
Jangan lupa Like dan Komen ya ❤
Happy reading
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bayang-bayang foto Sonya yang ditunjukkan oleh Luna sore tadi masih Aira ingat dengan jelas.
Bahkan rasanya Aira tidak akan pernah bisa lupa foto itu, sampai dia bertemu dengan Sonya secara langsung.
Dan diam termenung nya Aira itu disadari oleh Ibrahim. Apalagi saat makan malam bersama nampak jelas jika Aira yang tidak nafshu.
Ibrahim menduga pastilah penyebabnya pertemuan antara Aira dan Pak Dedi sore tadi.
"Apa ada hal lain yang Pak Dedi katakan selain tentang Sonya dan sakitnya?" tanya Ibrahim, selepas makan malam bersama kini mereka duduk di ruang tengah. menyaksikan Yusuf yang masih asyik bermain dan belum ngantuk sedikit pun.
Sementara baby Yuna sudah tidur di dalam box bayi kecil yang bisa dibawa kemana-mana. kini bayi mungil itu bahkan tidur disebelah Aira.
Dan ditanya seperti itu oleh Ibrahim membuat lamunan Aira buyar, dia langsung mengedipkan matanya dan menatap sang suami.
"Tidak Mas, Pak Dedi hanya mengatakan tentang mbak Sonya dan penyakitnya, tidak ada yang lain," jelas Aira dengan suaranya yang nampak gugup.
"Lalu kenapa kamu termenung? seolah sedang ada yang sedang kamu pikirkan."
Aira terdiam membuat Ibrahim kembali melayangkan sebuah pertanyaan.
"Kamu merahasiakan sesuatu dariku?"
Dan Aira mati kutu, dia memang tidak pandai dalam berbohong. Semua yang ada di dalam hatinya akan terlihat jelas di raut wajah. Entah itu rasa bahagia, kecewa atau pun perasaan bersalah dan iba seperti ini.
"Sebenarnya ... tadi Luna menunjukkan sesuatu padaku," jawab akhirnya.
Dia pun menjelaskan semua informasi yang didapat dari Luna, tentang foto yang memperlihatkan jelas bagaimana perubahan Sonya saat ini.
Sebuah perubahan yang membuat Aira sungguh merasa iba.
Apalagi semenjak Sonya di penjara mereka tidak pernah sekalipun melihat keadaan mantan istri pertama suaminya itu.
"Aku ingin sekali bertemu dengan mbak Sonya Mas, bolehkah?" minta Aira setelah dia menyelesaikan ceritanya.
__ADS_1
Menatap penuh harap kepada sang suami.
Sementara Ibrahim diam terpaku, sudah dia duga semuanya akan seperti ini. Antara dia dan Sonya tidak akan pernah benar-benar putus. Karena ada air yang selalu berada di tengah-tengah mereka.
Ibrahim tahu istrinya tidak akan pernah bisa acuh saat melihat keadaan Sonya yang melemah seperti itu.
Tapi Ibrahim pun juga tahu, jika Sonya adalah wanita licik yang tidak akan pernah bisa berubah. setiap ada kesempatan dia akan selalu mengambil celah untuk menyakiti Aira.
"Aku mohon Mas izinkan aku untuk menemui mbak Sonya."
"Kemarin kamu meminta aku untuk mengizinkan dia berobat. Sekarang kamu minta aku untuk mengizinkanmu menemui dia, aku yakin setelah ini kamu akan meminta hal yang lainnya lagi tentang dia," jawab Ibrahim.
Aira terdiam dengan tenggorokannya yang tercekat.
"Aku tidak tahu, di satu sisi aku ingin memaafkan dia, tapi di sisi lain rasanya aku tidak bisa untuk memaafkan dia." timpal Ibrahim lagi. Ada pergulatan batin di dalam hatinya.
Sementara Aira masih setia berdiam kata, seolah tak ada lagi kata-kata yang bisa terucap dari mulutnya. Apalagi saat melihat raut wajah sang suami yang mulai nampak dingin.
"Maafkan aku, Aku tahu aku salah." balas Aira setelah cukup lama hanya ada Hening di antara mereka.
Beberapa pelayan yang melewati ruang tengah itu dan melihat kedua majikannya pun merasa jika di antara mereka sedang ada pertengkaran.
Bukan hanya tatapan Ibrahim yang berubah jadi dingin, namun suasana rumah pun mendadak jadi mencekam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tadi malam setelah pembicaraan di ruang tengah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara Aira dan Ibrahim.
Mereka memang masih tetap tidur di ranjang yang sama, bahkan masih saling memeluk erat.
Tapi ada satu yang berbeda, rasanya pelukan itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Tubuh mereka memang saling memeluk. Tapi pikiran mereka melayang jauh entah ke mana.
Dan pagi ini, Ibrahim bersiap untuk pergi ke kantor. Padahal biasanya Ibrahim selalu mengerjakan semua pekerjaannya di rumah.
Hal itu cukup membuat hati Aira merasa sesak.
Rasanya dia ingin menangis andai tidak ingat jika saat ini mereka berada di ruang makan.
__ADS_1
Sekuat tenaga Aira menahan agar air matanya tidak jatuh, agar tidak merusak nafshu makan sang suami saat melihat dia menangis di sini.
Hingga akhirnya Ibrahim menyelesaikan sarapannya.
"Aku pergi," pamit Ibrahim.
Dan Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya, karena mulutnya tak kuasa untuk terbuka. Andai dia bicara pasti dia akan langsung menangis saat itu juga.
Ibrahim tidak memberikan ciuman kepada Aira, dia hanya mengelus puncak kepala istrinya itu dengan sayang lalu segera pergi dari sana.
Masuk kedalam mobilnya dan duduk di kursi Tengah dengan pikiran yang entah.
Sedangkan Robby yang mengemudi mobil itu pun merasa jika Tuannya kini sedang memiliki banyak pikiran di kepalanya.
Di kantor tidak ada pekerjaan penting yang mengharuskan Ibrahim untuk datang, tapi tuannya itu mengatakan jika pagi ini dia ingin pergi ke kantor. Hal itu juga cukup membuat Robby merasa heran.
"Robby, tidak perlu ke kantor. Bawa aku ke tempat Sonya di rawat saat ini," ucap Ibrahim dengan suaranya yang masih terdengar dingin.
"Baik Tuan," jawab Robby patuh.
Setelahnya dia memutar kemudi, bukan menuju SM corporation melainkan menuju salah satu rumah sakit ternama di kota Jakarta, tempat di mana Sonya di rawat saat ini setelah mendapatkan izin dari Aira.
Menempuh perjalanan beberapa menit dan akhirnya mereka sampai di rumah sakit itu.
Robby langsung memimpin jalan, mengantar sang Tuan menuju tempat di mana Sonya dirawat.
Dari jarak yang cukup aman Ibrahim memperhatikan Mantan istrinya di ujung sana.
Sonya yang duduk di kursi roda dan menunggu waktu pemeriksaannya tiba. Di belakangnya ada Pak Dedi yang sedang mendorong kursi roda itu. Sementara Ibu Sahira berbicara dengan salah satu perawat.
Benar seperti yang diucapkan oleh Aira semalam, bahwa Sonya sudah banyak mengalami perubahan pada tubuhnya.
Kini Sonya nampak lebih kurus dan terlihat tak bertenaga. Wajar saja jika sang istri merasa begitu iba melihat keadaan Sonya saat ini.
Karena di dalam sudut hatinya yang paling dalam pun Ibrahim merasakan hal yang sama, dia menaruh rasa iba kepada Sonya.
Ibrahim kira dia tidak akan merasa kasihan kepada Sonya bagaimanapun keadaan Mantan istrinya itu. Tapi ternyata dia tidak sejahat itu.
Meski Sonya adalah penyebab kakek Pram meninggal, tapi kini saat melihat Sonya yang tak berdaya seperti itu, Ibrahim memutuskan untuk siap mulai memaafkannya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Tidak menghampiri Sonya dan keluarganya, Ibrahim segera berlalu dari sana.
Tujuannya kini hanya satu, pulang dan meminta maaf kepada sang istri. Lalu mengizinkan istrinya itu untuk menemui Sonya secara langsung.