Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 38 - Jati Diri


__ADS_3

"Aku tidak ingin menyiksamu dalam pernikahan seperti ini, kamu cantik, berpendidikan dan dari keluarga terhormat, aku yakin di luar sana akan ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus," ucap Ibrahim.


Ia bicara dengan hati-hati agar Sonya bisa mengerti ketulusan nya.


Sementara Sonya hanya diam, sesekali ia bahkan menghapus air bening diujung matanya agar tidak jatuh.


"Tidak bisakah kamu mencoba kembali mencintaiku Mas?" tanya Sonya lirih. Akhirnya ia kembali menuntut Ibrahim tentang ini, meski sebelumnya mereka sudah sama-sama bersepakat untuk hanya menjadi teman.


"Kamu paling tahu, aku tidak bisa mencintai 2 wanita sekaligus. Dan cintaku kepada Aira sudah terlanjur dalam, apalagi diantara kami sudah ada Yusuf," jelas Ibrahim.


Dan Sonya terdiam.


Sampai akhirnya Ibrahim pamit untuk pergi, Sonya tak juga buka suara.


ia masih gamang dengan apa yang terjadi di hidupnya ini.


"Apa aku harus menceritakan kepada Aira tentang Semuanya? tentang mas Ibrahim yang selama ini tidak memperlakukan ku sebagai istri?" gumam Sonya, mengetahui kondisinya yang kini sakit membuat Sonya merasa ia lebih berhak atas Ibrahim.


Membuatnya kembali menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan nya yang terakhir kali.


Rasanya sungguh tak adil jika ia terus yang menderita seperti ini, sakit dan terbuang.


"Ya, aku harus meminta bantuan Aira agar mas Ibrahim kembali memperlakukan aku sebagai istrinya," putus Sonya.


"Mas Ibrahim pasti akan menuruti semua keinginan Aira."


"Tapi kenapa? kenapa mas Ibrahim selalu menuruti keinginan Aira?" cuma Sonya lagi.


Dulu saat masih mencintainya, Ibrahim tidak pernah sampai bersikap seperti ini, menuruti semua kemauannya tanpa banyak berdebat. Ibrahim hanya akan menurut jika ia memiliki kesalahan.


Menyadari itu, Sonya kembali termenung, memikirkan kira-kira kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh Ibrahim sampai terus menuruti keinginan Aira hingga kini.


Perusahaan Ibrahim bermula saat Aira masuk rumah sakit 2 bulan lalu.


Kedua netra Sonya langsung membola, mulai banyak rencana-rencana yang mulai ia susun untuk mendapatkan suaminya kembali.


Tanpa menunda, Sonya langsung bangkit dari duduknya. Mengambil kunci mobil dan mulai pergi meninggalkan rumah. Tujuannya kini hanya satu, menuju rumah sakit dimana Aira di rawat dulu.


Sampai di rumah sakit itu Sonya langsung menuju meja informasi, menanyakan siapah dokter yang menangani Aira di rumah sakit ini.

__ADS_1


Hingga satu nama ia pegang, dokter Liana.


Dengan keyakinan yang penuh bahwa Ibrahim adalah penyebab terluka nya Aira saat itu, Sonya menemui dokter Liana.


Memperkenalkan diri sebagai istri pertama Ibrahim.


Mendengar itu dokter Liana pun sedikit mengerutkan dahinya, masalah pribadi pasien memang tidak pernah ia urusi.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Aira saat itu Dok? sekarang ini Aira banyak sekali mengalami perubahan," ucap Sonya dengan wajahnya yang sendu, membuat seolah keadaan Aira belum membaik.


"Apa yang terjadi pada Nyonya Aira? belum lama ini beliau datang dengan tuan Ibrahim dan saya lihat keadaannya baik-baik saja," jawab dokter Liana, sesuai dengan pengamatannya. Semenjak Aira keluar dari rumah sakit, Aira dan Ibrahim tetap rutin datang kemari tiap dua minggu sekali untuk memeriksa kondisi kesehatan Aira.


Dan dari pengamatan dokter Liana, Aira sudah sembuh.


Sonya tidak langsung menjawabi, dia menghela nafasnya dengan berat.


"Aira seperti itu karena ada Ibrahim disampingnya, jika sedang bersama saya, Aira sering sekali mengeluh sakit," bohong Sonya. Dulu ia sempat bertanya pada bik Sumi tentang kondisi Aira di rumah sakit. Sonya masih ingat dengan jelas saat itu bik Sumi mengatakan jika Aira hanya kelelahan, pinggulnya terasa sakit dan sebelum jatuh sakit Aira mengalami pendarahan.


Kini Sonya merasa itu bukan hanya kelelahan, pasti ada sesuatu yang lain.


Sonya bahkan terus mendesak dokter Liana untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Merasa cemas dengan kondisi pasien, akhirnya dokter Liana pun mengatakan semuanya kepada Sonya.


Kedua netra Sonya langsung terbelalak saat mengetahui faktanya. Ia sungguh terkejut sampai tak bisa berkata-kata.


Parahnya lagi, Aira tidak mengetahui itu.


Keluar dari ruangan dokter Liana, Sonya seolah menemukan secercah cahaya untuk hidupnya.


Untuk kembali memiliki Ibrahim bagaimana pun caranya.


"Aku akan mengancam memberi tahu Aira tentang fakta ini jika mas Ibrahim tidak memperlakukan aku seperti istrinya lagi," gumam Sonya.


Sonya baik yang beberapa bulan ini ada kini telah kembali hilang. Kini Sonya seperti kembali ke jati dirinya sendiri yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.


Sonya mendadak lupa dengan semua kesalahan yang pernah ia perbuat.


Ibrahim memang membunuh anaknya sendiri, namun itu diluar kendalinya, karena Ibrahim pun tidak tahu jika saat itu Aira tengah hamil. Berbeda dengan Sonya yang dengan sadarnya membunuh kakek Pram.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Malam hari.


Ibrahim sampai di rumah Sonya saat jam 1 dini hari. Rumah saat itu sangat sunyi, Ibrahim bahkan sangat yakin jika Sonya sudah tidur.


Namun alangkah terkejutnya Ibrahim saat ia melihat istri pertamanya itu masih duduk di rumah tengah.


Sonya menunggunya pulang hanya dengan menggunakan kain tipis yang membalut tubuhnya.


Menggunakan lingerie berwarna merah maroon, Sonya tersenyum dan menyambut kepulangan sang suami.


Sonya bangkit dari duduknya san menghampiri Ibra, sedangkan Ibrahim mundur memberi jarak aman.


"Apa yang kamu lakukan Sonya, jangan melewati batasmu!" ucap Ibra dengan suaranya yang mendadak dingin. Bukannya senang diperlihatkan tubuh terbuka itu, Ibrahim malah merasa jijik dan marah sekaligus.


Dan bukannya langsung menjawab, Sonya malah tersenyum menggoda.


"Kita memang berjodoh Mas, kita berdua sama," ucap Sonya ambigu.


Ibrahim sungguh tak memahami ucapan Sonya itu.


"Mas membuat Aira keguguran dan Aira tidak mengetahui itu, iya kan?" tanya Sonya.


Membuat tubuh Ibrahim membeku seketika. Ia terdiam, mulai tahu kemana arah pembicaraan Sonya.


"Jagan mengancam ku dengan itu Sonya, aku bisa menghancurkan mu lebih dari apa yang kamu bayangkan," jawab Ibrahim.


Belum sempat Sonya kembali berucap, Ibrahim sudah lebih dulu pergi dari sana. Bukan masuk ke dalam kamarnya, melainkan kembali keluar dan meninggalkan rumah ini.


"Mas Ibra!" pekik Sonya namun Ibrahim tidak peduli.


"MAS IBRA!!" teriak Sonya, namun nyatanya Ibrahim tetap keluar dari rumah itu, bahkan menutup pintu dengan begitu derasnya.


Brak!!


Seketika itu juga tubuh Sonya jatuh, ia bersimpuh diatas lantai dengan air mata yang mulai luruh.


Sonya mengepalkan tangannya kuat, sudah kepalang basah. Jikapun Ibrahim tak kembali padanya, ia akan tetap memberi tahu Aira tentang kebenaran ini.


Lalu melihat siapa yang akan hancur diantara mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2