
Kini Aira dan Ibrahim sudah kembali ke dalam kamar mereka. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 4 dini hari, nyaris menyentuh subuh.
Bik Sumi pun sudah membawa Yusuf ke dalam kamarnya, tadi Yusuf bangun saat Aira dan Ibrahim berada di luar.
Aira duduk disisi ranjang dengan tatapannya yang kosong. Sementara Ibrahim bersimpuh dihadapan sang istri, memegang kedua tangan Aira dengan erat.
"Maafkan aku Aira, aku mohon," pinta Ibrahim entah sudah yang ke berapa kali. Ia akan terus mengucapkan kata maaf sampai Aira mengabulkannya.
Sementara Aira hanya diam, semua ini masih terasa seperti mimpi. Ternyata inilah alasan berubahnya sang suami. Ada pedih yang Aira rasa, dimana ia mendapatkan cinta suaminya setelah sang anak meninggal.
Namun baik dia dan Ibrahim sama-sama tidak tahu jika janin itu telah tumbuh.
Bagaimana aku bisa hamil? bukankah saat itu aku selalu minum pil KB? Batin Aira.
Menyadari itu, Aira langsung menurunkan pandangannya dan menatap wajah sang suami. Ibrahim pun membalas tatapan itu dengan tatapannya yang sayu.
"Apa benar aku hamil dan keguguran? saat itu aku minum pil KB di belakangmu Mas," ucap Aira.
Ibrahim mengangguk lemah, lagi-lagi ia mengakui kesalahannya. Ibrahim mengaku marah saat melihat pil KB itu di dalam tas Aira. Ibrahim merasa Aira tak sudi lagi mengandung anaknya. Maka dengan semua keegoisan yang dia punya Ibrahim menukar pil-pil itu, pil KB dengan pil penyubur rahim.
Lagi-lagi Aira terperangah, begitu banyak hal yang ditutupi oleh suaminya.
"Apa masih ada lagi yang kamu sembunyikan dariku Mas?" tanya Aira lirih, ia sudah lelah menangis, ia juga sudah lelah bersedih.
"Tidak sayang, tidak ada. Beri aku ampun Aira, aku mohon maafkan aku, ayo kita hidup dengan baik setelah ini," pinta Ibrahim sungguh-sungguh penuh permohonan.
Dan Aira tidak pernah melihat Ibrahim se putus asa ini. Wajahnya basah dengan air mata, juga tatapannya yang sayu. Andaikan ini adalah Ibrahim yang dulu pasti kini Ibrahim sudah memperlakukannya dengan kasar, melemparkannya ke atas ranjang dan kembali dijadikan pelampiasan hasratnya.
Tapi malam ini Ibrahim terus memohon dengan suaranya yang lirih.
Aira lantas menarik suaminya untuk bangkit, meminta Ibrahim untuk duduk di sampingnya.
"Apa Mas benar-benar mencintaiku? bukan hanya karena merasa bersalah?"
__ADS_1
"Tatap mataku Aira, tidak bisakah kamu melihatnya jika aku sangat mencintaimu?" jawab Ibrahim lirih, ia bahkan menyentuh salah satu sisi wajah Aira dan membuat tatapan keduanya bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
Deru nafas keduanya bahkan saling mereka dengar, seolah mengisyaratkan hasrat di dalam diri masing-masing.
"Aku mencintaimu, sangat," ucap Ibrahim lagi, kini ibu jarinya mengelus bibir bawah Aira yang nampak basah.
Ibrahim lalu mengikis jarak dan melumaat bibir itu lembut, menyesapnya dalam hingga membuat Aira memejamkan mata.
Pagutan keduanya begitu lama, seolah saling menyakinkan satu sama lain jika mereka saling mencintai. Seolah Aira pun menjawab jika ia sudah memaafkan suaminya.
Aira memang kecewa, namun ia sadar inipun diluar kendali Ibrahim dan dirinya sendiri. Mereka sama-sama tidak tahu jika janin itu telah hidup.
Aira yakin, tiap peristiwa pasti akan ada hikmahnya. Dan kini hubungan rumah tangga mereka berdua semakin kuat. Aira tak ingin kepergian sang anak membuat rumah tangga mereka hancur, anaknya telah berkorban nyawa agar ibu dan ayahnya tidak berpisah.
"Mas," lenguh Aira, nyaris subuh dan mereka menyatu di suasana kamar yang remang itu. Ibrahim mengangkat wajahnya yang sedari tadi bersarang di kedua ada sang istri.
Menatap Aira dibawah kungkungannya yang tengah terengah. Dada itu naik turun seolah kembali memanggilnya.
"Apa sayang? apa ada yang sakit?" tanya Ibrahim penuh perhatian, ia bahkan menghentikan hentakkan nya dan membiarkan kedua inti itu tetap menyatu dalam diam.
Sebuah kata cinta yang memang harus ia ucapkan.
"Andai kamu bisa melihat hatiku, kamu akan tahu bahwa aku lebih mencintaimu," balas Ibrahim pula.
Keduanya tersenyum, Ibrahim benar-benar merasa lega setelah semuanya terkuak. Tak ada lagi yang mengganjal di hatinya. Kini semuanya penuh dengan cinta untuk Aira.
Ibrahim kembali merunduk, menjangkau bibir ranum sang istri dan mulai menggerakkan pinggulnya naik turun.
Sampai waktu subuh tiba, keduanya masih bergulat. Namun kini tidak lagi di atas ranjang. Namun dibawah kucuran air hangat di dalam kamar mandi.
Merasakan denyut yang begitu memabukkan.
Baik Ibrahim ataupun Aira sama-sama sudah memutuskan untuk menjadikan masa lalu sebagai sebuah pembelajaran. Dan masa depan adalah sebaik-baiknya pengharapan.
__ADS_1
"Mas, aku lelah," ucap Aira, setelah pelepasan mereka yang entah sudah ke berapa kali.
"Maafkan aku sayang, ini yang terakhir hari ini," jawab Ibra, ia lalu melepaskan diri dan mulai membasuh tubuh sang istri.
Memasangkan handuk dan menggendong Aira hingga duduk di sisi ranjang.
Belum sempat mereka memakai baju, terdengar suara pintu kamar yang di ketuk.
Lalu terdengar suara bik Sumi di depan sana.
Ibrahim lantas membuka pintu itu dan meminta Aira untuk tetap duduk.
"Maaf Tuan, di bawah ada Nyonya Sonya," ucap bil Sumi dengan tak enak hati. Ia tahu semua tentang semalam, tentang kondisi Nyonya Aira yang sesungguhnya.
Bik Sumi tahu saat ini pasti tuan Ibrahim dan nyonya Aira butuh waktu untuk berdua, namun di bawah sana sudah ada nyonya Sonya yang berteriak-teriak.
"Baik Bi, jangan biarkan dia naik ke atas dan jangan pertemukan Yusuf dengan dia."
"Baik Tuan."
Setelahnya bik Sumi pergi dan Ibrahim kembali menutup pintu itu rapat, bahkan juga menguncinya.
"Kenapa Mas?" tanya Aira, rambutnya masih basah bahkan pundaknya yang terbuka pun masih terlihat ada beberapa tetes air.
"Tidak ada apa-apa sayang, ku pakaikan baju ya," pinta Ibrahim dan Aira menganggukkan kepalanya.
Aira tak lagi canggung saat tubuh polosnya di tatapi oleh sang suami meski tak lagi menyatu seperti ini. Seolah apa yang dia punya, kini pun menjadi milik Ibrahim dan begitupun sebaliknya.
Kecupan hangat kembali Ibrahim berikan untuk sang istri sebelum ia pamit untuk keluar.
"Tunggu disini, jangan keluar sebelum aku memanggilmu," titah Ibrahim dan Aira mengangguk dengan patuh.
Ibrahim keluar sendiri, lalu meminta salah satu pelayan untuk mengantarkan sarapan Aira di kamar. Ia juga meminta kepada pelayan itu untuk tidak memberi tahu Aira tentang kedatangan Sonya.
__ADS_1
Setelahnya Ibrahim menemui Sonya seorang diri di ruang tamu.