
Bersama Luna, pagi-pagi sekali Aira menuju kantor polisi. Merubah nama suaminya yang sebagai pelapor untuk kasus Sonya dan diganti dengan namanya sendiri.
Sehabis shalat subuh tadi Aira mengatakan kepada Ibrahim bahwa dia sendirilah yang akan menjebloskan Sonya ke dalam penjara. Aira pun menyampaikan keinginannya yang tidak ingin Ibrahim kembali bertemu dengan wanita itu.
Mendengar Aira mengungkapkan isi hatinya itu membuat Ibrahim langsung memeluknya erat, berulang kali mengucapkan kata terima kasih sambil menciumi pucuk kepala Aira. Disaat Ibrahim tengah terpuruk seperti ini Aira rela menjadi tameng untuknya. Wanita yang selalu ia sakiti kini menjadi satu-satunya yang paling peduli.
Mereka saling mencium sebelum akhirnya Aira pamit untuk pergi.
Aira menemui penyidik bersama Luna dan juga pengacaranya, Oka Kaligis.
1 jam disana untuk melengkapi semua data-data dan setelahnya Aira meminta izin untuk bertemu dengan Sonya. Luna pun dengan setia mengikuti Nyonya nya, selalu berdiri tegak di belakang Aira. Sementara saat itu pengacara Oka menunggu di ruang tunggu.
Sonya keluar dari sebuah pintu dan melihat Aira di ujung sana. Mereka terhalang oleh dinding kaca yang sangat tebal, berbicara melalui lubang-lubang kecil yang sudah tersedia di hadapan mereka.
"Aira, kamu datang kemari?" ucap Sonya setelah duduk di kursinya, ia sungguh bahagia melihat Aira datang, kini yang bisa menyelamatkan hidupnya hanyalah Aira seorang. Kedua orang tuanya pun memilih tidak peduli pada nasib yang ia alami.
Sonya sangat banyak berharap pada Aira, sampai dia tidak sadar jika Aira kini telah berubah. Bukan lagi Aira yang penurut dan melakukan apapun untuk membantu orang. Aira kini sudah jadi sosok yang dingin ketika berhadapan dengan Sonya. Membunuh kakek Pram bukanlah kesalahan yang bisa dimaafkan, karena itulah Aira akan membuat Sonya dihukum seumur hidup. Bahkan Aira menambah tuntutannya kepada Sonya. Bukan hanya tentang pembunuhan namun juga penggelapan uang milik mendiang.
"Aira, aku mohon bebaskan aku, aku tidak bersalah Aira, aku melakukan ini semua karena terpaksa, kakek Pram mengancam akan membuatku dengan mas Ibra bercerai, karena itulah tanpa sadar aku melakukan itu," ucap Sonya bohong, mencari-cari alasan untuk menarik simpati Aira. Ia bahkan menangis, mengiba meminta pertolongan.
Dan mendengar itu Aira pun tersenyum tipis, jelas-jelas kakek Pram dalam surat wasiatnya meminta Sonya untuk memperbaiki diri dan menjadi istri yang baik untuk mas ibra.
Lalu apa katanya tadi? kakek memintanya untuk bercerai?
__ADS_1
Ya Allah, bagaimana bisa selama ini aku selalu menganggap mbak Sonya adalah wanita yang baik. Bahkan setelah kakek meninggal pun dia terus memfitnahnya. Batin Aira.
"Aku akan mengatakan sesuatu padamu Aira, setelah kamu melepaskan aku dari penjara ini aku akan memberitahumu sebuah rahasia besar tentang mas Ibra," ucap Sonya lagi. Lagi-lagi dia menggunakan nama orang lain untuk membuatnya terlihat baik.
"Kamu datang kemari untuk membebaskanku kan?" tanya Sonya lagi, ia menghapus air matanya sendiri dan menatap Aira penuh harap.
Sementara Aira tetap bergeming, masih setia menatap Sonya dengan tatapan dingin.
"Tidak, aku datang kemari bukan untuk membebaskanmu," jawab Aira akhirnya.
Sebuah jawaban yang membuat Sonya menelan ludahnya dengan kasar, apalagi saat mendengar suara Aira yang begitu dingin. Bukan seperti Aira yang ia kenal selama ini.
"Aku datang kesini hanya untuk memastikan bahwa selamanya kamu akan mendekam di penjara dan selamanya juga kamu tidak pernah bertemu dengan suamiku," timpal Aira.
"A-apa maksudmu Aira?" tanya Sonya tergagap.
Dan Aira pun menjawab pertanyaan itu dengan gamblang. Bahwa dialah yang akan menjadi pelapor untuk kasus ini, bukan lagi Ibrahim. Juga menambah tuntutan kepada Sonya, bukan hanya kasus pembunuhan namun juga penggelapan uang kakek Pram, dan yang terakhir, Aira juga mengatakan jika ia pula yang akan mengurus perceraian Ibrahim dan Sonya di pengadilan agama.
Mendengar penjelasan itu, amarah di kepala Sonya langsung mendidih. Andaikan tidak ada dinding kaca penghalang ini dia pasti akan mencekik Aira hingga mati.
Bagaimana bisa gadis bodoh kampungan ini mengancamnya seperti ini? bahkan mengatakan pula bahwa dia sendirilah yang akan mengurus perceraiannya dengan Ibrahim.
"Dasar wanita sialaan! berani-beraninya kamu memperlakukan aku seperti ini Aira, sadarilah posisimu! kamu hanya gadis kampung! bodoh dan dungu!" bentak Sonya, wajahnya pun sudah berubah merah, mengisyaratkan amarah yang membuncah.
__ADS_1
"Ya, aku memang kampungan, bodoh dan dungu, tapi setidaknya aku memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada dirimu!" balas Aira, tak kalah sengit, ia bahkan terus menatap tajam ke arah Sonya.
Wanita yang telah dengan tega membunuh kakek Pram.
Sonya tergelak, saat mendengar Aira berkata memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Aira tidak tahu jika suaminya lah yang telah membunuh anaknya sendiri, pikir Sonya.
"Benar-benar wanita yang bodoh," ucap Sonya setelah tawanya mereda.
"Apa kamu tahu? saat bulan lalu kamu pendarahan, itu bukan karena kelelahan, tapi karena kamu keguguran. Suami tercinta mu itulah yang membunuh anakmu sendiri!" ucap Sonya dengan berbangga hati, ia yakin setelah ini Aira akan sangat terkejut, menangis, lalu dia sendirilah yang akan meminta berpisah kepada Ibrahim.
Hanya membayangkannya saja sudah membuat Sonya merasa senang.
Namun kebahagiaan itu mendadak hilang saat melihat Aira yang malah tersenyum.
"Aku tahu, anakku dan mas Ibrahim memang sudah meninggal. Dan karena itulah, sekarang kami menjalani program untuk hamil lagi," jelas Aira.
Tentu saja Sonya tersentak, saat mengetahui Aira sudah tahu tentang keguguran itu. Dan membicarakan tentang hamil seperti ini membuat Sonya tiba-tiba kehabisan kata-kata. Selamanya ia tidak akan bisa mengalahkan Aira tentang itu, karena saat ini ia tengah sakit. Sebelum sembuh selamanya ia tidak akan pernah bisa hamil.
Sonya terdiam, mendadak tak punya kuasa untuk melawan Aira.
"Semoga di dalam sana, kamu bisa bertobat. Memohon ampun atas semua dosa-dosa yang sudah kamu perbuat, terlebih pada kakek Pram."
Setelah mengatakan itu Aira bangkit dari duduknya dan segera berlalu dari sana. Luna pun mengikuti langkah sang nyonya.
__ADS_1
Terbesit senyum kecil di bibir Luna, ia merasa bangga kini nyonya Aira sudah bisa melawan, tidak selemah dulu.