Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 68 - Membuat Janji Temu


__ADS_3

Jangan lupa Like dan Komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas kepergian ibu Rachel dan pak Basir, Aira pun meminta kepada kedua orang tuanya untuk beristirahat, tidur siang.


Juga mengajak anak suaminya melakukan hal yang sama.


Kini Ibrahim dan anak laki-lakinya berbaring di atas rajang. Dengan Yusuf yang terus memegang dot susu di mulutnya, sementara Ibrahim mengelus pelan punggung sang anak.


Agar Yusuf bisa segera tidur siang.


Sementara Aira duduk di kursi khusus menyusui dan menyusui baby Yuna. Dia menggerakkan kursi pelan hingga menyerupai ayunan.


Hingga tak lama kemudian Yusuf dan Yuna benar-benar terlelap.


"Sayang, kamu tidurlah juga. Aku akan ke ruang kerja," ucap Ibrahim, setelah Aira meletakkan baby Yuna di dalam box bayi, Ibrahim memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.


Lalu menggendong Aira seperti pengantin baru dan membawanya berbaring di atas ranjang.


"Mau apa ke ruang kerja? tidak mau tidur siang saja bersama ku?" tanya Aira, dia menahan lengan sang suami yang hendak pergi.


"Roby mengirimkan beberapa proposal acara baru untuk bulan depan sayang, aku hanya tinggal memilihnya baru setelah itu memberikannya kembali pada Robyy."


Aira mendengus, padahal dia mau juga di puk puk seperti Yusuf.


"Kenapa? kamu ingin tidur bersamaku? kan bisa nanti malam," timpal Ibrahim lagi seraya mengedipkan sebelah matanya genit.


Mereka memang belum boleh menyatu, namun Ibrahim selalu menyentuhi istrinya itu dan Aira selalu menerimanya dengan senang hati.


Bahkan juga membalas sentuhan sang suami.


"Ya sudah sana, jangan lama-lama, kalau sudah selesai langsung kembali kesini."


Ibrahim tidak menjawab, dia langsung membungkuk dan menjangkau bibir istrinya. Melumaatnya hingga basah.


Aira yang mulai manja dan menuntut seperti ini membuatnya bahagia.


Merasa kehadirannya sungguh diharapkan oleh Aira. Benar-benar menjadi tempat sandaran untuk sang istri.


Setelah melepaskan pagutannya, barulah Ibrahim meninggalkan Aira. Pergi dengan melihat istrinya yang mulai tersenyum.


Masuk ke dalam ruang kerjanya dan mulai membuka beberapa berkas.


Ada beberapa program baru yang sudah disusun oleh tim editor. Dan Ibrahim hanya tinggal memilihnya 3. Memilih yang kira-kira paling diminati oleh penonton.

__ADS_1


Juga memilih beberapa artis yang berperan di dalamnya.


Beberapa nama dan informasi artis pun tertera di sana. Bukan hanya ada yang tampan, namun juga ada yang cantik hingga seksi.


Dan Ibrahim memilih beberapa untuk dijadikan pemeran dalam programnya.


Dirasa sudah cukup dia menghubungi Robby untuk datang kemari dan mengambil berkas itu.


Semakin cepat ditangani maka semakin matang semua perencanaan sebelum publish.


"Baik Tuan, saya akan segera ke sana," jawab Robby di ujung sana dan setelahnya panggilan itu pun terputus.


Sudah 1 jam Ibrahim di ruangan ini dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.


Melihat Aira yang kini sudah terlelap.


Begitu cantik dan wajahnya menenangkan.


Dulu, Ibrahim mungkin akan tergoda dengan wanita seksi yang ada disekitarnya. Bermain-main dengan mereka untuk mencari kepuasan diri.


Namun kini sungguh Ibrahim tidak tertarik sedikitpun. Melihat wanita seksi dengan semua kemolekannya malah membuat dia risih. Ingin memberi kain penutup pada tubuh terbuka itu.


Kini, semua ketertarikannya hanya tertuju pada sang istri. Aira yang sudah mencurahkan semua waktunya untuk mengabdi kepada dirinya. Mengurus anak dan juga mengurus dirinya.


Puas memandangi wajah cantik sang istri, Ibrahim pun ikut berbaring di atas ranjang, di sebelah Yusuf yang berada di tengah-tengah.


Saat Robby kemari nanti dia bisa langsung mengambil berkasnya di ruang kerja, tidak perlu menemui Ibrahim lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Robby tidak datang sendiri ke rumah sang Tuan, namun Luna pun ikut juga untuk menemui Nyonya nya.


Robby dan Ibrahim menuju ruang kerja, sementara Aira dan Luna duduk di ruang tengah.


Aira pun bertanya, ada perlu apa sampai Luna datang kesini. Padahal dia tidak meminta asisten pribadinya itu untuk datang.


"Maaf Nyonya, Pak Dedi menghubungi saya. Beliau ingin membuat janji temu dengan Anda," jelas Luna apa adanya. Kemarin sore pak Dedi ayah Sonya menghubungi dirinya. Meminta kepada Luna untuk membuatkan jadwal temu antara dirinya dan Aira.


Tidak saling mengenal dengan baik pak Dedi merasa tidak sopan jika menemui langsung ke rumah ini. Karena itulah dia menghubungi Luna dan ingin dibuatkan jadwal untuk bertemu.


Apalagi kini pak Dedi pun tahu jika Aira baru saja melahirkan dan membutuhkan banyak waktu beristirahat.


"Pak Dedi? ayahnya mbak Sonya?"


"Iya Nyonya."


Aira terdiam sesaat, ingat saat kemarin pak Dedi menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada perlu apa pak Dedi ingin menemui ku? apa dia mengatakannya kepadamu?"


"Tidak Nyonya, beliau hanya mengatakan jika ingin bertemu dengan Anda, namun tidak menyampaikan apa tujuannya," jelas Luna.


"Apa tentang Sonya?"


"Saya belum bisa memastikannya Nyonya, tapi jika anda memerintahkan saya, saya bisa mencari tahunya," jelas Luna lagi.


Dan Aira mengangguk.


Aira memerintahkan Luna untuk menyelidiki apa sebenarnya tujuan pak Dedi sedari kemarin terus menghubungi keluarganya, Aira yakin jika ini ada hubungannya dengan Sonya.


Meski memerintahkan Luna untuk menyelidiki, namun Aira pun tetap berniat untuk bertemu juga dengan pak Dedi.


Jadi nanti Aira akan tahu dari dua sisi, cerita pak Dedi dan penyelidikan Luna.


Nanti sore, Aira mengatakan jika pak Dedi bisa menemuinya di rumah ini.


Luna pun mengangguk, setelahnya dia pergi dan mengubungi pak Dedi tentang jadwal pertemuannya dengan Nyonya Aira, lalu segera melakukan penyelidikannya sendiri.


Setelah Luna pergi, saat itu kira-kira waktu sudah menunjukkan jam 11 siang.


Yusuf pun sudah waktunya makan. Maka sambil menunggu suaminya keluar dari ruang kerja, Aira memutuskan untuk menyuapi sang anak laki-lakinya itu.


"Mas Yusuf, makannya duduk sayang, jangan lari-lari, sini," pinta Aira.


Mbak Ita ada di sampingnya dan mendampingi. Sementara Yusuf asik berlari sambil sesekali datang ke sang ibu untuk menerima suapan.


"Mas Yusuf sini," pinta Aira lagi, tapi Yusuf tidak mau dengar, masih asik dengan mainan pesawat terbang.


"Aduh! tangan ibu sakit, capek pegang makanan mas Yusuf nya nggak makan-makan," keluh Aira, lalu dia pura-pura menangis.


dan Yusuf yang melihat ibunya menangis langsung berlari menghampiri.


Mendadak dia pun jadi ikut sedih pula.


"Ibu tangannya sakit?" tanya Yusuf dan Aira mengangguk.


"Sini, Yusuf maem sendiri," ucap Yusuf dengan percaya dirinya.


Tidak ingin tangan ibunya sakit saat menyuapi dirinya, Yusuf memilih untuk makan sendiri. Duduk bersimpuh di atas karpet tebal ruang tengah itu dan mulai makan.


Meski acak-acak kan Aira tidak mempermasalahkan, yang penting anaknya mau makan dengan tenang.


Pun mbak Ita yang sesekali menghapus belepotan di wajah anaknya.


"Tangan ibu masih sakit?" tanya Yusuf lagi.

__ADS_1


"Aduh, sakit," keluh Aira, bohong.


Lalu mengulum senyum agar tidak ketahuan.


__ADS_2