
Jam 10 malam, Ibrahim belum juga mengistirahatkan tubuhnya. Ia masih terjaga dan duduk di ruang kerjanya yang berada di rumah.
Ditatapinyalah foto sang kakek yang berada di dalam figura kecil diataa meja.
Dalam hatinya Ibrahim terus bertanya, kenapa kakek Pram memilihkan Aira sebagai istri keduanya.
Seorang wanita yang pandai bersandiwara, seorang penipu yang bersembunyi di balik wajahnya yang polos.
"Kakek meninggal dan memberikanku beban," ucap Ibrahim.
Dalam pikirannya ia begitu membenci sosok sang istri kedua, namun dalam hatinya Ibrahim tak bisa bohong jika cinta itu sudah ada disana.
Mencintai seorang wanita yang begitu ia benci membuatnya bersikap seperti ini. Merubah perasaan tulus itu menjadi perlakuan yang kejam.
Ibrahim terus berada di ruang kerja hingga tengah malam. Tepat jam 12 malam itulah ia kambali menuju kamar Aira.
Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Sonya yang baru pulang entah darimana. Terlihat jelas olehnya jika saat ini Sonya tengah mabuk.
Melihat itu, harga diri Ibrahim benar-benar merasa tercoreng. Melihat wanita pilihannya, wanita yang dicintainya dan wanita yang selalu ia bangga-bangga kan ternyata seperti itu, pemabuk, bahkan tak sadar jika kini ia sudah menjadi seorang istri.
Tak sanggup melihat harga dirinya sendiri yang terluka, Ibrahim memilih acuh, tidak memperdulikan Sonya dan segera masuk ke dalam kamar Aira.
Melihat istri keduanya itu yang ternyata juga masih terjaga. Menyusui Yusuf di sofa khusus menyusuinya.
"Kamu belum tidur?" tanya Ibrahim, ia duduk di sofa yang lain dan memperhatikan.
"Terlihatnya bagaimana? apa aku sudah tidur?" balas Aira, menjawab dengan pertanyaan pula.
Ibrahim yang sudah merasa penat dan tidak ingin berdebat pun hanya diam. Tak membalas ucapan Aira walau hanya sepatah katapun.
Bahkan wajahnya tetal datar, tak menunjukkan ekspresi andalannya, tatapan menghina.
Diamnya Ibrahim itu justru membuat Aira semakin menatapnya dalam. Dengan hati yang terus bertanya ada apa.
Blup!
Yusuf melepaskan susuanya, begitu saja melepas pucuk dada sang ibu. Ibrahim yang terus memperhatikan pun melihat dengan jelas pemandangan itu. Ia pun mengukir senyumnya tipis.
Namun sedikit terkejut dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Aira. Ibrahim kira Aira akan merasa malu dan buru-buru menutupi itu. Namun nyatanya Aira biasa saja, bahkan lebih dulu mengelap bibir sang anak menggunakan tissue barulah menutup dadanya yang terbuka.
Aira benar-benar bersikap seolah Ibrahim tidak ada disini. Membuat senyum tipis Ibrahim menghilang seketika.
Dan setelah menidurkan Yusuf kembali di dalam boxsnya, Aira pun kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tidur meringkuk dan membelakangi tempat tidur sang suami.
__ADS_1
Tak ada kata, membuat kamar ini terasa begitu senyap. Bahkan mampu membuat Ibrahim merasakan hampa di relung hatinya. Seolah ads yang hilang dari dalam hidupnya.
Sikap acuh Aira itu benar-benar mampu membuatnya tersiksa.
Ibrahim lantas menarik dan menghembuskan nafasnya pelan, lalu ikut berbaring di atas ranjang. Tanpa menunggu lama ia pun langsung memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.
Membawa Aira semakin masuk ke dalam dekapannya.
"Bermainlah yang cantik seperti satu bulan lalu, saat kamu bersandiwara seolah mencintaiku;" desis Ibrahim tepat di telinga Aira.
Satu tangannya bahkan sudah menelusup masuk ke dalam baju tidur sang istri. Membuat tangannya itu tetap bersarang di dada Aira.
"Aku akan senang jika kamu mengucapkan kata cinta, meski itu hanya sebuah kebohongan," ucap Ibrahim lagi. Kini ia pun menciumi tengkuk Aira yang terbuka dan semakin memeluk erat sang istri.
Aira tak menjawab apapun, ia hanya diam saat suami terus menjamah tubuhnya. Bahkan membuatnya berbalik dan terpaksa membalas pelukan Ibra.
"Bagus, peluk aku seperti itu," ucap Ibranim.
Berhasil membuat tubuh bagian atas Aira menjadi polos dan menjadikan kedua dada itu sebagai sandarannya.
Hingga lambat laun Ibrahim pun menutup matanya, tertidur.
Sementara Aira masih terjaga, menatap wajah sang suami yang nampak terlelap di dalam dekapannya, kedua mata Ibrahim terpejam dan terdengar dengkuran halus.
Sebuah pelukan yang membuat Aira merasa nyaman namun sakit sekaligus.
Satu tangannya bergerak mengelus lembut wajah sang suami. Seseorang yang terus menyakiti hatinya, juga seseorang berhasil menguasai hatinya.
Cinta yang penah tumbuh nyatanya tak mampu semudah itu Aira bunuh, meskipun benci sudah menguasai hatinya, nyatanya ketika melihat sang suami terlelap seperti ini membuat hatinya kembali berdesir.
Bahkan setiap sentuhan yang Ibrahim lakukan padanya, membuatnya tak pernah bisa lupa.
Pelan Aira pun menghembuskan nafasnya. Ikut memejamkan mata dan mecoba terlelap.
Malam itu keduanya saling memeluk erat. Seolah tak ada perselisihan diantara keduanya.
Namun saat pagi datang, mereka saling melepas dan dingin diantara keduanya kembali mengambil alih.
Saat sarapan, Sonya tidak ada disana. Namun baik Aira ataupun Ibrahim benar-benar sudah tak ada yang memperdulikan wanita itu lagi.
Aira pun merasakan kekecewaan yang sama pada Sonya. Kebaikannya yang selalu diabaikan membuat Aira pun kini acuh.
Suasana sarapan yang dingin itu akhirnya usai. Ibrahim dan Aira segera bergegas menuju SM Corp.
__ADS_1
Kali mereka pergi secara terpisah, Aira pergi bersama Luna sementara Ibrahim mengendarai mobilnya sendiri.
Hari ini Aira akan mulai memperlaru sistem kerja di SM Corp, juga membaca beberapa laporan yang digunakan untuk mengevaluasi perkerjaan tiap departemen.
Tidak terburu-buru mempelajari semuanya, membuat Aira bisa lebih fokus belajar tentang satu hal lalu berganti dengan hal yang lainnya.
Aira bahkan butuh waktu 3 bulan untuk benar-benar mengerti apa pekerjaannya, apa tugasnya, hak dan juga kewajiban.
3 bulan berlalu itupun hubungannya dengan sang suami tetap dingin. Meski tiap malam mereka selalu menghabiskan malam bersama.
Seperti malam ini, setelah mendapatkan pelepasannya Ibrahim terlelap.
Sementara Aira bangun untuk membersihkan diri. Lalu membuka tas kerjanya dan mencari-cari sesuatu disana.
Mencari pil KB yang sudah rutin ia konsumsi selama 2 bulan terakir.
Kata orang-orang, mengkonsumsi pil KB saat sedang menyusui seperti ini akan mempengaruhi produksi Asi. Asi akan berkurang dan anak kekurangan nutrisi.
Namun hal itu tidak berpengaruh bagi Aira, mengkonsumsi pil KB ini malah membuat Asinya semakin berlimpah.
Setelah menemukan botol kecil yang ia cari, Aira pun meminumnya satu. Dan kembali memasukkan botol itu ke dalam tas kerjanya.
Dilihatnya oleh Aira saat ini sudah jam 2 dinihari. Yusuf dan Ibrahim sudah sama-sama tertidur pulas.
"Kenapa perutku mual ya?" gumam Aira, lirih.
"Sepertinya aku masuk angin."
Aira lantas segera mencari minyak kayu putih dan mengoleskannya diseluruh perut.
"Kenapa berisik sekali sih, cepat sini tidur!" ucap Ibrahim, berbicara dengan suaranya yang meninggi dan serak. Namun kedua matanya tetap terpejam.
Sementara Aira tak peduli, ia terus mengusap minyak kayu putih itu di seluruh perut dan pinggang.
Lama menunggu dan Aira tak datang membuat Ibrahim akhirnya bangun, duduk dan melihat istrinya itu sibuk sendiri.
"Sini!" titah Ibrahim.
"SINI!" bentak Ibrahim karena Aira hanya diam.
"Jangan membentakku," balas Aira, ia masih memilih acuh, Aira paling benci jika diperlakukan kasar seperti ini.
"Aku tidak akan membentakmu andaikan kamu menurut," balas Ibrahim. Ia lantas segera turun dari atas ranjang dan menghampiri Aira yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Lalu menggendong istrinya itu untuk kembali keatas ranjang.
Inilah Ibrahim, seseorang yang masih menjadi misteri bagi Aira. Sesaat ia begitu kasar, lalu setelahnya berubah jadi begitu lembut.