Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 45 - Tiga Bulan Berlalu


__ADS_3

Tepat jam 1 siang Aira sudah kembali pulang. Setelah mengantar Nyonya nya dengan selamat sampai di rumah, Luna pun pamit untuk kembali ke SM Corp.


Aira masuk dan langsung disambut hormat oleh beberapa pelayan dan dia hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai balasan.


Hari ini Ibrahim tidak bekerja,  sebelum Aira pergi tadi pagi Ibrahim mengatakan kepada Aira jika ia akan menghabiskan waktu bersama Yusuf seharian ini. Karena itulah kini Aira ingin segera menemui suami dan anaknya.


Mungkin di kamar, batin Aira seraya terus melangkahkan kakinya dengan lebar. 


Namun seketika langkah kakinya yang buru-buru terhenti saat mendengar suara sang suami di ruang tengah. Lalu disusul dengan tawa anaknya, Yusuf.


Sudut bibir Aira tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman kala mendengar suara-suara itu. Tidak jadi menaiki anak tangga, Aira memutuskan untuk menuju ruang tengah. 


Dan benar saja, di atas karpet tebal itu suami dan anaknya sedang bermain bersama. 


Banyak mainan berserak dimana-mana, bukannya marah ataupun kesal, Aira malah merasa bahagia melihatnya. Meskipun nampak jelas dari raut wajah Ibrahim jika dia masih murung, namun suaminya itu tetap mencoba riang saat bersama sang anak. 


"Mas," panggil Aira, ia mendekat dan ikut duduk di bawah sana, duduk disamping suaminya.


Ibrahim langsung menoleh dan menatap sang istri yang kini duduk persis di sebelah dirinya. Entah kenapa, Ibrahim ingin sekali menyesap bibir merah itu. Bibir yang terlihat menggoda saat Aira merias dirinya seperti ini.


Dan tidak ingin membuang waktu Ibrahim pun mengecup sekilas bibir itu, membuat kedua netra Aira membola pasalnya kini mereka berada di luar kamar. Bahkan ada beberapa pelayan yang memperhatikan mereka.


Menyadari itu, Aira langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona dari sang suami dan menyembunyikan malunya dari para pelayan. 


Hanya tangan Aira saya yang mencubit perut suaminya pelan. 


Dan Ibrahim terkekeh, kegundahan yang sedari tadi ia rasa kini langsung menghilang saat melihat Aira. 

__ADS_1


"Bagaimana? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Ibrahim, satu tangannya mengangkat dagu sang istri hingga tatapan mereka kembali bertemu.


Jika berhadapan dengan Sonya Aira akan berubah jadi dingin, angkuh dan seperti wanita tangguh. Namun jika dihadapan suaminya seperti ini mendadak Aira jadi pemalu, penurut dan lemah lembut. 


Aira menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.


"Mas Ibra tidak perlu mengurus masalah itu lagi, aku akan memastikan mbak Sonya dipenjara seumur hidupnya," jelas Aira. 


Tatapan mereka bertemu, hanya saling menatap seperti ini saja sudah membuat keduanya merasa  berdesir. Seolah keintiman diantara mereka pun bisa terjadi dengan saling menatap seperti ini. 


"Jangan mengucapkan terima kasih," ucap Aira cepat sebelum suaminya buka suara. 


Aira lalu menjelaskan jika dia melakukan ini semua bukan semata-mata demi suami tercintanya itu. Tapi juga demi kakek Pram. Seseorang yang selama ini selalu membantunya dan keluarga Aira, selalu memperlakukannya dengan baik layaknya cucu sendiri dan yang paling banyak mengambil peran dalam rumah tangganya. Hingga kini ia dan Ibrahim masih tetap bersama.


Semua kebaikan kakek Pram tidak akan pernah bisa Aira balas, karena itulah Aira ingin sekali ini saja memperjuangkan keadilan untuk kakek Pram. Melawan Sonya yang telah merenggut nyawanya. 


"Kakek pasti bangga padamu Aira," sahut Ibrahim setelah sedari tadi ia diam. Aira sangat menyayangi kakek, bahkan memperlakukan kakek dengan baik di detik-detik beliau meninggal. Tidak seperti dirinya yang tetap acuh. Bahkan tidak sedikitpun terpikirkan olehnya jika kakek Pram meninggal karena perbuatan Sonya. 


"Jangan bohong."


"Tidak," balas Aira cepat.


"Kakek selalu mengatakan padaku jika dia sangat bangga pada mas Ibrahim. Setelah semua keluarga mas Ibrahim meninggal, mas berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, menahan rindu pada semua orang untuk bisa bertahan hidup," jelas Aira dan memang seperti itulah yang selalu kakek Pram katakan kepadanya. 


Ibrahim yang mendengarkan ucapan Aira itu pun kembali menangis. Saat ia berkedip air mata itu langsung jatuh begitu banyak nya. Namun dengan segera Ibrahim hapus, lalu mengangkat Yusuf yang mulai merangkak menjauh dan kembali di pangkunya. 


Hubungan kakek dan Ibrahim memang merenggang saat Ibrahim bertemu dan jatuh dengan Sonya. Semenjak itu semua ucapan Sonya terasa lebih benar dibandingkan ucapan kakeknya sendiri. 

__ADS_1


"Mas jangan menangis lagi," ucap Aira, ia pun menghapus sisa-sisa air mata di wajah sang suami hingga benar-benar kering. 


"Mas harus hidup bahagia agar kakek Pram di surga juga bisa bahagia," timpal Aira. 


Tidak ingin menjawab dengan kata-kata, Ibrahim lantas memeluk istrinya erat. Berulang kali mencium pipinya yang terasa hangat. 


"Kamu dan Yusuf adalah kebahagiaanku," ucap Ibrahim.


Aira langsung tersenyum dan membalas pelukan itu. Kecupan di bibir kembali Ibrahim beri saat mereka saling melerai dekapan. 


Lalu mereka memutuskan untuk naik ke kamar dan mulai menidurkan Yusuf untuk tidur siang. 


Naik ke lantai 2, satu tangan Ibrahim menggendong Yusuf sementara tangannya yang lain memeluk pinggang istrinya erat.


Waktu berlalu.


Tiga bulan sudah terlewat dan semuanya terasa lebih baik untuk Ibrahim dan Aira.


Persidangan kasus Sonya pun sudah usai dan Sonya mendapatkan hukuman seperti yang diinginkan oleh Aira. Penjara seumur hidup, artinya Sonya akan dipenjara selama 28 tahun. Sonya dan Ibrahim pun kini sudah resmi bercerai secara negara. 


Tidak ada hubungan apapun lagi antara mereka dan Sonya. 


"Mas, sehabis magrib nanti ada pengajian di rumah pak Basir, jangan lupa pulang lebih awal ya?" pinta Aira, kini ia mengantar suaminya menuju teras rumah. 


Yusuf yang sudah berusia 1 tahun kini makin tidak bisa diam, bahkan kini mereka tidak tahu dimana anak itu. Yusuf kini sudah memiliki babysitter sendiri, bukan hanya bik Sumi. 


"Iya, jam 3 nanti aku sudah pulang. Kita bisa pergi dulu untuk membeli beberapa makanan untuk dibawa kesana," jawab Ibrahim dan Aira pun menganggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


Sehabis magrib nanti di rumah pak Basir akan ada pengajian 4 bulanan istri Dirga yang bernama Adisty. 


Hubungan mereka dengan Dirga dan Adisty memang tidak terlalu dekat, namun dengan pak Basir dan ibu Rachel mereka sudah menganggap seperti kedua orang tua mereka sendiri.


__ADS_2