Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 42 - Penyesalan Yang Mendalam


__ADS_3

Sudah hampir 2 jam Ibrahim pergi dan dia belum juga kembali. Sementara Aira terus menunggu dengan setia di dalam kamar. Bahkan sarapan yang dibawa pelayan sudah habis ia lahap.


"Sebenarnya mas Ibra kemana? apa dia pergi ke kantor?" tanya Aira dengan suaranya yang bergumam. Bertanya pada sendiri berharap bisa menemukan jawaban yang mungkin pas.


Sampai akhirnya bik Sumi datang ke kamar ini dan memberikan Yusuf kepada sang ibu.


"Bik, tolong buka pintu balkon nya ya?" pinta Aira setelah Yusuf ia gendong.


"Baik Nyonya," jawab bik Sumi. Ia membuka pintu balkon juga gorden yang menghalangi, membiarkan angin segar pagi ini masuk ke dalam kamar itu.


"Bik, apa mas Ibra ada di bawah? katanya dia cuma turun sebentar, tapi sampai sekarang belum juga kembali," ucap Aira, seraya bertanya dimana suaminya berada.


Dan bik Sumi pun bingung harus menjawab apa. Menceritakan yang sebenarnya terjadi atau berbohong saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kantor polisi.


Setelah membuat laporan atas tuduhannya kepada Sonya, kini Ibrahim menyerahkan barang bukti pada penyidik.


Sebuah rekaman CCTV yang dibawa oleh sang asisten pribadi. Dalam rekaman itu nampak jelas Sonya yang mempermainkan selang pernafasan kakek. Lalu tak lama setelahnya kakek Pram kejang dan mengalami kematian.


Ibrahim yang pertama kali melihat rekaman itupun sangat marah. Ia bahkan menggebrak meja polisi dan berniat kembali mencekik Sonya hingga mati.


Namun untunglah beberapa polisi dan Robby bisa mencegah. Saat itu juga Sonya langsung dibawa ke dalam sel tahanan.


Laporan sudah dibuat dan barang bukti pun sudah diserahkan. Sonya tidak bisa berkelit, saat itu juga Sonya ditahan untuk menjalani beberapa pemeriksaan.


5 jam Ibrahim baru keluar dari dalam kantor polisi. Hatinya hancur lebur, mengetahui fakta ini. Kakeknya meninggal karena wanita sialan itu.


"Ya Allah," ucap Ibrahim, rasanya ia tak sanggup lagi untuk hidup. Ia sungguh malu dan merasa bersalah pada sang kakek. Istri yang dulu ia bangga-banggakan, ia cintai sepenuh hati ternyata hanyalah seorang wanita berhati iblis.


Siang itu Ibrahim tidak langsung pulang, ia meminta Robby untuk mengantarnya ke makam sang kakek.

__ADS_1


Di sana Ibrahim langsung bersimpuh, menangis dan memeluk makan kakek Pram erat. Tidak peduli lagi dengan bajunya yang sudah lusuh dan kotor. Bahkan terik matahari langsung mengenai ubun-ubun kepalanya.


"Maafkan aku Kek, maafkan aku."


"Aku mohon maafkan aku kek, aku mohon."


"Kek ..." lirih Ibrahim, air matanya terus mengalir tak habis-habis.


Saat ini ia tak ingat apa-apa, tidak ingat akan Aira, tidak ingat akan Yusuf dan tidak ingat dengan semua harta peninggalan kakek Pram. Yang dia ingat hanya satu, penyesalannya yang sangat mendalam.


"Maafkan aku Kek, aku mohon," terus mengucapkan kata itu. Sementara Robby dengan setia berdiri tak jauh dari tuannya berada. Menatap iba pada sang tuan.


Robby bukan asisten baru untuk Ibrahim. Dia cukup mengerti hidup yang selama ini di jalani oleh tuannya.


Tak kuasa melihat tuannya seperti itu, Robby lantas menghubungi pak Basir untuk datang ke pemakaman ini.


Dan 30 menit kemudian pak Basir benar-benar datang. Dilihatnya langsung Ibrahim yang memeluk makam sang kakek dengan isak tangisnya.


"Ibrahim," panggil pak Basir.


"Pak Basir," ucap Ibrahim dengan suaranya yang nyaris habis.


Robby sudah menceritakan semuanya pada pak Basir, hingga pria paruh baya ini bisa tahu apa yang tengah dialami oleh Ibrahim.


Bahkan pak Basir bisa merasakan, penyesalan yang teramat dalam dikedua mata Ibrahim.


"Pak ..."


"Sudah lah Ibra, istighfar, semuanya sudah terjadi," jawab pak Basir, ia bahkan menepuk pundak Ibrahim, mencoba menenangkan.


Tapi bukannya reda, tangis itu malah semakin menjadi.


Dan pak Basir terus mencoba memberi pengertian. Bahwa inilah takdir yang sudah digariskan untuk kehidupan mereka. Kakek Pram sudah meninggal bagaimanapun caranya dan sampai kapanpun tidak akan bisa hidup lagi.

__ADS_1


Yang bisa Ibrahim lakukan kini hanya satu, menjalankan amanat kakek Pram sebelum meninggal.


Sebuah nasehat yang selama ini selalu Ibrahim acuhkan kini coba untuk kembali di dengarkan.


Mendengar ucapan pak Basir itu, tangis Ibrahim mulai mereda. Air matanya tidak lagi mengalir meski nafasnya masih tersengal.


Bahkan ia masih merasa sulit untuk bernafas.


Dan saat itu juga, Ibrahim langsung teringat akan Aira dan Yusuf. Aira istri yang dipilihkan kakek Pram untuknya. juga Yusuf, anak buah cinta mereka.


Setelah Ibrahim benar-benar merasa tenang, akhirnya mereka semua meninggalkan pemakaman itu.


Ibrahim sampai di rumah utama saat jam setengah 5 sore, sementara Aira masih setia di dalam kamar menunggu suaminya pulang.


Pagi tadi bik Sumi tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bik Sumi hanya mengatakan jika tuan Ibrahim mendadak pergi karena ada keperluan mendadak.


Dan akhirnya setelah sekian lama menunggu, pintu kamar itu akhirnya dibuka oleh Ibrahim. Aira yang sedang menggendong Yusuf pun langsung tersentak, melihat penampilan Ibrahim yang membuatnya terenyuh.


Wajahnya nampaknya lusuh dengan bajunya yang begitu kotor, belum lagi kedua netra nya yang terlihat basah dan merah.


Hanya melihat saja sudah membuat dada Aira sesak. Pun hatinya yang terasa teriris.


"Mas," panggil Aira saat sang suami mulai mendekat.


Dan dilihatnya dengan jelas Ibrahim yang memaksakan senyum agar terlihat baik-baik saja.


"Jangan tersenyum seperti itu, apa yang terjadi?" tanya Aira, kini kedua netra nya sudah berkaca-kaca, saat Ibrahim semakin dekat dan membuatnya bisa melihat dengan jelas kesedihan sang suami.


"Aku ingin memelukmu, tapi tubuhku kotor," jawab Ibrahim, lirih. Suaranya kini benar-benar nyaris habis.


"Aku tidak masalah," jawab Aira.


Dan setelahnya Aira langsung memeluk suaminya diantara Yusuf yang ia gendong dengan satu tangan. Mengusap kepala Ibrahim berulang berharap suaminya akan tenang.

__ADS_1


Dan Ibrahim pun membalas pelukan itu, dengan satu tangannya yang membelai lembut tubuh Yusuf.


__ADS_2