Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 39 - Mengakui Kesalahan


__ADS_3

Jam 1 dini hari Ibrahim pulang ke rumah utama dimana Aira tinggal. Tapi dia tidak langsung turun dari dalam mobilnya.


Ibrahim masih duduk di dalam mobil dan menatap jendela kamar sang istri di lantai 2 sana. Menatap kamar yang lampunya sudah meremang itu dengan rasa takut yang membuatnya sesak.


Ibrahim takut Aira akan meninggalkan dirinya jika sampai kebenaran ini terungkap. Ibrahim takut Aira akan langsung pergi saat itu juga.


Ibrahim tahu Aira mampu untuk melakukan itu. Meski sikapnya tetap lembut dan penurut, namun kini Aira bukan lagi Aira yang seperti dulu, kini Aira lebih berani dalam mengambil sikap.


"Aku harus bagaimana?" gumam Ibra.


Ancaman Sonya benar-benar membuat dunianya luluh lantah, baru saja ia merasakan kebahagiaan bersama Aira dan kini masalah kembali mendatangi.


"Apa aku harus mengikat Aira agar dia tidak pergi?"


"Tidak, aku tidak akan menyakiti Aira, aku sudah menyakitinya berulang kali dan aku tidak mau melakukan itu lagi."


Ibrahim akhirnya turun dari dalam mobil. Malam ini juga dia akan membuat pengakuan kepada Aira, memohon ampun agar Aira mau memaafkan dirinya.


Lebih baik dia sendiri yang mengatakannya langsung, Ibrahim yakin jika Sonya yang mengatakannya ia akan menambah-nambah cerita, membuatnya semakin terpojok dan bersalah.


Ibrahim memiliki kunci rumah ini, hingga kapanpun ia inginkan ia bebas masuk.


Beberapa penjaga yang di malam hari sedikit terkejut saat melihat Ibrahim pulang. Apalagi dengan wajahnya yang nampak muram. Mereka semua tahu jika seharusnya malam ini tuan nya ini berada di rumah istri pertama.


"Kenapa tuan Ibrahim kembali dengan wajah seperti itu?" tanya salah satu penjaga.


"Sepertinya bukan hal yang baik, kita tunggu disini saja dan lihat apa yang terjadi," jawab yang lainnya.


Mereka terus memperhatikan jalannya yang sang Tuan yang menaiki anak tangga, lalu hilang saat sudah sampai di lantai 2.


Menuju kamar Aira dan membukanya secara perlahan.


Aira tersentak, dengan cepat ia segera menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka.


Dan Ibrahim makin tersentak lagi saat melihat penampilan Aira.


Sesaat keduanya saling tatap. Sampai Akhirnya Ibrahim menutup pintu, menguncinya dan menghampiri sang istri.


"Mas, kenapa kamu pulang?" tanya Aira, ia baru saja menyusui Yusuf yang terbangun. Kini anak semata wayangnya itu pun sudah kembali tidur.


Jika tidak ada Ibrahim di rumah, Aira lebih suka menggunakan baju terbuka seperti ini saat sedang tidur. Baju yang menyerupai lingerie, namun berbahan satin. Jika ada Ibrahim, dia akan malu menggunakan baju seperti ini. Belahan dada rendah dengan panjang yang hanya sampai di pahanya.

__ADS_1


"Saat aku pergi kamu menggunakan baju ini?" tanya Ibrahim, sedikit tidak terima.


Dan Aira menunduk, semakin malu saat Ibrahim menatapnya lekat, dari ujung kepala sampai ke ke ujung kaki.


"Kalau ada Mas aku malu," jujur Aira lirih, ia bahkan memilin-milin jarinya sendiri.


Ibrahim mendekat dan mengikis jarak, satu tangannya menyentuh dagu sang istri dan mengangkatnya, membuat tatapan keduanya kembali bertemu.


Dengan jarak sedekat ini, Aira melihat sorot mata sang suami yang nampak sayu, mengisyaratkan jika ada beban yang sedang di tanggung oleh sang suami.


Dan lagi harusnya malam ini Ibrahim bermalam di rumah Sonya, namun kenapa suaminya ini malah pulang.


Apa ada masalah dengan mbak Sonya?


Apa ini tentang obat-obat itu?


Apa mbak Sonya sakit parah?


"Apa yang tejadi Mas?" tanya Aira akhirnya, setelah ia sibuk membatin memikirkan banyak pertanyaan.


"Aku sangat mencintaimu Aira, apa kamu bisa merasakan itu?" jawab Ibrahim, bukannya menjawab ia malah kembali bertanya.


"Tentu saja aku tahu, apa mas juga merakan cintaku?" balas Aira pula, ia sungguh tak tega melihat wajah sang suami yang bermuram durja seperti ini. Aira mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah Ibrahim, mengikis jarak hingga habis dan mengecup bibirnya sekilas.


Berharap kecupan kecil yang diberikan olehnya bisa membuat sang suami jadi lebih baik.


Tapi bukannya membaik, Ibrahim malah bergerak luruh dan berakhir bersimpuh di kaki Aira.


"Mas, apa yang kamu lakukan? ayo bangun," pinta Aira, ia bahkan berusaha menarik kedua lengan suami namun Ibrahim tetap bergeming.


Dia diam dan terus bersimpuh dihadapan Aira. Hingga akhirnya membuat Aira pun melakukan hal yang sama.


"Maafkan aku Aira, maafkan aku," pinta Ibrahim, kini kedua netra nya sudah nampak merah, air mata di kedua mata itu nyaris tumpah.


Sedangkan Aira mendadak takut, merasakan hal buruk akan terjadi.


"Apa Mas akan menceraikan ku?" tebak Aira lirih. Mungkin saja mbak Sonya meminta Ibrahim untuk menceraikannya, pikir Aira.


Dan Ibrahim langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Ibrahim bahkan bersumpah sampai kapanpun ia tidak akan menceraikan Aira.

__ADS_1


Akhirnya Ibrahim menceritakan semuanya yang terjadi, kejadian 2 bulan lalu saat Aira pendarahan di basement kantor SM.


Itu bukan pendarahan biasa apalagi hanya karena kelelahan, itu adalah pendarahan keguguran.


Saat itu Aira hamil dan Ibrahim telah membuat anak mereka meninggal hanya karena cemburu buta.


"Maafkan aku Aira, aku mohon maafkan aku, aku sungguh tidak tahu jika saat itu kamu sedang hamil," ucap Ibrahim, kini ia sudah menangis, kedua tangannya menggenggam erat tangan sang istri. Memohon dengan sangat agar dia diberi maaf.


Sementara Aira mendadak gamang, merasakan tangan dingin suaminya yang terus menggenggam tangannya erat.


Hamil dan keguguran yang dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Tapi andaikan itu semua dia alami, ia pasti sangat hancur.


"Kenapa Mas baru mengatakannya sekarang? apa ini yang membuat Mas bersikap baik padaku? hanya karena rasa bersalah."


"Tidak Aira, tidak! aku memang merasa bersalah, bahkan sangat. Tapi aku sungguh mencintaimu, karena cintaku itulah aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku. Saat itu kita sudah bersepakat untuk berpisah kan? aku tidak mau, aku tidak mau kita berpisah, karena itulah aku menutupi semuanya," jujur Ibrahim.


Ia juga sedih, ia bahkan sangat terpukul saat itu, Ibrahim juga menguburkan sendiri janin kecil mereka di belakang rumah ini. Menanam bunga mawar sebagai tandanya.


Dan hingga kini perasaan bersalah Ibrahim terus menyiksa dirinya.


Aira ikut menangis, air mata itu bahkan lebih deras ketimbang air mata Ibrahim.


"Kamu jahat Mas, harusnya apapun yang terjadi katakan padaku, aku berhak tau tentang anakku Mas," ucap Aira lirih diantara isak tangisnya.


"Aku tau, maafkan aku Aira, maafkan aku."


Malam itu juga Aira membangunkan bik Sumi untuk menjaga Yusuf di kamar, sementara ia menuju taman belakang rumah ini dan melihat dimana anaknya di kuburkan. Aira terjatuh, ia benar-benar merasa seperti ibu yang bodoh, anaknya meninggal pun ia tak merasakan apa-apa.


"Maafkan ibu Nak, maafkan aku ya Allah," gumam Aira.


Dan Ibrahim pun ikut bersimpuh di atas tanah itu dan memeluk tubuh sang istri erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Note :


Aira keguguran di usia 2 bulan. Janin yang masih berusia 2 bulan atau yang belum berusia 4 bulan tidak perlu dimandikan, dikafani atau dishalati seperti pada umumnya. Janin juga bisa dikubur di mana pun selama itu tidak mengganggu orang di sekitarnya.


💕


Apa Aira akan memaafkan Ibrahim?

__ADS_1


__ADS_2