Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 72 - Hubungan Persaudaraan


__ADS_3

Pintu ruangan rawat Sonya yang diketuk oleh Ibrahim akhirnya terbuka.


Dan yang membukanya adalah ibu Sahila. Dia cukup terkejut saat melihat Ibrahim dan Aira berdiri persis di hadapan dirinya.


Beberapa detik ibu Sahila masih gamang, hanya diam memperhatikan dan tidak mempersilakan keduanya untuk masuk. Sampai akhirnya suara Pak Dedi dari dalam membuyarkan lamunan Ibu Sahila.


"Siapa Ma?" tanya pak Dedi dengan yang cukup keras.


Ibrahim dan Aira pun sampai ikut mendengar pertanyaan itu.


Ibu Sahila jadi tergagap. Bukan menjawab i suaminya, ibu Sahila langsung meminta Ibrahim dan Aira untuk masuk ke dalam ruangan itu dengan suaranya yang putus-putus.


"Ib-Ibra, Aira a-ayo masuk," ucap ibu Sahila.


Ibrahim dan Aira pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah ibu Sahila untuk masuk.


Pak Dedi dan Sonya yang melihat mereka berdua pun sama terkejutnya. Bahkan Sonya dengan cepat menghapus sisa-sisa air mata yang membuat wajahnya basah.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu, kami hanya ingin melihat keadaan Sonya," ucap Ibrahim, kini dia dan Aira sudah berdiri tak jauh dari ranjang Sonya.


Melihat Sonya yang terduduk diatas ranjangnya dan menatap nanar kedatangan Aira dan Ibrahim kemari.


Sonya malu, malu pada kondisinya yang kini begitu hina. Tubuhnya semakin kurus, juga wajahnya yang nampak begitu pucat.


Dia malu, Aira dan Ibrahim melihatnya dalam keadaan seperti ini.


Sonya menunduk, lalu memalingkan wajahnya.


Sementara Aira langsung menangis, namun dengan cepat dia menghapus. Aira sungguh tidak tega melihat kondisi Sonya seperti itu.


"Begini lah Sonya Ibra, karena itulah bapak meminta izin kepada kalian untuk merawatnya disini," jelas pak Dedi.


Dan Ibrahim hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar.

__ADS_1


Ibu Sahila lalu mempersilahkan Ibrahim dan Aira untuk duduk di sofa ruangan itu. Sofa yang cukup jauh dari ranjang Sonya namun tetap bisa melihat Sonya dari sana.


Ibrahim duduk disana bersama ibu Sahila dan pak Dedi. Namun Aira memutuskan untuk duduk di sisi ranjang. Duduk di kursi yang tersedia disana.


Sesaat hanya ada hening diantara Aira dan Sonya. Mereka hanya diam sibuk dengan pikiranya sendiri.


Sampai akhirnya Sonya lebih dulu buka suara ...


"Untuk apa kalian datang kemari? apa kalian ingin menertawakanku?" tanya Sonya lirih, namun penuh dengan sindiran yang membuat Aira semakin terenyuh.


"Sudah setahun lebih waktu berlalu, apa kamu masih ingin kita bermusuhan?" jawab Aira dengan pertanyaan pula.


Keduanya bicara dengan nada rendah, membuat ketiga orang yang duduk di sofa sana tidak mampu mendengar pembicaraan mereka.


Dan mendengar jawaban Aira itu, Sonya hanya mampu tersenyum kecut.


1 tahun berlalu yang terasa begitu lama bagi Sonya. 1 tahun yang dia habiskan seorang diri dan hanya berteman sepi dan sakit.


Membayangkan waktu-waktu kembali membuat hati Sonya terasa teriris. Bahkan bayang-bayang kakek Pram selalu menghantui dirinya.


Ada 3 orang yang sedang Sonya perjuangkan untuk mendapatkan Maaf nya. pertama adalah kakek Pram, yang kedua adalah Ibrahim dan yang ketiga adalah Aira.


Sonya ingin mendapatkan pengampunan dan kata memaafkan dari ketiganya. Sadar dia tidak bisa lagi menemui kakek Pram, Sonya sangat ingin mengunjungi makam kakek. Bersimpuh di sana dan memohon ampun sebanyak-banyaknya.


Namun kondisinya yang masih lemah seperti ini membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal. Dia hanya mampu duduk di atas ranjang, jika pun keluar dia membutuhkan bantuan orang lain untuk mendorong kursi roda nya.


Dan melihat hasilnya yang menangis dengan air mata sederas itu, Aira pun ikut menangis pula. terlebih saat mendengarkan permintaan maaf itu. Karena sebelum Sonya mengucapkannya pun, dia sudah lebih dulu memaafkannya.


"Maafkan aku Aira, maafkan aku. saat ini sebenarnya aku sangat malu kamu melihat ku dalam keadaan seperti ini," ucap Sonya sesenggukan.


"Sebenarnya aku ingin meminta maaf saat kondisi ku sudah lebih baik dari ini. Tapi beberapa jam lalu aku juga baru sadar satu hal, mungkin saja aku tidak memiliki waktu lain kali, mungkin waktu yang aku miliki hanya sekarang," lirihnya.


Membuat Aira menggeleng dalam tangisnya yang diam.

__ADS_1


"Mbak Sonya pasti sembuh," jawab Aira lirih.


Ketiga orang yang yang kini duduk di sofa ruangan itu pun melihat interaksi antara Sonya dan Aira yang saling bertukar air mata.


Ibu Sahila ingin menghampiri dan melerai keduanya Andai kata mereka terlibat perdebatan.


Namun Ibrahim dengan cepat melarang, meminta kepada Ibu Sahila untuk memberikan waktu berdua antara Sonya dan Aira.


sehingga dilihat oleh mereka air yang bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh Sonya.


Kedua wanita itu saling memeluk erat seolah semua perdebatan yang terjadi selama ini hilang entah kemana, diganti dengan hubungan yang selangkah lebih di dekat, hubungan persaudaraan.


Mereka saling memeluk hingga tangis di antara keduanya mulai mereda.


"Maafkan aku Aira," ucap Sonya sekali lagi, dia tidak akan pernah bosan untuk mengucapkan satu kalimat itu.


Dan Aira menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya menjawab ...


"Aku sudah memaafkan Mbak Sonya."


Setelah suasana cukup cair di antara keduanya, kini giliran Ibrahim yang menghampiri Sonya. Sementara Pak Dedi dan ibu Sahila tetap duduk di sofa sana mereka berdua memberikan waktu kepada mereka bertiga untuk menyelesaikan masalahnya, menyelesaikan semua perselisihan yang terjadi selama ini.


Dan sama seperti yang diucapkan kepada Aira, Sonya pun mengucapkan kata maaf berulang kali kepada Ibrahim, bahkan lebih banyak.


Kesalahan terbesarnya adalah membuat nyawa kakek Pram lebih cepat menghilang. Lalu tentang perselingkuhannya dengan seorang pria hingga berakhir melakukan hubungan badan. Tidak menerima Yusuf dan selalu membenci Aira.


Sonya bahkan menyebutkan satu per satu kesalahan yang sudah dia perbuat, hingga beberapa yang airnya tidak tahu Kini pun yang mengetahuinya dengan jelas.


Mulut Aira menganga benar-benar tidak menyangka jika alasan berpisahnya Ibrahim dan Sonya memang karena sebuah alasan yang begitu kuat, bukan hanya tentang adanya dirinya di dalam rumah tangga Ibrahim dan Sonya.


"Maafkan aku Mas, maafkan aku," pinta Sonya Entah sudah yang ke berapa kali kini. Bahkan dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada. benar-benar mengharapkan permohonan ampun dari Ibrahim.


"Jujur saja, sebenarnya aku masih merasa berat untuk bisa memaafkanmu, tapi Aira selalu mengatakan kepadaku untuk mengikhlaskan semuanya, juga tentang kepergian kakek Pram yang tidak mungkin bisa kembali lagi..." jawab Ibrahim.

__ADS_1


"Karena itulah perlahan aku akan mulai memaafkan mu dan aku harap kamu benar-benar bisa berubah, jadi lebih baik bukan hanya kata-kata seperti yang pernah kamu lakukan sebelumnya."


__ADS_2