Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 65 - Keputusan Dirga


__ADS_3

Sore hari Ibrahim dan Aira pulang ke rumah, kejadian Aira masuk ke rumah sakit tadi tidak sampai diceritakan kepada Pak Imam dan Ibu Asma.


Mereka hanya mengatakan pesawat mengalami penundaan penerbangan sehingga kepulangan mereka ke rumah ini sedikit terlambat, tidak sesuai dengan jam yang tadi pagi diucapkan oleh Ibrahim.


Pak Imam dan Ibu Asma pun mempercayai ucapan sang menantu, mereka lantas menyambut anak dan menantunya dengan antusias. Mereka juga langsung menunjukkan Yusuf kepada Aira dan Ibrahim.


mereka semua lantas saling melepas rindu dengan pelukan hangat, Aira bahkan tidak henti-hentinya menciumi pipi sang anak.


Meskipun pergi bersama sang suami, namun tetap saja ia sangat merindukan Yusuf. Bahkan setiap malam sebelum tidur dia pasti akan teringat akan sang anak. sedikit sedih dan merasa bersalah kenapa dia tidak membawa saja Yusuf untuk ikut berlibur ke Bali.


Setelah melepas rindu kepada kedua orang tua mereka dan memberikan beberapa oleh-oleh, Aira dan Ibrahim pun mengajak Yusuf untuk masuk ke dalam kamar. Saat itu pun waktu sudah senja, waktu maghrib hampir tiba.


Selepas baby moon mereka, bukannya merasa bahagia Aira malah merasa ada beban di dalam hatinya.


Dan hal itu disadari oleh Ibrahim.


Saat malam semakin larut dan mereka mulai terbaring bersama di atas ranjang. Ibrahim kembali mengajak istrinya berbincang, dengan satu tangannya yang terus mengelus Yusuf yang berada di tengah-tengah mereka.


"Sayang kamu masih mengingat tentang Dirga?"


Sebelum menjawab Aira menatap kedua netra suaminya.


"Aku takut Mas, aku takut Adisty mengetahui perasaan Dirga itu dan dia meninggal dalam keadaan membenciku."


Ibrahim terdiam, dia tahu rasanya menyimpan rasa bersalah kepada seseorang yang telah meninggal. Dan itu rasanya sungguh menyiksa, karena kita tidak bisa mengucapkan kata maaf secara langsung.


Tidak tahu apakah orang itu bisa memaafkan kita atau tidak, seperti dia kepada kakek Pram.


"Kita doakan saja sayang, agar Adisty tenang di sana juga Dirga yang bisa memulai hidupnya kembali karena sekarang dia tidak sendiri, ada Akbar bersamanya ..."


"Aku yakin Adisty juga tidak membencimu, buktinya sebelum dia meninggal Adisty menitipkan Akbar padamu, Akbar hanya tenang saat berada di dekatmu, aku yakin itu juga karena restu Adisty," timpal Ibrahim lagi.


Sebuah ucapan yang mampu membuat hati gelisah Aira akhirnya jadi sedikit tenang.


"Benarkah seperti itu mas?"

__ADS_1


Ibrahim mengangguk kecil, lantas satu tangannya yang lain mengelus kepala sang istri. Ingin Aira tenang dan tidak kembali merasa bersalah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah pak Basir malam ini.


Dirga memanggil kedua orang tuanya untuk membicarakan sebuah hal. Rencananya untuk pindah tinggal di Surabaya bersama Akbar.


Mendengar itu tentu saja ibu Rachel dan pak Basir sangat terkejut. Setelah kepergian Dirga ke Bali untuk menjalankan pekerjaannya, mereka kira akan melihat anaknya yang pulang dengan lebih segar.


Tapi ternyata salah, Dirga malah semakin murung dan kini berniat untuk pindah ke Surabaya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Dirga? apa kepergian Adisty begitu membuatmu terpuruk, ibu lihat kamu sudah tidak memiliki semangat lagi, seperti dulu," ucap ibu Rachel, kedua matanya berkaca-kaca membayangkan sang anak akan pergi bersama cucunya yang masih kecil.


Dirga memang selama ini selalu tertutup tentang masalah pribadinya kepada orang tua.


Tapi ibu Rachel sungguh tidak ingin Dirga menanggung semua kesedihan sendirian, dia ingin sang anak berbagi kesedihan itu. Memikulnya bersama hingga terasa lebih ringan.


"Aku hanya ingin merasakan suasana baru Bu, memulai hidup baru bersama Akbar disana."


"Dirga, bukan bapak tidak menghargai keputusanmu. Tapi andaikan kamu memiliki masalah disini selesaikanlah, jangan memilih untuk pergi." Kini pak Basir pun buka suara.


Hubungan Dirga dengan Ibrahim dan Aira pun menjadi sorot perhatiannya. Tentang Dirga yang seolah membenci Ibrahim dan Aira tanpa sebab yang jelas.


"Apa keputusanmu ini karena Ibrahim dan Aira?" tanya pak Basir, inilah yang di aduga menjadi penyebab utama Dirga ingin meninggalkan ibu kota dan tinggal di Surabaya.


Dan mendengar nama kedua orang itu disebut Dirga seperti tersentak hatinya, karena tebakan sayang ayah begitu tepat.


Dirga memutuskan untuk pergi memang karena Ibrahim dan Aira, karena Aira yang memintanya untuk tidak kembali menemui dirinya.


"Jawab Dirga," ucap pak Basir lagi, karena Dirga memilih diam, nampak ragu untuk menjawab.


Hingga akhirnya Dirga pun menceritakan semuanya, sebuah rahasia hati yang selama ini dia simpan rapat-rapat. Tentang perasaan tak terbalasnya kepada Aira.


Tentang menikahi Adisty untuk melupakan Aira, tentang Adisty yang koma karena mengetahui perasaannya yang sesungguhnya dan tentang Aira dan Ibrahim yang kini menaruh benci kepadanya karena memiliki perasaan itu.

__ADS_1


Dirga tidak sampai menangis, namun matanya memerah, seolah air mata itu nyaris tumpah. Dia pun tidak tahu kenapa hidupnya jadi sekacau ini hanya karena sebuah rasa.


Dirga lelah dan dia ingin melupakan semuanya, bersama Akbar dan memulai hidup baru.


Pak Basir ternganga mendengar cerita itu, sedangkan ibu Rachel sudah menangis hingga terisak.


Sama seperti Aira, ibu Rachel pun begitu malu dengan pengakuan Dirga itu. Harusnya sejak awal Dirga sudah membentengi diri untuk tidak mencintai Aira, karena sejatinya saat itu Aira masihlah istri sah Ibrahim.


Ibu Rachel beristigfar, bahkan meminta sang anak untuk terus mengucapkan kata maaf kepada mendiang Adisty.


Dan melihat ibunya menangis seperti itu, membuat Dirga tidak lagi sanggup menahan air matanya. Dia menangis, namun menutup mulutnya rapat agar tidak jadi isak.


Cukup lama hanya ada tangis yang mereka dengar disana, sampai akhirnya tangis itu mereda dan pak Basir kembali buka suara.


"Tidak perlu pergi ke Surabaya, kamu bukannya membuat Akbar bahagai tapi malah menyiksanya. Dia masih kecil dan nanti kamu disana akan sibuk bekerja ..."


"Lebih baik disini, ibumu bisa membantu menjaga Akbar ..."


"Dan tentang masalahmu dengan Aira dan Ibrahim hadapilah, jangan jadi pengecut dan egois lagi ..."


"Mereka orang-orang baik, mereka hanya butuh waktu untuk memaafkanmu, dan kamu juga hanya butuh waktu untuk melupakan Aira dan memulai hidupmu yang baru," putus pak Basir.


Dirga tidak bisa membantah, selain pasrah. Kini keputusan sang itulah yang akan menjadi keputusannya pula.


Pelan-pelan dia akan menata hati dan hidupnya kembali, menjadikan cinta untuk Aira sebuah kenangan indah dan bukan beban.


Mengikhlaskan diri, bahwa Aira memang bukanlah jodohnya.


Maafkan aku Adisty, batin Dirga.


Dan setiap waktu dia akan terus mengucapkan kata maaf untuk mendiang sang istri. Adisty, wanita yang sudah memberikannya berkah seorang anak di dalam hidupnya.


Maafkan aku. Maafkan aku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Mampir juga ya ke cerita on going ku yang lain ❤



__ADS_2