Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 33 - Untuk Terakhir Kali


__ADS_3

"Baiklah, tapi tidak malam ini. Satu bulan lagi, sebelum itu hiduplah dengan baik, berhenti minum alkohol dan atur pola makan mu," jelas Ibrahim pada sang istri pertama.


Ibrahim tak kuasa melihat keputusasaan Sonya, ia masih ingat perjuangan mereka 5 tahun untuk memiliki anak, 5 saling mencintai dan bersama.


Tapi kini semuanya sudah berbeda, cinta itu tidak lagi ada bahkan membuat hubungan mereka jadi merenggang. Memenuhi keinginan terakhir adalah hal yang bisa ia beri untuk terakhir kali.


Memperlakukan Sonya dengan baik layaknya seorang istri.


Karena setelahnya bagi Ibrahim hanya Aira lah istrinya seorang. Wanita yang kini menjadi ratu dihatinya. Bukan lagi Sonya seperti dulu.


Juga Sonya yang telah menerima keputusannya itu. Jika tidak ingin bercerai maka mereka hanyalah seorang teman, meski dalam status pernikahan.


Entah siapa yang kejam di dalam hubungan seperti ini. Tapi baik Ibrahim ataupun Sonya, sudah saling tahu apa alasannya.


"Terima kasih Mas," jawab Sonya antusias. Seperti menemukan hidup baru setelah semuanya hancur.


Kesempatan yang tidak bisa ia sia-siakan. Sonya bahkan memantapkan diri untuk berubah, menuruti keinginan kakek Pram dalam wasiatnya.


Maafkan aku Kek, aku tahu kesalahanku sangat banyak, aku bahkan melipat selang pernafasan kakek saat itu, tapi aku mohon Kek, aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Meski bukan lagi menjadi istri mas Ibrahim, izinkan aku tetap menjadi teman hidupnya, izinkan aku untuk mengandung anaknya. Batin Sonya.


Selesai bicara dengan Sonya, Ibrahim pun keluar dan mendatangi kamar Aira. Kamar yang tak jauh dari Sonya.


Masuk ke dalam sana dan melihat ada bik Sumi juga disini. Dan saat melihat Ibrahim masuk, bik Sumi memutuskan untuk keluar.


Ibrahim lantas mendekati sang istri yang masih berdiri di samping boxs bayi Yusuf, memperhatikan anaknya yang tengah terlelap. Ibrahim lantas memeluk Aira dari arah belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri. Mengelus lembut perut itu teringat akan anak kedua mereka.


"Bagaimana Mas? mbak Sonya ada?" tanya Aira, ia menoleh kearah sang suami, membuat jarak wajah keduanya sangat dekat. Bahkan hangatnya hembusan nafas sang suami dapat Aira rasakan dengan jelas.


Ibrahim tidak langsung menjawab, ia menyesap sebentar bibir ranum istrinya itu dengan begitu lembut. Kini Ibrahim tidak pernah mencium Aira lagi dengan kasar.


"Ada sayang, dia lelah dan sedang beristirahat," jawab Ibrahim, tapi tidak menjelaskan panjang lebar jika Sonya pun baru pulang. Semalam istri pertamanya itu tidak tidur di rumah.

__ADS_1


"Mas," Aira berbalik, ia sedikit mendongak dan menatap sang suami yang juga menatapnya lekat.


"Aku dan mbak Sonya adalah istrimu, jadi bolehkah aku meminta untuk kami diperlakukan adil?"


Ibrahim terdiam.


"Aku pernah ada di posisi tidak dicintai kamu, diacuhkan, bahkan ...."


"Seperti dilecehkan," timpal Aira lirih, sementara Ibrahim hanya menelan ludahnya dengan susah payah. Membenarkan semua ucapan itu.


"Meskipun mbak Sonya pun tidak menyukai aku, tapi aku tidak ingin dia merasakan apa yang pernah aku rasakan."


Ibrahim langsung memeluk Aira erat setelah istrinya selesai bicara. Ibrahim menenggelamkan wajah sang istri di dadanya.


"Maafkan aku Aira, maafkan aku," ucap Ibrahim. Ia seperti tertusuk tepat di inti hatinya. Teringat saat ia dan Sonya merencanakan banyak niat jahat untuk Aira. Namun hingga kini Aira tetap memperlakukan dirinya dan Sonya dengan begitu baik.


Ibrahim sungguh malu.


Terlepas apapun kesalahan yang pernah dilakukan oleh Sonya, dia pun berhak memilki kesempatan kedua. Seperti dirinya yang seorang pembunuh.


Sore itu pak Imam dan ibu Asma benar-benar datang ke Jakarta seperti ucapan Ibrahim.


Seolah melengkapi kebahagiaan yang Aira rasakan saat ini.


Hari berlalu.


Satu bulan pun sudah terlewati.


Sonya menepati janjinya untuk hidup dengan baik satu bulan kebelakang. Bukan hanya tentang pola makan, namun ia pun memperbaiki hidupnya pula.


Meminta maaf kepada Aira dengan sungguh-sungguh, menyayangi Yusuf seperti anaknya sendiri, bahkan kembali belajar shalat 5 waktu bersama Aira.

__ADS_1


Rumah peninggalan kakek Pram yang dulu selalu di isi pertengkaran dan perdebatan kini mulai terasa hangat dan dipenuhi suasana kekeluargaan.


Dua minggu lalu pun Sonya keluar dari rumah ini, pindah di rumah yang lain seperti keinginan Aira. Bahwa ia dan Sonya sebaiknya tinggal di rumah yang terpisah. Awalnya Aira yang ingin keluar mengingat Sonya adalah istri pertama dan berhak tinggal di rumah ini.


Namun Sonya menolak, ia mengatakan jika rumah ini terlalu besar untuknya. Akhirnya Sonya lah yang keluar. Pindah ke rumah yang tidak jauh dari rumah utama ini, hanya menempuh perjalanan sekitar 10 menit dari rumah utama, akan langsung sampai di rumah Sonya.


Dan malam ini Ibrahim pun menepati janjinya kepada Sonya, menyentuh sang istri pertama untuk yang terakhir kali.


Sehabis shalat isya berjamaah mereka melakukan pergumulan itu. Setiap hentakan yang diberikan oleh sang suami, Sonya selalu berdoa agar iapun segara hamil.


Hingga akhirnya penyatuan itu berakhir. Ibrahim mencabut diri dan membersihkan tubuhnya yang dipenuhi peluh.


"Kamu istirahatlah, aku akan tidur di kamar sebelah," ucap Ibrahim, ia duduk disisi ranjang setelah memakai bajunya kembali. Melihat Sonya yang masih berbaring di atas ranjang dan membalut tubuhnya yang polos menggunakan selimut.


"Terima kasih Mas, aku tidak akan menuntut mu ini dan itu lagi," jawab Sonya, meski hatinya begitu pedih namun ia mencoba ikhlas. Ini memang yang terbaik untuk mereka berdua. Memiliki batas yang jelas dalam hubungan mereka. Sebagai teman baik meski statusnya suami dan istri.


"Aku juga berterima kasih, kamu sudah mengerti bahwa kita tidak bisa kembali seperti dulu," balas Ibrahim pula.


"Semoga kamu hamil, aku akan sangat bersyukur jika itu terjadi," timpal Ibrahim.


Sonya lantas bangkit dan duduk mensejajarkan diri dengan Ibrahim.


"Aamiin," ucap Sonya.


Sonya dan Ibrahim lalu saling memeluk untuk yang terakhir kali. Keduanya sama-sama tersenyum dalam pelukannya itu.


Ibrahim juga mengatakan jika ia akan tetap berkunjung kemari meski mereka tidak tidur dalam satu ranjang.


Lagi-lagi Sonya hanya mampu mengucapkan kata terima kasih.


Ia tahu betul jika itu pasti keinginan Aira. Wanita yang dulu ia hina dan terus ia sakiti, nyatanya kini adalah satu-satunya yang paling peduli.

__ADS_1


Terima kasih Aira, batin Sonya.


__ADS_2