Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 59 - Dua Keluarga


__ADS_3

Belajar dari masa lalu tentang kehamilan Aira, di trisemester pertama kandungan Aira pasti masih lemah. Bukan hanya tidak boleh lelah secara fisik, Aira juga tidak boleh memiliki beban pikiran.


Dan Ibrahim sangat memahami akan hal itu. Karena selama dua kali kehamilan sebelumnya Ibrahim selalu melihat Aira yang terluka tiap di kehamilan trisemester pertamanya.


Karena itulah kini Ibrahim ingin kejadian itu tidak kembali terulang, tidak ingin kembali membuat Aira terluka.


Ibrahim bahkan memindahkan semua pekerjaannya di rumah. Selama kehamilan Aira masih lemah, dia memutuskan akan bekerja dari rumah saja, agar dia bisa menjaga sang istri selama 24 jam.


"Di rumah kan sudah ada ibu dan bapak, harusnya kalau Mas Ibra mau kerja aku tidak apa-apa," ucap Aira, kini ia mengeringkan rambut suaminya yang baru selesai mandi. Menggunakan handuk kecil berwarna putih Aira mengusap lembut kepala suaminya.


"Jadi kamu tidak senang aku di rumah?" tanya Ibrahim menggoda sang istri. Ibrahim menebak pasti istrinya saat ini sedang cemberut, dan benar seperti dugaannya saat ia mengangkat kepala Ibrahim melihat wajah Aira yang sedang cemberut, terlihat begitu menggemaskan.


Seperti anak kecil yang sedang marah, rasanya Ibrahim ingin segera memberi permen kepada Aira.


"Mau permen?"


"Nggak mau! permen Mas Ibra tidak manis!" jawab Aira cepat, namun menjawab dengan ambigu membuat keduanya saling tatap lalu terkekeh bersamaan.


Selesai mengeringkan rambut sang suami Aira pun membantu Ibrahim untuk memakai baju. Diperlakukan seperti ini membuat Ibrahim mengulum senyum, niatnya dia berhenti bekerja di kantor untuk memanjakan Aira, namun kini malah dia yang dimanjakan oleh sang istri.


"Sayang, dulu kita tidak pernah melakukan honey moon Bagaimana jika sekarang kita baby moon?"


"Baby moon itu apa Mas?" tanya Aira yang sungguh tidak tahu, jika haney moon dia sering mendengarnya, pengantin baru yang menghabiskan waktu hanya berdua saja di sebuah pulau, hotel atau berlibur ke manapun.


Tapi baby moon Aira sungguh tidak tahu.


Sebelum menjawab pertanyaan sang istri, Ibrahim lebih dulu menarik pinggang Aira dan mendudukkannya di atas pangkuan. Mereka saling memangku di depan meja rias Aira.


"Baby moon sama saja seperti haoneymoon, hanya saja dilakukan saat istrinya sedang hamil, sama seperti kamu saat ini," jawab Ibrahim.


Aira menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami, membuat jarak keduanya semakin dekat.

__ADS_1


"Memangnya boleh pergi liburan di saat aku sedang hamil? kata dokter Irna aku harus banyak beristirahat," balas Aira pula. takut nanti dia akan kelelahan saat sedang liburan.


"Hem, iya juga ya. Tapi Bagaimana jika kita pergi setelah kandunganmu kuat. kurasa itu tidak masalah, yang penting kita baby moon," jawab Ibrahim, yang masih kukuh untuk melakukan baby moon bersama sang istri.


Saat itu Ibrahim akan benar-benar memanjakan Aira. Membelikan apapun yang istrinya mau, juga melakukan apapun yang istrinya minta dengan suasana yang lebih romantis ketimbang di rumah.


"Aku ikut Mas Ibra saja," balas Aira.


Keduanya saling tatap dengan bibir yang sama-sama mengukir senyum. Lalu lambat laun jarak itu semakin terkikis hingga akhirnya saling terpaut.


Aira tak segan memainkan lidahnya, berkelana menyusuri tiap sudut mulut sang suami. Pun Ibrahim yang membalas tak kalah liar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Pak Basir.


Sudah berusia 3 bulan Akbar jadi semakin menggemaskan. Disaat Dirga pergi bekerja, ibu Rachel dibantu oleh seorang babysitter untuk merawat Akbar.


Saat jam 4 sore Dirga pulang, dia langsung menemui sang anak dan menggendongnya dengan sayang. Tiap kali melihat Akbar rasa bersalah kepada Adisty kembali ia rasa.


Seolah kenangan buruk beberapa bulan lalu masih terekam jelas di dalam kepalanya, seolah terus berputar tepat di pelupuk mata.


Sampai kapanpun Dirga tidak akan pernah bisa melupakan itu. Karena perasaannya kepada Aira, dia membuat istrinya meninggal.


"Akbaaarr," ucap Dirga memanggil sang anak yany berada di dalam gendongannya.


Ibu Rachel yang mendengar itu tersenyum kecil, rasanya dia pun belum bisa melupakan nama Nusa yang tersemat pada sang cucu.


Diam-diam disaat Dirga pergi bekerja terkadang Ibu Rachel pun masih memanggil Akbar dengan sebutan Nusa dan cucunya langsung menyahut seolah mengerti. Seolah panggilan itu lebih dikenal oleh cucunya.


"Dirga," panggil ibu Rachel.

__ADS_1


Dipanggil oleh sang Ibu Dirga pun langsung duduk di sebelah Ibunya sambil terus memangku Akbar.


"Apa Bu? apa ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan?" tanya Dirga.


Ibu Rachel tidak langsung menjawab, dia masih mengamati wajah sang anak melihat apakah Dirga memiliki hari yang baik atau buruk hari ini.


Karena yang ingin dia bicarakan mungkin akan membuat suasana hati Dirga menjadi murung.


Dilihatnya Dirga yang tersenyum membalas tatapannya, membuat Ibu Rachel merasa jika mungkin kinilah saatnya dia membicarakan tentang Ibrahim dan Aira.


Tentang hubungan mereka yang seolah tidak ada ujungnya. Terus berselisih entah karena apa.


"Dirga, Ibu tidak tahu apa yang terjadi diantara kamu Ibrahim dan Aira tapi Ibu sangat berharap kalian bisa memiliki hubungan yang baik," ucap ibu Rachel.


Namun seketika mendengar ucapan ibunya itu, raut wajah Dirga berubah jadi masam. Tidak ada lagi senyum di bibirnya sedikit pun.


Tidak ada yang tahu memang tentang perasaannya yang tak terbalas kepada Aira dan selama ini pun dia memang menutupnya begitu rapat.


Perasaan bersalah Dirga kepada Adisty membuat Dirga enggan bertemu dengan Aira, juga tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan wanita itu.


Dirga bahkan seolah ingin lupa bahwa anaknya pernah diselamatkan oleh Aira. Semua hubungan yang pernah ada dengan wanita itu ingin Dirga putus.


Tapi Ibu Rachel ataupun pak Basir tidak tahu alasan itu, yang mereka tahu hanyalah Dirga yang terus berkeras kepala dengan pikirannya sendiri. Membenci Aira dan Ibrahim dengan alasan yang tidak tepat. menilai Aira bodoh karena berasal dari desa juga menilai Ibrahim sebagai pembunuh karena ketidaksengajaan yang membuat Aira keguguran.


Sudah 3 bulan waktu berlalu dan ibu Rachel sungguh ingin mengakhiri pemikiran salah anaknya itu. Ibu Rachel ingin Dirga meminta maaf kepada Aira dan Ibrahim lalu mereka menjalin hubungan yang baik, hubungan persaudaraan.


"Maaf Bu, aku tidak bisa. Aku memiliki alasanku sendiri kenapa menjauh dari keluarga itu," balas Dirga.


Setelahnya Dia segera bangkit dan berlalu dari sana meninggalkan Ibu Rachel di ruang tengah, sementara dia masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan membawa Akbar.


Melihat itu Ibu Rachel hanya mampu menghembuskan nafasnya berat. Sebagai orangtua dia merasa telah gagal mendidik sang anak. Dirga kini menjadi sangat egois dan tidak tahu artinya berterima kasih.

__ADS_1


Membuat dua keluarga yang harusnya memiliki hubungan yang baik, kini terasa seperti bermusuhan.


__ADS_2