
Dan disinilah kini Ibrahim berada, duduk di samping ranjang sang istri dan memperhatikan Aira yang masih juga belum tersadar. Setelah mendapatkan penanganan tadi, kini Aira di pindahkan ke ruang rawat.
Namun Aira masih juga belum membuka matanya. Bahkan wajahnya nampak begitu pucat, membuat Ibrahim yang melihatnya merasa tak kuasa. Hatinya terasa teriris saat melihat aira tak berdaya seperti ini.
“Apa yang terjadi pada istri saya Dok?” tanya Ibrahim, ia menoleh pada sang dokter yang masih berdiri di sampingnya. Pertanyaan itu pulalah yang sedari tadi dokter ini tunggu, mengatakan kesalahan fatal apa yang sudah di perbuat oleh Ibrahim.
“Nyonya Aira mengalami keguguran Tuan, dan penyebabnya adalah Anda,” ucap dokter itu gamblang. Sebenarnya ia pun sungguh merasa marah saat mengetahui kondisi sang pasien. Pendarahan itu terjadi karena mendapatkan tekanan yang kuat diarea inti dan perutnya. Bahkan luka lecet di inti pasien pun nampak jelas.
Dokter Liana menarik dan menghembuskan nafasnya sebelum kembali menjelaskan apa yang terjadi.
Sementara Ibrahim yang mendengarkan satu per satu penjelasan dokter Liana pun meneteskan air matanya. Ia menangis merasakan sesak yang teramat di bagian dada. Ibrahim sangat merasa bersalah pada sang istri sekaligus anaknya sendiri yang kini sudah tiada.
Sesaat hanya ada suara tangis Ibrahim di ruang itu setelah dokter Liana selesai bicara.
Hingga akhirnya Ibrahim kembali berucap.
“Saya mohon Dok, jangan beri tahu istri saya jika dia telah kehilangan anaknya. Istri saya belum tahu jika dia hamil dok, saya tidak ingin membuatnya semakin terluka,” pinta Ibrahim dengan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
“Maaf Tuan, tapi Nyonya Aira harus tau apa yang terjadi padanya. Ini untuk membuat Nyonya Aira bisa menjaga tubuhnya sendiri dan mempercepat pemulihan,” jawab dokter Liana apa adanya.
Dan tanpa di duga oleh dokter Liana, Ibrahim langsung turun dari duduknya dan bersimpuh dihadapan sang dokter.
“Saya mohon Dok, saya mohon jangan beri tahu istri saya. Saya bersumpah sayalah yang akan menjaga Aira dengan baik, saya bersumpah dok!” pinta Ibrahim, tak hanya bersimpuh menggunakan kedua lututnya, ia pun mengatupkan kedua tangan di depan dada membuat sebuah permohonan.
Dokter Liana bergeming, jika sudah seperti ini ia terpaksa menuruti, bagiamana pun Ibrahim adalah suami Aira dan dokter Liana pun bisa melihat dengan jelas penyesalan Ibrahim.
“Baiklah, tapi saya akan terus mengawasi perkembangan Nyonya Aira, anda harus rutin membawanya kemari untuk check-up.”
“Baik Dok, terima kasih,” balas Ibrahim.
Ibrahim lantas kembali bangkit, kembali duduk di kursinya dan menggenggam erat tangan Aira. Diciuminya berulang tangan itu dengan hati yang terus memohon.
__ADS_1
Maafkan aku Aira, maafkan aku. Lirih Ibrahim di dalam hati.
Malam itu Ibrahim kembali mengambil keputusan di dalam hidupnya, bahwa ia tak akan menceraikan Aira sampai kapanpun. Ia akan menebus semua kesalahannya dengan memperlakukan Aira dengan baik sebagai istrinya. Selamanya Aira akan menjadi istri yang sangat ia sayangi.
Pak Basir dan ibu Rachel pun datang ke rumah sakit dan saat mereka bertanya apa yang terjadi Ibrahim hanya menjelaskan jika Aira kelelahan.
Meskipun ragu namun pak Basir dan ibu Rachel coba untuk mempercayainya.
Malam itu pak Basir dan ibu Rachel pun menunggu Aira tersadar di rumah sakit.
Namun hingga panggi datang, Aira belum juga tersadar.
“Tuan, kami akan pulang, jika ada sesuatu pada Nyonya Aira tolong kabari kami,” pinta pak Basir pada Ibrahim.
Ibrahim tak menjawab apapun, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang terus menatap sang istri.
Pak Basir dan ibu Rachel saling pandang, tak menyangka juga saat melihat Ibrahim yang menjaga Aira dengan begitu baik. Bahkan semalaman Ibrahim sedikitpun tak memejamkan matanya.
Beberapa perawat datang setelah pak Basir dan ibu Rachel pergi. Perawat itu memeriksa semua kondisi Aira, bahkan mengganti kantung infus yang nyaris habis.
“Sabar Tuan, insya Allah hari ini juga Nyonya Aira akan sadar,” jawab salah satu perawat itu dan Ibrahim pun hanya menganggukkan kepalanya.
Ada perasaan sedikit lega dihati Ibrahim.
Kabar tentang masuknya Aira ke rumah sakit pun sudah di dengar oleh Sonya, ia pun memutuskan untuk menjenguk madunya itu.
Bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Aira. Kenapa Aira selalu saja mencari simpati dari semua orang.
Saat membuka pintu ruang rawat Aira, Sonya dibuat terkejut saat melihat sang suami ada di dalam sana. Tak hanya duduk, Ibrahim bahkan menggenggam erat tangan Aira dengan penuh kasih sayang. Sementara Aira nampak masih belum sadar.
Hati Sonya berdenyut nyeri saat melihat pemandangan itu. Kini ia tahu kenapa Ibrahim tak lagi mencintai dirinya, karena Ibrahim telah mencintai Aira.
__ADS_1
Ibrahim tak bisa mencintai 2 wanita dalam waktu bersamaan, dan ternyata disini Sonya lah yang kalah.
Menyadari itu Sonya mengepalkan tangannya kuat, niatnya urung untuk menjenguk Aira, Sonya kembali pergi tanpa menutup pintu itu. Pergi dengan lelehan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
“Sayang, bangunlah,” ucap Ibrahim lirih, saat ini sudah jam 9 pagi dan Aira belum juga membuka matanya.
“Apa aku harus memanggil Yusuf kemari?” tanya Ibrahim.
Meski tak sadar, namun Aira dapat mendengar saat nama anaknya di sebut.
“Bangunlah sayang, kamu tidak ingin menemui Yusuf?” tanya Ibrahim lagi, sesak di dada masih ia rasa. Bahkan matanya kembali berkaca-kaca, apalagi memikirkan nasib Yusuf dan Aira yang selalu ia sakiti.
“Maafkan aku Aira, maafkan aku, aku mohon bangunlah,” pinta Ibrahim, ia terus mencium tangan Aira sampai akhirnya tangan itu bergerak.
Ibrahim tersentak dan langsung menatap wajah sang istri. Dilihatnya Aira yang dengan perlahan membuka mata.
“Mas,” ucap Aira tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak mengucapkan satu kata itu.
Ibrahim langsung bangkit, memeluk sang istri dan menciumi wajah sang istri. Bahkan Ibrahim pun mencium bibir istrinya dengan begitu lembut. Sentuhan lembut yang tak pernah Aira dapatkan selama ini.
“Terima kasih sayang, terima kasih kamu sudah sadar,” ucap Ibrahim.
Namun Aira sungguh tak percaya kalimat itu yang ia dengar. Sayang? Dan ucapan yang begitu lembut.
Aira bahkan merasa jika ini pasti mimpi.
“Maafkan aku, aku mohon maafkan aku,” ucap Ibrahim.
Dan lagi-lagi Aira tak mempercayai apa yang ia dengar.
“Aku mencintaimu,” ucap Ibrahim.
__ADS_1
Sementara Aira makin merasa jika ini adalah mimpi.
Aira tidak tahu jika untuk mendapatkan kata cinta itu ia harus menukar dengan nyawa anaknya.