Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 52 - Pergi ke Tegal


__ADS_3

Malam ini Aira dan Ibra berulang kali bangun untuk menyusui baby Nusa. Sementara Yusuf sudah mulai tidur semalaman tanpa ada bangun-bangun lagi.


"Asi nya tidak habis sayang? kamu harus menyusui dua bayi," ucap Ibrahim, ia mengambil gelas berisi air putih yang baru saja diminum oleh Aira dsn meletakkannya di atas meja.


"Kemarin sih sepertinya sudah mau habis sayang, tapi sekarang banyak lagi. Sesapan Nusa lebih kuat daripada Yusuf, jadi produksi Asinya tambah lagi," jawab Aira.


Dan Ibrahim menganggukkan kepala. Dia juga pernah mendengar jika makin di sesap maka produksi Asi pun akan semakin bertambah, karena memenuhi kebutuhan si jabang bayi.


"Mas tidur saja, ini masih jam 2. Besok kan mau pergi," ucap Aira lagi. Namun kini Ibrahim bukan mengangguk, melainkan menggelengkan kepalanya pelan, lalu ikut duduk di sebelah Aira.


"Itu bukan masalah, lagi pula besok yang bawa mobil pak Amir kan?" jawab Ibrahim, sekaligus bertanya dan Aira tidak bisa membantahnya.


30 menit kemudian Nusa kembali terlelap, Ibrahim dan Aira pun kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang, masih dengan Yusuf yang berada di tengah-tengah mereka. Yusuf yang tidur sembarangan, guling jadi bantal dan bantal jadi guling.


"Anak siapa ini tidurnya begini," ucap Aira, ia pun langsung membenahi posisi tidur sang anak.


"Anak kita sayang, mau buat lagi nggak yang begini satu," jawab Ibrahim, mengandung godaan.


Dan Aira mencebik, makin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Pertama besok Mas Ibra mau pergi, kedua di tempat tidur ada Yusuf," jawab Aira, menolak dengan cara yang baik. Karena memang begitulah alasannya, bukan karena dia tidak mau.


"Pertama besok yang bawa mobil pak Amir, kedua si sofa masih nganggur."


"Mas Ibra!" Aira melemparkan satu bantal ke arah suaminya itu, namun dengan sigap Ibrahim menahannya lalu terkekeh.


Ibrahim lantas kembali turun dan berputar mendatangi sang istri. Aira yang sudah tahu maksudnya pun menurunkan selimut dan membiarkan sang suami menggendong tubuhnya.


Tidak ingin jatuh, dia pun menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami, sesekali mengecupi pipi Ibra, menggoda.


Sampai akhirnya mereka terduduk di atas sofa. Di mulai dari pagutan mesra hingga berakhir dengan penyatuan yang dalam.

__ADS_1


Aira terus bergerak di atas pangkuan Ibra sampai akhirnya pelepasan itu mereka rasakan bersama.


Aira menjerit, namun dengan segera ia menggigit bahu sang suami yang terbuka. Pun Ibrahim yang menekan pinggul istrinya agar masuk semakin dalam.


Jam 3 dini hari penyatuan itu usai, dan setelahnya mereka terlelap dengan begitu pulas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sehabis sarapan, Ibrahim pergi ke Tegal untuk menjemput kedua mertuanya. Dia tidak pergi sendiri, tapi bersama dengan pak Amir juga.


Sebelum pergi Ibrahim meminta bantuan pada bik Sumi dan mbak Ita untuk membantu Aira mengurus Yusuf dan Nusa. Bahkan meminta mereka berdua untuk selalu mendampingi wanita yang sangat dicintainya itu.


Namun meski sudah menitipkan Aira dengan banyak orang, perasaannya masih saja merasa ada yang mengganjal.


Seolah ada sesuatu yang akan terjadi nanti tapi entah apa. Keberadaan Nusa di rumahnya pun membuat beban pikirannya semakin bertambah.


Tidak ingin pikirannya semakin kalut, akhirnya dia menghubungi pak Basir. Meminta pak Basir untuk mengantar ibu Rachel ke rumahnya dan menemani Aira sampai dia pulang.


Setelah bersepakat, panggilan itu pun terputus.


Ibrahim cukup lega setelah menelpon pak Basir. Ia merasa perasaannya lebih ringan dalam perjalanannya menuju rumah pak Imam dan ibu Asma.


6 jam di dalam perjalanan dan akhirnya Ibrahim sampai di depan rumah kedua mertuanya. Saat itu ibu Asma sedang menyapu halaman rumahnya menggunakan sapu lidi.


Sedikit tersentak saat melihat mobil mewah masuk ke halaman rumahnya.


Bu Asma tahu betul jika mobil itu adalah milik sang menantu, Ibrahim. Dan benar saja, saat ibu Asma terus memperhatikan mobil itu, Ibrahim turun dari dalamnya.


"Masya Allah Ibra," ucap ibu Asma penuh syukur. Ibrahim lantas mencium punggung tangan kanan sang ibu, tidak itu saja, Ibrahim juga memeluk ibu mertuanya erat.


Membuat ibubAsma meneteskan air mata dengan perasaan menghangat yang memenuhi seluruh hatinya.

__ADS_1


Tak lama di sana, mereka semua pun masuk ke dalam rumah termasuk pak Amir. Di dalam mereka bertemu dengan pak Imam dan duduk bersama di ruang tengah.


Ibrahim menyampaikan maksudku nya datang kemari, yaitu untuk meminta kedua mertuanya ikut tinggal bersama dia dan Aira di Jakarta.


Pak Imam dan ibu Asma tentu saja merasa sangat bahagia mendapatkan tawaran ini. Namun mereka sungguh enggan untuk mengabulkannya. Mereka tidak ingin menjadi beban kedua anaknya, ataupun menjadi pengganggu di rumah tangga mereka.


"Ibra mohon pak, bu, tinggallah bersama kami, beri kami kesempatan untuk berbakti kepada ibu dan bapak," mohon Ibrahim dengan sungguh-sungguh.


Dulu ia sudah mengabaikan kakek Pram, dan sekarang dia tidak ingin mengabaikan kedua orang tua Aira pula. Orang tua yang harus ia hormati juga, seperti Aira yang selalu menghormati kakek Pram.


"Tapi Nak, bapak dan ibu tidak ingin menjadi beban kalian, tidak ingin membuat kalian merasa tidak nyaman di rumah kalian sendiri," jelas pak Imam, itulah yang ia rasa.


"Tidak Pak, Bu, itu semua tidak benar. Adanya bapak dan ibu di rumah kami adalah sebuah berkah. Karena itulah Ibra mohon agar kiranya bapak dan ibu bersedia untuk tinggal bersama kami," pinta Ibrahim.


Melihat kesungguhan sang menantu membuat hati kedua orang tua ini terenyuh. Terlebih pak Imam dan ibu Asma pun sudah mengetahui pula permasalahan hidup yang dijalani Aira dan Ibrahim. Tentang Sonya pula yang kini masuk ke dalam penjara dan sudah bercerai dengan Ibra.


Pak Imam dan ibu Asma pun sejenak saling tatap, kemudian menganggukkan kepalanya kecil.


"Baiklah Nak, kami akan ikut kamu ke Jakarta," putus pak Imam dan Ibrahim langsung mengucapkan syukur, Alhamdulilah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jakarta.


Pagi ini Dirga berniat mendatangi rumah Ibrahim, ingin segera tahu bagaimana nasib anaknya di rumah itu. Jujur saja semalaman ia tidak tenang.


Rasanya ia tetap tidak bisa ikhlas membiarkan anaknya di pengasuhan Aira dan Ibra. Perasaan takut anaknya akan terlantar terus menghantui.


Setelah Dokter memeriksa kondisi terkini Adisty, dia langsung segera pergi dari rumah sakit itu.


Tak berselang lama setelah mobil Ibrahim keluar dari gerbang rumah, mobil Dirga pun sampai di sana.

__ADS_1


Bahkan Dirga melihat saat mobil Ibrahim meninggalkan rumah.


__ADS_2