Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 49 - Ibu Sambung


__ADS_3

Pagi ini terasa begitu cerah bagi Aira, setelah shalat subuh berjamaah, dia pun langsung memeluk suaminya erat meski masih sama-sama duduk bersimpuh di atas sajadah.


Dan Ibrahim pun membalasnya, seraya mencium pucuk kepala sang istri dengan sayang.


"Jadi, jika bukan karena bapak dan ibu kamu tidak akan memelukku seperti ini?" ledek Ibrahim, Aira dengan cepat melepas pelukannya dan menatap sang suami tajam.


"Perasaan setiap hari aku selalu memeluk mas Ibra," keluh Aira, ia mencebik merasa tidak terima dan Ibrahim yang gemas pun langsung mengecup sekilas bibir munyung itu.


Membuat Aira semakin mencebik dsn mencubit bibir perut Ibrahim pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai sarapan bersama, Ibrahim dan Aira pun mulai bersiap untuk pergi ke Tegal. Menjemput kedua orang tua Aira untuk diajak tinggal bersama disini.


Yusuf tidak ikut bersama mereka, mengingat perjalanan yang akan membuat anaknya itu lelah, Ibrahim bahkan masih sibuk sendiri dengan banyak makanan di mulutnya. Di suapi dengan mbak Ita tapi lebih banyak mainnya.


"Mbak Ita, nanti vitamin Yusuf jangan lupa dikasih ya," ucap Aira, sebelum ia naik ke lantai 2 untuk bersiap. Sementara Ibrahim sudah lebih dulu naik ke kamar mereka.


"Iya Nyonya, tapi sebenarnya tuan Yusuf lebih suka yang warna anggur, kalau yang ini dia kurang suka," jujur mbak Ita, rasa apel Yusuf memang tidak begitu menyukainya.


"Ya sudah tidak apa-apa, selagi Yusuf mau berikan saja, nanti kalau sudah habis baru kita beli yang anggur."


"Baik Nyonya," jawab Ita patuh.


Aira pun mengelus pucuk kepala sang anak baru setelahnya meninggalkan ruang makan.


Saat hendak menaiki anak tangga kakinya terhenti melangkah, ketika mendengar ada seseorang yang datang di ruang tamu.


Aira pun mundur dan mendatangi ruang tamu itu.


"Ibu Rachel," panggil Aira saat melihat ibu Rachel di sana, tidak sendiri, beliau datang bersama pak Basir dengan raut wajah yang begitu sendu.

__ADS_1


"Ibu, ada apa?" tanya Aira yang mendadak cemas pula, ia bahkan langsung memeluk ibu Rachel dan mengajaknya duduk, pak Basir pun mengikuti.


"Tolong ibu Aira, tolong ibu," mohon bu Rachel.


Aira pun terkejut mendengar permohonan itu. Lalu mendengarkan dengan seksama penjelasan ibu Rachel selanjutnya.


Adisty dinyatakan koma, sementara anak laki-laki mereka menolak saat diberi susu formula.


Anak Adisty dan Dirga terus menangis. Dokter mengatakan jika anak Adisty dan Dirga membutuhkan ibu sambung yang bisa menyusuinya langsung, bayi mungil itu ingin merasakan sentuhan sang ibu.


Air mata Aira mengalir saat mendengarnya, apalagi ibu Rachel pun bercerita dengan sesenggukan, menahan sesak di dada.


"Ya Allah Bu, Aira pasti bantu ibu, aku akan memberi tahu mas Ibra dan kita bersama-sama kembali ke rumah sakit," jawab Aira setelah ibu Rachel selesai bercerita.


Aira pun segera berlalu dari ruang tamu itu dan segera naik ke lantai 2 menyusul sang suami di dalam kamar.


Masuk tanpa mengetuk pintu dan tergesa menghampiri sang suami.


Dan tanpa mengulur-ngulur waktu, Aira pun langsung menceritakan semuanya pada sang suami. Tentang Dirga, Adisty, anaknya dan juga permohonan ibu Rachel dan pak Basir.


Ada desiran di hati Ibrahim saat mendengar Aira bercerita, ada ketidakrelaan di hatinya yang ia rasa saat Aira hendak menyusui anak dari orang lain.


"Bagaimana jika aku tidak mengizinkannya?" tanya Ibrahim lirih dan seketika wajah Aira jadi pias.


Seorang bayi kecil menangis dan membutuhkan sentuhan seorang ibu dan Ibrahim malah berkeras kepala seperti ini.


Sejenak diam dan Aira mulai tahu jika Ibrahim pasti tidak merasa nyaman karena anak bayi itu adalah anak Dirga.


"Mas, kamu tidak mempercayai ku?" tanya Aira tak kalah lirih.


"Aku ingin melakukan ini demi kemanusiaan, demi Adisty dan anaknya, demi permohonan ibu Rachel dan pak Basir, bukan demi seseorang yang kamu cemburui itu," jelas Aira, ia menyentuh lengan Ibrahim dengan lembut, lalu membelai wajah suaminya dengan sayang.

__ADS_1


Dan mendengar penjelasan Aira cukup membuat Ibrahim mengerti, meski kecil Ibrahim pun akhirnya menganggukkan kepala.


Aira lantas langsung memeluk suaminya erat. Pun Ibrahim yang membalas pelukan itu.


Pagi itu mereka tidak jadi pergi ke Tegal untuk menjemput pak Imam dan Ibu Asma, pagi itu Aira dan Ibrahim ikut ibu Rachel dan pak Basir ke rumah sakit.


Sampai di sana, Aira langsung menggendong anak Adisty dan Dirga yang menangis. Hingga tak berselang lama tangis itu mereda dan bayi mungil itu menyusu pada Aira.


Aira pun langsung mendongakkan kepalanya, menatap sang suami yang setia berdiri disampingnya.


"Mas lihat kan, dia kecil sekali, apa mas tega membiarkan dia menangis terus?" tanya Aira dan Ibrahim pun langsung meluruhkan tubuhnya dan berjongkok di harapan sang istri.


"Maaf kan aku," ucap Ibrahim.


Nyaris saja cemburu kembali membuatnya buta. Nyaris saja ia kembali melakukan kesalahan yang akan membuatnya menyesal, bayi ini tidak bersalah dan dia berhak mendapatkan kasih sayang dari siapapun, termasuk istrinya Aira dan juga dirinya.


Setelah menyusu dengan Aira anak Adisty dan Dirga tertidur dengan pulas.


Pak Basir dan ibu Rachel tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih kepada Aira dan Ibrahim. Termasuk Dirga.


"Terima kasih," ucap Dirga, ia bicara dan menatap pada Ibrahim dan Ibrahim pun menjawabnya hanya dengan anggukan kecil.


Masih tetap ada rasa yang mengganjal di hati Ibra, namun ia coba terus untuk menekannya.


Siang hari Anak Dirga dan Adisty sudah diperbolehkan pulang. Ibu Rachel pun menggendongnya dengan sayang.


Aira mengatakan jika ia akan mengirimkan asi asi yang sudah ia pompa ke rumah ibu Rachel, berharap dengan Asi itu si babang bayi mau untuk menyusu.


Lagi-lagi pun ibu Rachel mengucapkan kata terima kasih. Dan andaikan anak Adisty dan Dirga tidak ingin menyusu menggunakan dot Aira pun bersedia menyusuinya langsung, dengan syarat bayi ini ikut mereka pulang ke rumah keluarga Suryo.


Ibu Rachel dan pak Basir pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Lain halnya dengan Dirga yang juga merasa tidak rela, sama seperti yang di rasakan oleh Ibrahim.


__ADS_2