
"Mas, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Aira.
Hari sudah larut malam, Yusuf pun sudah tertidur dengan begitu nyenyak. Kini Aira dan Ibrahim duduk di atas ranjang dan bersandar di sandaran tempat tidur.
Baik Aira ataupun Ibrahim sama-sama memegang sebuah buku bacaan. Ibrahim membaca buku tentang dunia kerjanya, sementara Aira membaca buku novel yang baru saja ia beli. Bacaan kisah tentang Haura yang memiliki dua anak kembar genius, Azam dan Azura.
Dan mendengar ucapan sang istri, Ibrahim pun menutup bukunya lalu menoleh dan menatap Aira.
"Katakan sayang, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ibrahim penuh perhatian, kini Aira adalah segalanya, selalu ia dahulukan dari semua urusan.
"Apa Mas ingin kita kembali memiliki anak?" tanya Aira lirih, sedari kemarin setelah melakukan hubungan suami dan istri, Aira ingin sekali membicarakan tentang ini pada suaminya.
Tentang rencana rumah tangga mereka ke depan, utamanya tentang anak.
Ibrahim diam, dia tidak langsung menjawab. Satu tangannya malah bergerak naik dan mengelus lembut wajah sang istri.
"Tentu saja, aku ingin kita memiliki banyak anak," jawab Ibrahim setelah susah payah ia menekan rasa takutnya. Rasa takut jika kelak ia akan kembali merasakan kehilangan.
Dan mendengar ucapan sang suami itupun, Aira menelan ludahnya dengan kasar. Beberapa waktu lalu ia sempat mengkonsumsi pil KB, kini Aira mendadak takut jika itu akan mempengaruhi rahimnya.
Belum lagi sebenarnya ia ingin menunda perihal anak itu, ia ingin setidaknya Yusuf berusia 2 tahun lebih dulu. Kini anak pertamanya itu masih berusia 7 bulan.
"Sebenarnya ... sebenarnya beberapa waktu lalu aku minum pil KB Mas," balas Aira lirih dan kedua netra Ibrahim sedikit membola, tentang itupun Ibrahim sudah tahu, dia bahkan menukar pil itu dengan penyubur rahim.
"Sebaiknya aku konsultasi dulu pada dokter Irna," jelas Aira dan kini kedua netra Ibrahim langsung membola.
"Tidak!" sanggah Ibrahim cepat. Bisa gawat jika sampai Aira memeriksakan kandungannya pada dokter lain selain dokter Liana.
Ibrahim takut jika dokter Irna nanti tahu jika Aira pernah mengalami keguguran.
Ibrahim takut jika Aira sampai mengetahui itu Aira akan meninggalkan dirinya.
Mendapat jawaban dengan nada tinggi dari sang suami, membuat Aira sejenak mengeryit. Namun belum sempat ia berspekulasi sendiri, Ibrahim lebih dulu menjelaskan ...
"Sebaiknya kita konsultasi ke dokter Liana," jelas Ibrahim yang mencoba menormalkan suaranya kembali.
"Terakhir yang tahu kondisimu kan dokter Liana, jadi lebih baik kita konsultasi di sana," timpal Ibrahim lagi, bingung mencari alasan yang tepat.
"Iya Mas," jawab Aira yang selalu menuruti perkataan suaminya, meskipun sebenarnya menurut Aira antara dokter Irna dan dokter Liana sama saja. Namun rasanya lebih nyaman dengan dokter Irna karena beliau adalah dokter keluarga. Tapi karena tidak ingin banyak berdebat dengan sang suami. Aira pun hanya bisa menuruti.
__ADS_1
Baik dokter Irna ataupun dokter Liana, keduanya sama-sama dokter kandungan.
Sebelum Aira kembali bertanya, Ibrahim lebih dulu mengajak istrinya itu untuk beristirahat. Mengambil buku Aira dan memintanya untuk berbaring di dalam dekapannya.
"Tentang KB, nanti saat kita konsultasi, biar aku yang KB saja, kamu tidak usah," jelas Ibrahim, setelah Aira tidur di lengannya dan dia peluk erat.
"Kenapa Mas?" tanya Aira pula, ia membalas pelukan itu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang menenangkan.
"Sebaiknya kita tunda dulu untuk memiliki anak, kita tunggu Yusuf berusia 2 tahun," papar Ibra. Mendengar itu diam-diam Aira tersenyum di dalam pelukan suaminya.
Seolah selalu bisa membaca isi hatinya, Ibrahim selalu mengerti apa yang dia mau.
Aira pun semakin memeluk suaminya erat, ia bahkan mendongak dan mengecup sekilas bibir sang suami.
"Setuju," balas Aira dengan senyumnya yang sangat ceria.
Dan melihat senyum itu, Ibrahim sangat bersyukur.
Kembali saling memeluk, namun belum sama-sama memejamkan mata. Aira teringat beberapa obat yang milik Sonya yang pernah ia lihat.
Besok adalah waktu Ibrahim untuk bersama istri pertamanya itu, jadi Aira ingin Ibrahim kembali bertanya sebenarnya itu obat untuk apa?
"Mas?"
"Hem?"
Aira melerai sedikit pelukannya, memberi jarak agar mereka bisa saling tatap.
"Waktu itu saat aku pergi ke rumah mbak Sonya, aku melihat mbak Sonya menebus banyak obat. Besok saat di sana, coba tanyakan itu obat untuk sakit apa? ya?"pinta Aira dan Ibrahim menganggukkan kepalanya kecil.
"Baiklah, besok aku akan tanya," jawabnya pula. Lalu kembali menarik Aira untuk masuk ke dalam dekapannya.
Mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang.
Hingga lambat laun keduanya sama-sama saling terlelap, dengan tubuh yang saling memeluk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya.
__ADS_1
Sebelum berangkat kerja, Ibrahim menyempatkan diri untuk mampir di rumah istri pertamanya.
Hari ini ada acara malam sangat penting, jadi ia ingin memberi tahu Sonya jika dia akan pulang terlambat.
Karena itu pulalah pagi ini ia datang, untuk mengganti waktunya nanti malam.
Ibrahim mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang pelayan.
"Dimana Sonya?"
"Ada di ruang makan Tuan."
Tidak kembali bertanya, Ibrahim langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
"Mas, kamu kemari?" tanya Sonya, cukup terkejut juga pagi-pagi Ibrahim datang.
"Iya, nanti malam aku ada acara penting di perusahaan, jadi aku akan pulang larut malam, karena itulah pagi ini aku datang," jawab Ibrahim apa adanya, setelah dia duduk disalah satu kursi.
"Mas sudah makan?"
"Sudah, kata Aira kamu sakit? sakit apa?" tanya Ibrahim langsung. Hubungan diantara mereka memang seperti ini. Ibrahim benar-benar memperlakukan Sonya sebagai temannya saja. Lain halnya dengan Sonya yang masih menganggap Ibrahim sebagai suaminya.
Dan ditanya seperti itu mendadak Sonya jadi bingung. Padahal sejak awal ia ingin sekali menceritakan kondisinya kepada Ibrahim, namun kini entah kenapa ia jadi ragu.
"Tidak Mas, aku hanya kurang darah."
"Jangan bohong, Aira tahu jika itu bukan obat kurang darah, dia kan juga darah rendah," balas Ibrahim membuat Sonya langsung menelan ludahnya dengan kasar.
Mau tidak mau pun akhirnya Sonya menceritakan semuanya kepada Ibrahim, tidak ada satupun yang di tutupi.
"Kenapa harus bohong untuk hal sepenting itu?" tanya Ibrahim, kini iapun jadi ikut cemas pula pada kondisi Sonya.
Sebuah perhatian yang sangat berharga bagi wanita cantik ini.
"Ini tidak bahaya Mas, hanya menganggu karena membuatku jadi sulit memiliki anak," jelas Sonya. Meski sebenarnya dokter Irna pun belum menjelaskan ini bahaya atau tidak untuk nyawanya.
"Aku akan terus menemanimu untuk berobat dan setelah kamu sembuh total, sebaiknya kita berpisah. Kamu berhak bahagia Sonya, menikah dengan seseorang yang mencintaimu dan memiliki keturunan," jelas Ibrahim. Sesungguhnya ia tak ingin mengekang Sonya dalam pernikahan seperti ini.
Dan perasaan bahagia Sonya atas perhatian Ibrahim tadi mendadak hilang, kini sesak itu kembali Sonya rasa.
__ADS_1
Meski Sonya tahu betul jika maksud Ibrahim itu baik untuknya. Namun jika boleh meminta, bisakah Ibrahim saja yang kembali mencintainya?