
"Kamu membela dia?" tanya Ibra, tatapannya tertuju pada Aira dan jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah Dirga.
Dan secepat kilat Aira langsung kepalanya cepat.
"Aku tidak membela dia Sayang. Dia tidak akan bisa kita ajak bicara, lebih baik kita pergi," mohon Aira sungguh-sungguh, ia bahkan menatap penuh iba kepada sang suami.
Aira tahu Ibrahim adalah seorang pemarah dan selama ini suaminya itu sudah berusaha keras untuk berubah. Aira tidak ingin perselisihan mereka dengan Dirga membuat Ibrahim kembali seperti dulu, pemarah dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Mas, ada Yusuf," ucap Aira lirih dan nama itu berhasil meredam amarah Ibrahim, ia kemudian meminta Aira untuk pergi menjauh dari mereka berdua.
Aira menurut, ia akhirnya pergi dari sana meninggalkan Ibrahim dan Dirga.
Dan setelah kepergian Aira, Ibrahim langsung menatap Dirga dengan tatapan yang tajam. Seolah tidak ada lagi kata damai di antara mereka berdua.
"Apa maumu? mengambil anakmu kembali? baiklah, kalau begitu ambil dan uruslah sendiri denganmu!" ucap Ibrahim dengan suaranya yang meninggi. Tidak sedikitpun ia merasa iba kepada Dirga, meski istrinya kini tengah terbaring koma dan sang anak masih bayi berumur beberapa hari.
"Kamu kira mengurus bayi itu mudah, istriku rela memberikan asinya pada anak orang lain, dia rela waktu istirahatnya hanya untuk mengurus anak dari pria tidak tahu diri seperti dirimu!" bentak Ibra pula sedangkan Dirga mendadak diam. Tiba-tiba ia tidak punya kata untuk membantah.
"Harusnya kamu malu pada istrimu! dia nyaris mati untuk melahirkan anakmu, tapi kamu bukannya terus ada untuk dia malah sibuk mengusik rumah tangga kami."
Deg! seketika itu juga jantung Dirga terasa seperti teremat. Berdesir yang terasa begitu sakit.
Sekelebat ingatannya tentang Adisty yang berjuang antara hidup dan mati kembali terlintas di ingatannya. dan kini yang ia lakukan malah masih sibuk sendiri dengan perasaannya kepada Aira.
Rasa bersalah itu mendadak menggerogoti hati Dirga, terasa perih dan begitu menyesakkan.
Dan melihat Dirga yang hanya diam saja Ibrahim memutuskan untuk segera pergi dari sana, dia sudah muak dan tidak peduli dengan apa yang akan Dirga ucapkan sebagai sanggahan ucapannya.
__ADS_1
Ibrahim segera menemui sang istri yang menunggu di ujung koridor rumah sakit.
Sedangkan Dirga masih diam membantu di tempatnya berdiri. menatap kepergian Ibrahim dan melihat Aira yang menyambut suaminya di ujung sana. Lalu saling memeluk dan pergi meninggalkan rumah sakit ini.
Rumah tangga Aira dan Ibrahim kini benar-benar berbeda dari dulu. Kini nampak jelas bahwa mereka berdua saling mencintai, bukan hanya Aira namun Ibrahim pun begitu, mencintai Aira dengan begitu dalam.
kini Dirga pun bingung melihat itu, hatinya tetap saja sakit entah karena cemburu atau merasa iri rumah tangga Aira berjalan dengan baik.
Sementara rumah tangganya sendiri berakhir mengenaskan seperti ini.
Dirga mengusap wajahnya dengan kasar, lalu segera kembali ke ruangan sang istri. melihat Adisty yang masih belum juga sadarkan diri.
Dirga duduk di sisi ranjang dan memegang salah satu tangan istrinya erat, dilihatnya cincin pernikahan mereka yang masih terpasang rapi di jari manis Adisty.
Melihat itu Dirga teringat saat dulu melamar wanita ini untuk menjadi istrinya. Dirga menjanjikan kebahagiaan, cinta yang berlimpah, janji suci untuk sehidup semati dan memiliki rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah.
Pertengkaran pun terjadi di antara Dirga dan Adisty, sampai akhirnya kontraksi itu terjadi, lalu Adisty melahirkan bayinya dan dia jatuh koma.
Mengingat itu kini dia sadar bahwa komanya Adisty adalah karena dia, dan perasaan bersalah itu pun semakin mencengkram erat hati Dirga.
"Maafkan aku dis, Maafkan aku. Aku mohon bangunlah, aku mohon," ucap Dirga, kini air mata mulai mengalir dari kedua matanya, jatuh hingga mengenai punggung tangan Adisty.
Dirga sungguh merasa bersalah akan semua yang terjadi. Adisti adalah wanita yang baik dan dia sudah menyakiti hati istrinya sendiri.
"Maafkan aku Dis, aku mohon bangunlah."
Tapi sayang, seberapapun banyak Dirga meminta Adisty untuk bangun, istrinya itu tetap tidak menunjukkan perubahan apapun. Adisty masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Tapi di bawah alam sadarnya, Adisty seperti mendengar suara suaminya yang meminta maaf.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, aku bukan membela Dirga, Aku hanya tidak ingin kamu terpancing oleh amarahnya," jelas Aira lagi saat mereka sudah berada di dalam mobil. Mobil yang masih terparkir rapi di area parkiran rumah sakit, bahkan mesin mobilnya pun belum dinyalakan oleh Ibrahim.
"Iya sayang, maafkan aku. Aku sempat salah menilaimu dan mengira bahwa kamu membela Dirga," jawab Ibrahim dan Aira menggelengkan kepalanya, tidak mungkin ia membela laki-laki lain pasti suaminya lah yang akan ia bela lebih dulu.
Kesalah pahaman itu usai saat Ibrahim mengecup sekilas bibir sang istri. Dan Aira malah membuka mulutnya, membuat Ibrahim tergoda untuk masuk lebih dalam.
Terlebih kini Yusuf pun sudah tertidur di kursi khusus bayi di kursi tengah. Membuat keduanya seolah tidak punya penghalang lagi. Aira tidak memberontak sedikitpun saat Ibrahim menelusupkan tangannya masuk ke dalam bajunya, melepas pengait bra yang berada punggung. Membuat dadanya terlepas dari sanggahan.
Dan setelahnya Ibra mengangkat baju istrinya naik, lalu menenggelamkan wajahnya di antara kedua gundukan sintal itu, menguluumnya secara bergantian hingga membuatnya basah. Dulu percintaan di dalam mobil begitu Aira takuti, namun kini ketakutannya sudah hilang.
"Mas, kita masih di parkiran rumah sakit," ucap Aira diantara lenguhannya.
"Hanya sampai kamu keluar sayang," balas Ibrahim, membuat Aira tidak berdaya di bawah kuasanya sudah membuat Ibrahim merasa puas. Menggunakan tangannya yang lain, Ibrahim berhasil membuat tubuh sang istri menggeliat dengan bibirnya yang menjerit kecil.
"Ayo kita pulang," ajak Ibra setelah Aira lemah dan tidak berdaya. Aira menunduk, merasa malu. Dengan tidak tahu malunya dia mengangkat pinggul, meminta sang suami membuatnya mengalami pelepasan. Tapi Ibra sungguh bahagia melihat respon tubuh Aira itu.
Keterbukaan dalam hubungan intim seperti ini, membuat keduanya semakin saling mencintai. Tidak melulu bagaimana cara memuaskan sang suami, namun juga istri.
Sampai di rumah Aira segera membersihkan tubuhnya, sementara Ibrahim membawa Yusuf yang sudah bangun untuk menemui kakek dan neneknya di ruang tengah.
Disana mereka berkumpul dan membicarakan banyak hal yang mengalir begitu saja. Kini tidak ada lagi kata canggung diantara mereka. Di depan kedua mertuanya, Ibrahim benar-benar bersikap layaknya menantu dan anak. Bukan lagi seorang CEO seperti dulu.
Ibrahim bahkan akan membangunkan sebuah kolam ikan di belakang rumah untuk ayah mertuanya memiliki peliharaan. Pak Iman senang sekali, ia bahkan antusias untuk menyambut kolam ikan emas nya nanti.
__ADS_1