
Dirga tidak langsung masuk ke dalam halaman rumah Ibrahim. Dia masih menghentikan mobilnya di depan gerbang tinggi rumah itu.
Melihat Ibrahim yang pergi membuatnya ragu untuk masuk, merasa canggung untuk menemui Aira seorang diri di rumah ini. Bagaimanapun perasaannya pada Aira, namun kini mereka sama-sama sudah menikah.
Dirga tidak ingin dikemudian hari akan ada fitnah untuk mereka jika bertemu hanya berdua.
Namun saat ini Dirga sungguh ingin menemui anaknya. Tidak ingin mundur dan pergi dari sana, akhirnya Dirga menelpon sang ibu.
Saat pak Basir menerima telepon dari Ibrahim, saat itu ibu Rachel pun menerima telepon dari Dirga.
"Bu, hari ini aku ingin menemui anakku, bisakah ibu menemaniku?" tanya Dirga.
Namun ibu Rachel yang masih menaruh kesal pada sang anak pun merasa enggan untuk menuruti sang anak.
"Kenapa? kamu ingin mengambil anakmu? Tidak menginginkan Aira untuk merawatnya? jika seperti itu datanglah sendiri ke rumah itu, ibu tidak akan menemanimu. Urus anakmu sendiri jika kamu mampu," balas ibu Rachel.
Dia tidak tahu perkara Ibrahim yang pergi ke Tegal untuk menjemput kedua mertuanya.
Dan mendengar jawaban sang ibu, membuat Dirga menghembuskan nafasnya pelan. Kenapa kini dia jadi terlihat begitu buruk di mata sang ibu? padahal dia hanya menghawatirkan anaknya jika sampai berada di pengasuhan Aira dan Ibrahim.
"Maafkan aku tentang kemarin Bu, sekarang aku hanya ingin menemui anakku, tapi Ibrahim sedang pergi, tidak mungkin aku dan Aira hanya bertemu berdua kan?" tanya Dirga pula.
Sebenarnya bukan masalah mereka bertemu berdua, lagi pula mereka tidak akan benar-benar bertemu berdua, karena banyak pelayan di rumah itu. Yang jadi masalah adalah karena Dirga masih memendam rasa. Dirga tidak ingin rasa itu kembali muncul dan merusak semuanya.
Pun rasanya tidak tega pada sang istri yang tengah koma di rumah sakit jika sampai dia menemui Aira hanya berdua.
Di ujung sana ibu Rachel menghela nafasnya pelan, akhirnya dia menyetujui keinginan sang anak.
Setelah panggilannya dengan Dirga terputus, suaminya pak Basir pun langsung mengatakan tentang kekhawatiran Ibrahim pada Aira.
Meminta mereka untuk datang ke rumah itu.
Sejenak hati ibu Rachel tersentak, berpikir jika ini semua berhubungan. Tentang kekhawatiran Ibra dan tentang kedatangan Dirga ke rumah mereka.
__ADS_1
Tidak ingin semuanya menjadi buruk, ibu Rachel pun mengajak sang suami untuk segera menemui Aira saat itu juga.
Menempuh perjalanan beberapa menit dan akhirnya mereka sampai di rumah Ibrahim.
Ibu Rachel dan pak Basir pun melihat mobil Dirga yang terparkir di depan pintu gerbang rumah keluarga suryo ini.
Lalu mereka pun masuk bersama-sama.
"Kamu sudah disini sejak tadi?" tanya ibu Rachel dan Dirga menganggukkan kepalanya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan disambut oleh pelayan keluarga Suryo, bik Sumi pun meminta pada semuanya untuk menunggu di ruang tengah, sementara dia akan memanggilkan Aira dan bayi mungil Dirga untuk turun.
Bik Sumi naik ke lantai 2 dan segera menuju kamar sang nyonya, mengetuknya lalu masuk.
"Maaf Nyonya, di bawah sedang ada pak Basir, ibu Rachel dan Dirga," ucap bik Sumi menyampaikan tentang kedatangan keluarga baby Nusa.
"Oh iya Bik, aku pakai hijab dulu," jawab Aira, ia pun meminta pada bik Sumi untuk membawa Baby Nusa yang sedang di gendongnya. Di kamar itupun ada Yusuf dan mbak Ita juga.
Melihat pemandangan itu membuat hati Dirga kembali membenci Aira. Merasa Aira enggan untuk menggendong anaknya. Padahal sejal kemarin, semalam dan pagi ini waktu Aira hanya tercurah untuk baby Nusa.
Mengurus bayi bukanlah perkara yang mudah?
Bahkan kini baby Nusa pun sedang tertidur dengan nyenyak.
"Ibu," sapa Aira pada ibu Rachel.
Ibu Rachel pun langsung memeluk Aira erat, melihat wajah Aira yang nampak lelah dan cucunya yang tertidur pulas ia tahu, Aira sudah melakukan banyak hal untuk sang cucu.
"Kamu lelah? ibu akan disini untuk menemani kamu menjaga anak Dirga," ucap ibu Rachel.
"Tidak bu, aku tidak lelah. Lagi pula ada mbak Ita dan bik Sumi yang membantuku."
Dirga berdecih pelan ketika mendengar itu. Kebenciannya masih menutup semua perbuatan baik yang sudah Aira lakukan.
__ADS_1
Dirga pum bangkit dari duduknya, mengambil sang anak di gendongan bik Sumi dan digendongnya sendiri. Dirga bahkan langsung menyingkir dari sana, ingin memiliki waktu berdua hanya dengan sang anak.
Dirga bahkan sedikitpun tidak menyapa Aira, tetap bersikap dingin pada wanita yang sudah merawat anaknya dengan baik.
"Maafkan sikap dingin Dirga Aira," ucap pak Basir yang sungguh tidak enak hati dengan sikap anaknya itu.
Namun sungguh, Aira sedikitpun tidak merasa tersinggung dengan sikap Dirga itu. Aira sudah menganggap jika sikap dingin itu adalah karakter Dirga. Dan dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
"Aku baik-baik saja Pak, Bu. Aku tahu Dirga memang orangnya seperti itu," jawab Aira yang tidak menaruh pikiran buruk sedikitpun pada pengacara muda itu.
Mereka lantas berbincang, membicarakan tentang kepergian Ibrahim ke Tegal. Tentang keinginan mereka untuk tinggal bersama kedua orang tua Aira.
Pak Basir dan ibu Rachel yang mendengar rencana Aira dan Ibrahim pun merasa tersentuh. Merasa ikut bahagia saat anak-anak ingin berbakti kepada kedua orang tuanya seperti ini. Bahkan Ibrahim sampai rela menjemput sendiri kedua mertuanya.
Pak Basir dan ibu Rachel pun ingin anak-anaknya sama berbakti nya seperti Ibrahim dan Aira.
Pembicaraan mereka putus saat terdengar baby Nusa yang menangis di ujung sana. Mendengar itu Aira langsung bangkit dan sedikit berlari menghampiri Dirga dan Nusa.
Jiwa keibuannya membuatnya tak tega berlama-lama mendengar bayi menangis.
"Dirga, berikan padaku," pinta Aira, dengan Dirga ia memang memanggil tanpa embel-embel Mas, meskipun Dirga berusia lebih tua darinya. Bukan karena Aira tidak sopan, namun suaminya lah yang melarang Aira memanggil Dirga dengan sebutan Mas. Dan Aira menuruti keinginan suaminya itu.
"Aku bisa menenangkannya," tolak Dirga, ia bahkan langsung memutar tubuhnya membelakangi Aira dan terus menimang sang anak.
Tapi tangis Nusa tidak reda, membuat Aira semakin gusar.
"Berikan padaku," pinta Aira dengan suaranya yang sedikit meninggi.
Dirga yang tak kuasa melihat tangis sang anak pun dengan terpaksa memberikannya kepada Aira. Dan di depan matanya sendiri, dia melihat sang anak yang langsung terdiam saat berada di gendongan Aira.
Apalagi saat Aira mencium bayinya lembut, membuat hatinya kembali berdesir.
Dirga, hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1