Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 43 - Hukuman


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya, kini Ibrahim duduk disisi ranjang dengan Aira yang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil berwarna putih.


Berdiri persis di hadapan Ibrahim dan terus mengusap lembut kepala suaminya itu.


Sementara Yusuf sudah diambil bik Sumi, seolah tahu ada masalah yang terjadi, bik Sumi langsung mengambil Yusuf dan menidurkannya di dalam gendongan.


Aira dan Ibrahim sama-sama terdiam, membiarkan hening mengambil alih diantara keduanya. Aira sungguh iba melihat suaminya yang nampak merana seperti ini. Ia sampai tak bisa berkata apa-apa selain menyalahkan diri sendiri karena sebagai istri banyak yang tidak Aira tahu tentang suaminya.


"Sudah Mas," ucap Aira, saat rambut sang suami sudah tidak se basah tadi, namun masih terasa lembab saat Aira menyisirnya menggunakan tangan.


"Aku ambil sisir dulu," timpal Aira pula.


Namun pergerakannya terhenti saat Ibrahim menarik pinggangnya dan memeluknya erat dan Aira pun membalas dekapan itu. Berulang kali Aira mengelus kepala dan punggung suaminya dengan sayang.


"Kamu tidak ingin bertanya apa yang terjadi?" tanya Ibrahim lirih. Namun karena suasana kamar jadi hening maka ucapannya itu pun dapat Aira dengar dengan jelas.


"Mau, tapi aku tidak ingin memaksa Mas untuk bercerita. Aku ingin Mas kembali ceria, tidak seperti ini," jawab Aira.


Melihat suaminya yang terluka, membuat Aira merasa lebih terluka lagi.


"Aku akan menceraikan Sonya," ucap Ibrahim, ia masih setia memeluk pinggang istrinya erat. Menyandarkan kepalanya di dada sang istri. Sementara tatapannya kosong, seolah kini ia tidak memiliki tujuan hidup.


Dan mendengar ucapan suaminya itu, Aira hanya menelan ludahnya dengan kasar. Hanya mampu terdiam dan mendengarkan. Tidak bertanya ataupun membantah.


Pun Ibrahim yang lalu menjelaskan kenapa ia ingin menceraikan Sonya. Semuanya Ibrahim ceritakan tanpa ada satupun yang ia sembunyikan. Tentang Sonya yang membunuh kakek dan cara yang Sonya gunakan. Tentang rekaman CCTV juga tentang niatnya datang kesini pagi-pagi tadi, untuk membuat mereka berpisah dengan menggunakan fakta tentang keguguran Aira.


Kedua netra Aira membola saat mendengar cerita suaminya.


Aira sungguh tidak menyangka Sonya akan tega melakukan hal itu. Hanya demi kesenangan dunia Sonya sampai menghilangkan nyawa kakek Pram. Mulut Aira bahkan menganga, sungguh tidak percaya.


Dimatanya bahkan Sonya terlihat baik dan lemah, ternyata itu semua tidak sama dengan apa yang ada di dalam dirinya.


"Aku malu Aira, aku merasa bersalah kepada kakek, aku seperti tidak punya wajah lagi di hadapan makam kakek," ucap Ibrahim, ia sudah tidak lagi menangis namun suaranya terdengar begitu pilu.

__ADS_1


Dan Aira semakin memeluk suaminya erat, bahkan berulang kali menciumi pucuk kepala suaminya itu.


Sama seperti pak Basir, Aira terus coba menenangkan suaminya. Kecewa, marah, menyesal dan semua rasa tak nyaman itu memang akan mereka rasa. Namun jangan sampai semua perasaan buruk itu menguasai diri.


Saat ini yang terpenting bagi kakek Pram adalah doa yang terus mengalir untuknya.


Di dalam dekapan sang istri, Ibrahim menganggukkan kepalanya berulang, seraya terus memeluk suaminya erat.


Malam itu tidak ada canda tawa di dalam kamar mereka. Ibrahim dan Aira hanya terus saling memeluk erat di atas ranjang.


Aira terus terjaga sampai suaminya benar-benar terlelap.


Dan saat terdengar dengkuran halus dari suaminya, Aira langsung menghembuskan nafasnya lega. Lalu melirik jam yang ternyata sudah jam 1 dini hari.


Aira lantas membenahi tidur sang suami. Menempatkan kepala Ibrahim di atas bantal agar kepalanya tidak sakit. Lalu memeriksa keadaan Yusuf yang sedang tertidur di dalam boxs dan kembali naik ke atas ranjang.


Aira menatap lekat wajah sang suami yang tengah tertidur. Matanya memang terpejam, namun Aira tetap saja melihat kesedihan di raut wajah suaminya itu.


Membunuh kakek Pram bukanlah suatu kesalahan yang bisa dimaafkan.


Aira bahkan bertekad, dia sendirilah akan terus mengawal kasus ini hingga Sonya dipenjara. Juga memastikan Ibrahim dan Sonya agar segera bercerai.


Aira tidak akan membiarkan suaminya untuk kembali bertemu dengan wanita kejam itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kabar tertangkapnya Sonya sudah di dengar oleh seluruh keluarga Sonya. Bahkan alasan ditangkapnya Sonya pun mereka sudah mengetahuinya.


Sama seperti Aira dan Ibrahim, mereka pun sungguh tidak menyangka Sonya tega melakukan itu. Sampai tergerak kedua tangannya untuk membunuh kakek Pram.


Dan saat pagi tiba, kedua orang tua Sonya mendatangi kantor polisi bersama seorang pengacara. Mereka masih belum mau percaya jika anaknya adalah seorang pembunuh.


Namun saat penyidik kasus ini menunjukkan rekaman CCTV pada kedua orang tua tersangka, mereka tidak bisa lagi berkelit.

__ADS_1


Bahkan mereka pun merasa sangat marah dan kecewa. Hingga terlontar lah kata yang mengatakan jika mereka tidak akan mempersulit kasus ini. Tidak akan mengajukan gugatan balik apapun keputusan pengadilan.


Sebelum pergi meninggalkan kantor polisi, kedua orang tua Sonya menemui sang anak yang kini sudah menggunakan baju berwarna orange, tanda tersangka di dalam tahanan.


"Ya Allah Sonya, benar kamu melakukan itu?" tanya pak Dedi, ayah Sonya. Sementara ibunya Sahila hanya terdiam, menahan kecewa yang begitu membuncah.


"Maafkan aku Pa," jawab Sonya lirih, hanya satu kalimat itulah yang bisa ia ucapkan. Sebuah kalimat yang membenarkan atas pertanyaan pak Dedi, bahwa memang benar Sonya telah membunuh kakek Pram.


Pak Dedi dan ibu Sahila langsung beristigfar, memegangi dada keduanya yang terasa sakit dan sesak.


Mereka berdua merasa telah gagal mendidik sang anak, anak semata wayang yang begitu mereka sayangi dan manjakan, namun kini malah menjadi seorang pembunuh.


"Ya Allah Sonya, apa kurangnya hidupmu sampai tega melakukan ini," ucap pak Dedi dengan keputusasaan yang ia rasa, sementara Sonya tak kuasa untuk menjawab, karena apapun alasannya tetap tidak akan membenarkan tindakannya ini.


Hidup Sonya memang sangat sempurna, kekurangannya hanya satu, dia tidak pernah mensyukuri akan itu semua.


Saat cinta suaminya dimiliki, Sonya malah bersikap semaunya bahkan sampai melawan dengan kakek Pram hingga menghilangkan nyawa pria tua dan renta itu. Sonya pun terus membuat hidup Aira tidak nyaman.


Bahkan setelah cinta Ibrahim tidak lagi dia miliki, Sonya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Andaikan Sonya bertahan dalam kebaikan, mungkin suatu saat nanti pun hati Ibrahim kembali tergerak untuk memaafkan kesalahan istri pertamanya itu.


Namun bukannya berubah sungguh-sungguh, Sonya malah kembali berulah.


Dan kini lah akhir dari semuanya. Bukan hanya masuk penjara, Ibrahim pun bahkan mengajukan gugatan cerainya di pengadilan agama.


"Tolong aku Pa," lirih Sonya dan pak Dedi pun menggelengkan kepalanya.


"Jalani hukuman mu, bahkan hukuman di dunia yang kamu terima tidak akan bisa mengangkat semua dosa-dosa mu yang sudah menghilangkan nyawa kakek Pram," jawab pak Dedi, setelahnya dia membawa sang istri untuk meninggalkan ruangan kunjungan itu.


Mencoba tidak peduli meski mendengar tangis sang anak.


Hati orang tua mana yang tidak hancur saat melihat anaknya menangis seperti itu. Namun kini pak Dedi dan ibu Sahila akan bersikap tegas.


Sonya memang harus mendapatkan hukumannya.

__ADS_1


__ADS_2