Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 69 - Izin Ibrahim


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa saat dzuhur tiba pekerjaan Ibrahim akan ia selesaikan.


Mulai dari dzuhur hingga besok pagi waktunya hanya tercurah untuk istri dan anak. bahkan sebulan ini Ibrahim sudah tidak pernah datang ke SM Corporation.


Beberapa karyawan baru pun tidak tahu wajah asli pemilik perusahaan mereka bekerja.


Hanya Robbi lah yang selama ini selalu kulu kilir antara rumah Ibrahim dan perusahaan.


Keluar dari ruangan kerja Ibrahim langsung mencari keberadaan istri dan anaknya. Dia turun ke lantai 1 dan mengedarkan pandangannya.


"Sepertinya Luna sudah pergi," gumam Ibrahim, saat melihat di ruang tengah sudah tidak ada lagi Luna dan istrinya.


"Mungkin mereka di kamar."


Lantas dengan segera Ibrahim berjalan menuju kamarnya yang kini ada di lantai 1.


Membuka pintu kamar itu dan melihat istrinya benar-benar ada di sana, Ibrahim tersenyum dan akhirnya masuk.


"Dimana Yusuf? apa sedang bersama mbak Ita?" tanya Ibrahim seraya menghampiri sang istri yang sedang duduk di kursi menyusui.


"Iya Sayang tidur di kamarnya."


"Yusuf sudah makan?"


Aira mengangguk.


Sehabis makan tadi Yusuf terus menguap menandakan jika anak laki-lakinya itu sudah mengantuk. Mbak Ita lalu membawanya ke kamar, sementara Aira masuk ke kamarnya sendiri dan menyusui baby Yuna.


Saat itu Aira juga mengatakan kepada Ibrahim bahwa sore nanti Pak Dedi akan datang kerumah ini untuk menemui dirinya.


Itulah tujuan Luna datang ke rumah ini hari ini, untuk mengatakan tentang Pak Dedi.


Dan mendengar cerita sang istri itu, Ibrahim mulai terpikir untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Aira tentang kondisi Sonya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tahu Apa tujuan Pak Dedi untuk menemuimu," jawab Ibrahim setelah Aira selesai bercerita.


Aira diam, semakin menatap suaminya dalam. Menunggu Ibrahim untuk melanjutkan ucapannya.


Aira pun sebenarnya sudah mengira jika sang suami tahu alasan sebenarnya, Pak Dedi pasti sudah mengatakan kepada Ibrahim saat kemarin menelepon.


Namun Aira tidak ingin bertanya lebih kepada Ibrahim perihal Sonya. Aira tahu itu masih menjadi pembahasan yang sensitif bagi suaminya itu.


"Sonya sakit," ucap Ibrahim. Dia menjeda ucapannya melihat reaksi yang akan ditunjukkan oleh sang istri. Dilihatnya Aira yang biasa saja, bahkan tidak menunjukkan kecemasan yang berlebihan seperti yang selalu ia bayangkan.


"Ada miom di rahim nya, dan sakit itu sudah lama semenjak dia masih menjadi istriku. Aku tidak tahu kelanjutannya, yang aku tahu dia sudah berobat dan sembuh. Tapi kemarin kata Pak Dedi miom itu kembali tumbuh bahkan membesar. "


Aira masih belum memberikan tanggapan apapun. Jujur saja Sebenarnya dia memang Iba, namun Aira tidak ingin menunjukkannya secara langsung kepada sang suami. Kepeduliannya kepada Sonya Aira takut malah akan membuat suaminya merasa tak nyaman.


"Pak Dedi ingin kamu memberikan izin Sonya untuk dirawat di rumah sakit luar, bukan rumah sakit untuk tahanan."


"Lalu bagaimana? apa Mas mengizinkannya?" tanya Aira, dia pun menyentuh lembut tangan sang suami menggenggamnya erat tidak ingin masalah ini sampai mempengaruhi suasana hati Sang suami.


"Terserah mu saja, aku sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu."


Bahkan jika Sonya mati sekalipun Ibrahim akan menganggap itu adalah hal yang pantas untuk didapatkan.


Dan kini Aira berada di ambang kebingungan.


Baby Yuna sudah tertidur dan Aira memindahkannya ke dalam box bayi.


Dia lalu kembali menghampiri suaminya dan duduk di sebelah Ibrahim.


"Mas, Maafkan aku jika aku salah ..." ucap Aira lirih, bukan hanya menggenggam tangan Ibrahim, Aira pun menatap suaminya dalam.


"Bagaimanapun terjadinya saat ini kakek Pram sudah meninggal, dan mbak Sonya sudah menyadari semua kesalahannya. Dia juga bahkan sudah dihukum untuk kesalahannya itu ..."


"Jadi seandainya bisa berilah sedikit maaf untuknya ..."


"Kita juga adalah seorang pendosa, tapi dengan dosa yang berbeda dan kita juga selalu berharap untuk diberikan kesempatan kedua ..."


"Aku juga marah, tapi aku juga tidak akan tega andaikan terus melihat dia tersiksa. Tapi aku tidak akan melakukan apapun tanpa restu Mas Ibra." Akhir ucap Aira.


Setelahnya dia diam menunggu tanggapan apa yang akan diberikan oleh Ibrahim.

__ADS_1


Dan kini jadi Ibrahim yang bingung. sedikitpun dia tidak ada lagi rasa iba kepada Sonya.


Namun semua yang dikatakan oleh Aira pun ada benarnya.


Ibrahim membuang nafasnya kasar, sebelum akhirnya dia menganggukkan kepalanya kecil.


"Baiklah ketika Pak Dedi meminta bantuanmu untuk memberikan izin kepada Sonya dirawat di rumah sakit lain, maka Izinkanlah," ucap Ibrahim.


Mendengar itu Aira tersenyum, lalu menarik tubuh Sang suami dan memeluknya erat.


Berulang kali mengelus kepala Ibrahim dengan sayang.


Dia tahu suaminya kini bukanlah Ibrahim yang dulu lagi, suaminya kini adalah Ibrahim yang baru, Ibrahim yang memiliki hati yang lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari setelah waktu Ashar Pak Dedi datang ke rumah Ibrahim.


Saat itu Ibrahim tidak ingin menemui Pak Dedi, dia hanya meminta kepada Luna untuk mendampingi istrinya saat bertemu dengan Pak Dedi.


Dan benar seperti ucapan Ibrahim siang tadi, kedatangan Pak Dedi ke sini memang untuk meminta izin perihal Sonya.


Dan atas izin sang suami yang sudah diperoleh Aira, akhirnya dia pun memberikan izin itu.


Lalu meminta Luna pula untuk mengurus semua berkas-berkasnya.


Pak Dedi berulang kali mengucapkan kata terima kasih dan Aira menerima itu, tanpa menyebutkan jika ini semua atas kehendak suaminya.


Setelah pak Dedi pergi, Luna pun menyampaikan hasil penyelidikan nya sendiri.


Bukan hanya tentang permintaan Pak Dedi tadi, namun juga tentang kondisi Sonya yang sebenarnya saat ini.


"Sonya benar-benar sakit Nyonya, ini foto terbarunya."


Luna menyerahkan selembar foto yang berhasil ia dapatkan. Dalam foto itu terlihat jelas jika Sonya sudah banyak mengalami perubahan fisik.


Tubuhnya semakin kurus dengan cekungan mata yang nampak begitu jelas.


Melihat itu Aira menutup mulutnya yang menganga, menatap tidak percaya dengan hatinya yang begitu terenyuh.

__ADS_1


__ADS_2