di ruangan yang dulu di persiapkan kakek Pram untuk Aira dan Yusuf.


Tangis bayi mungil itu kini menggema di rumah keluarga Suryo, membuat siapapun yang mendengarnya selalu mengucapkan kata syukur.


Bik Sumi yang juga mendengar tangis itu pun selalu mengucapkan syukur di dalam hatinya. Dia pun sungguh tidak menyangka rumah tangga tuan dan nyonya nya ini bisa bertahan sejauh ini. Bahkan kini Aira dan Ibrahim memiliki 2 anak dalam rumah tangganya.


Seolah semakin memperkuat jalinan yang ada diantara mereka.


Setelah di bersihkan, Ibrahim mengadzani sang anak, pun ibu Asma dan pak Imam yang juga sudah di perbolehkan masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka bersyukur, anak dan cucu keduanya sama-sama sehat dan selamat.


"Dedek kecil," ucap Yusuf seraya menunjuk adiknya sendiri. Kini Yusuf sedang di gendong sang kakek, sementara adik kecilnya di gendong sang ayah.


"Iya sayang, ini adik kecil, adiknya Yusuf," jawab Ibrahim, ia mendekati sang anak dan kedua mertuanya. Lalu memperlihatkan sang anak kedua.


Bayi perempuan yang dia dan Aira beri nama Yuna.


Yuna El Ibrahim Suryo.


Kali ini Ibrahim bukan hanya mencurahkan kasih sayangnya kepada Yuna dan Yusuf, melainkan juga kepada Aira. Istri yang sudah memberikannya 2 anak.


Dulu, Ibrahim masih ingat betul, saat hanya bersandiwara memperlakukan Aira dengan baik.


Maka kini tidak lagi, kini dia dengan sungguh-sungguh membantu Aira agar cepat pulih dari proses persalinan kemarin. Tak jarang dia pun meminta bantuan kepada orang lain untuk lebih dulu menjaga Yuna sementara dia menyuapi sang istri untuk makan.


Dan Aira menerima semua perlakuan itu dengan hati yang terus bersyukur.


Dimatanya Ibrahim selalu terlihat sempurna, membuatnya semakin jatuh dalam mencintai sang suami.

__ADS_1


"Sayang, kamu makan juga, jangan hanya menyuapi aku," ucap Aira. Siang ini Aira belum melihat sang suami makan.


Setelah keluar dari ruang kerjanya di rumah bersama Robby sang asisten, Ibrahim langsung mendatanginya dan menyuapi makan siang ini.


"Iya sayang, setelah ini aku akan makan."


"Kenapa tidak makan bersama saja?"


"Makan bersama?" tanya Ibrahim memastikan dan Aira menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Iya," jawab Aira singkat dengan mulutnya yang masih bergerak mengunyah.


Lalu terhenti saat Ibrahim menyesap bibir itu, membuat Aira mendorong dadanya pelan karena merasa terkejut.


"Mas!" keluh Aira, mulutnya penuh dengan makanan dan Ibrahim malah menciumnya.


"Katanya makan bersama."


"Ih, bukan begitu!" jawab Aira dengan nada menggerutu, dia mengambil piring dan sendok di tangan sang suami dan mulai menyuapi sang suami dengan makanan yang tersaji di piring itu.


Ibrahim menurut, dia membuka mulutnya dan menerima suapan sang istri.


Dan selesai ibunya makan, baby Yuna menangis. Aira segera kembali ke kamar yang kini pindah ke lantai 1. Dibantu oleh Ibrahim untuk kembali ke dalam kamar dan mulai menyusui baby Yuna.


Ibrahim ikut duduk memperhatikan ibu dan anak ini.


"Dimana Yusuf Mas?"


"Masih makan sama mbak Ita," jawab Ibrahim apa adanya, kini Yusuf sedang sulit sulitnya makan, maunya hanya main main dan main.


Jadi untuk makan pun Yusuf dan Ita harus kejar-kejaran dulu.


"Sayang, besok pagi pak Basir dan ibu Rachel akan datang kesini bersama Nusa, eh bersama Akbar," jelas Ibrahim. Yang masih sering merasa jika Akbar adalah Nusa.


Sebelum makan siang tadi pak Basir mengatakan jika dia akan berkunjung kemari bersama Akbar pula.


Yuna juga adalah adik Akbar karena satu ibu susuan. Pak Basir merasa Akbar pun harus mengenal Yuna sejak kecil agar tidak terjadi kesalahpahaman saat dewasa nanti.


Dan Aira menganggukkan kepalanya, menyambut baik niat pak Basir itu.

__ADS_1


Terlepas dari Dirga, hubungan mereka dengan pak Basir dan ibu Rachel pun memang tetap terjalin baik hingga kini. Terlebih kini, Dirga pun sudah mengizinkan Akbar untuk bertemu dengan Aira dan Ibrahim.


Waktu perlahan memang mengobati luka di dalam hatinya, juga perlahan membuat Dirga kembali menjalani hidup dengan lebih baik. Menghilangkan rasa benci, kecewa dan juga bersalah di dalam hatinya.


"Iya sayang," balas Aira dengan senyum di bibirnya. Dia kembali menunduk dan melihat sang anak yang masih menyusu, baby Yuna yang masih berusia 1 minggu.


Ibrahim bangkit dari duduknya, mencium pipi sang istri sekilas dsn segera berlalu dari sana.


Menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu, untuk shalat zuhur.


Lama-lama dia tidak sanggup juga melihat dada Aira yang semakin berisi saat sedang menyusui seperti ini. Ingin segera menerkamnya seperti baby Yuna.


Apalagi kini Aira tidak malu lagi menggunakan baju tipis dan pendek saat mereka berada di dalam kamar.


Apalagi saat sedang menyusui seperti ini, Aira merasa sering mengaku kegerahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam datang.


Dan jam-jam yang terasa berat bagi Ibrahim akhirnya tiba. Dia hanya bisa menatap kemolekan tubuh sang istri tanpa bisa menyentuhnya lebih dalam.


"Mas, ayo tidur," ajak Aira setelah dia meletakkan sang anak di dalam boxs.


Di kamar ini mereka hanya tidur bersama Yuna, sementara Yusuf sudah tidur di kamarnya sendiri bersama dengan mbak Ita.


"Sayang tidur duluan saja, masih ada file yang harus ku baca," jawab Ibrahim, dia duduk di sofa ujung ranjang dan memegang sebuah tablet yang menyala.


Bukannya naik ke atas ranjang, Aira malah menghampiri suaminya. Duduk persis di sebelah Ibrahim bahkan menciptakan guncangan.


"Ini sudah jam 11 malam, ayo tidur saja, besok kan bisa baca lagi," ajak Aira, dia menyentuh lengan sang suami. Meminta Ibrahim untuk mengikuti dirinya naik ke atas ranjang.


Namun Aira mendadak diam, saat melihat sang suami yang menatapnya dengan tatapan sayu. Dia tahu, sang suami menginginkan dirinya namun terhalang oleh masa nifas.


Dan untunglah, Aira sudah banyak belajar untuk memuaskan sang suami tanpa mereka melakukan penyatuan.


"Mas," panggil Aira, dia menyentuh wajah sang suami yang terasa panas.


Dan Ibrahim tidak menjawab, hanya mengikis jarak hingga jarak itu benar-benar habis. Menautkan bibir keduanya dan Aira membuka mulut. Bahkan membusungkan dadanya memberi akses pada sang suami untuk menyusuri tubuhnya.

__ADS_1


Aira memang selalu mampu membangkitkan hasrat Ibrahim. Sesuatu yang membuat Ibrahim semakin menggilainya.


__ADS_2