Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 51 - Menaruh Rasa


__ADS_3

"Astagfirulahalazim Dirga, wanita yang kamu bilang bodoh itu adalah wanita yang sekarang membuat anakmu hidup!" bentak pak Basir.


Dialah yang paling tahu bagaimana Aira hidup selama ini. Bagaimana perjuangannya untuk terlihat pantas disisi Ibrahim dan perjuangannya mempertahankan rumah tangga demi Yusuf.


Pak Basir tahu Dirga kini tengah terpuruk. Namun dia pun tidak ingin keterpurukan anaknya membuat dia buta mata hatinya.


Tidak ingin amarahnya semakin menjadi, pak Basir pun pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


Dan sama seperti pak Basir, ibu Rachel pun merasakan kekecewaan yang sama. Namun ia ingin meluruskan pikiran anaknya yang sudah bengkok ini.


"Atas dasar apa kamu mengatakan Aira itu bodoh dan Ibrahim pembunuh?" tanya ibu Rachel dengan suaranya yang begitu lirih, mengisyaratkan seolah dia sudah lelah dengan semua ini. Sang menantu koma, cucunya butuh sentuhan seorang ibu dan kini Dirga malah memperkeruh keadaan.


Dan ditanya seperti itu Dirga terdiam, apalagi saat melihat wajah lelah sang ibu. Dia tau, ayah dan ibunya sudah mengupayakan yang terbaik untuk anaknya.


"Ibrahim tidak tahu jika saat itu Aira sedang hamil, apa kamu pikir di dunia ini ada orang tua yang tega membunuh anaknya sendiri?" tanya bu Rachel lagi.


"Dan Aira, kenapa dia bodoh? apa karena pendidikannya? apa karena latar belakangnya yang dari keluarga tidak mampu? ya Allah Dirga, pikiran mu sempit sekali. Apa kamu pikir kita lahir langsung sempurna, ibu bahkan jadi buruh cuci keliling sebelum ayahmu sukses seperti ini!" pekik ibu Rachel, kini sudah pecah Air matanya.


Aira adalah seorang ibu dan sama seperti dirinya. Saat Dirga mengatakan Aira bodoh dan tidak pantas merawat anaknya hatinya berdesir nyeri, seolah kata-kata itupun disematkan untuknya.


"Jika kamu tidak rela anakmu diasuh oleh Ibrahim dan Aira, ambil! tapi jangan sekalipun kamu kembali lagi pada mereka dan meminta bantuan."


Setelah mengatakan itu, ibu Rachel pergi. Ia menangis menyayangkan ini semua. Ia sungguh tidak menyangka, diamnya Dirga selama ini ternyata menyimpan kebencian yang begitu mendalam pada Aira dan Ibrahim.


Dan mendengar ucapan sang ibu, Dirga membatu. Mendadak pikirannya kosong begitu saja, gamang dengan semuanya.


Aira dan Ibrahim.


Dirga kembali menyelami isi hatinya, meresapi semua ucapan sang ibu dan ayah. Di sudut hatinya, dia pun membenarkan semua ucapan itu. Namun entah kenapa dia ingin mengingkarinya.


Baginya Ibrahim dan Aira harus berpisah, bersatunya kedua orang itu membuat dia benci.


"Astagfirulahalazim," gumam Dirga. Ia menjambak sendiri rambutnya, mencoba mengurangi rasa sakit di kepala yang membuatnya frustasi.


Dulu saat Aira pertama kali datang ke rumahnya, Dirga ingin acuh pads wanita itu. Namun air mata dan wajahnya yang lugu membuat dia tidak bisa mengacuhkannya begitu saja.

__ADS_1


Dia bahkan tidak rela wanita selemah Aira selalu di sakiti oleh Ibrahim. Perasaan ingin melindungi Dirga muncul begitu saja. Bahkan andaikan saat itu Aira benar-benar berpisah dengan Ibrahim dia akan jadi orang yang berada di barisan paling depan untuk melindungi Aira.


Tapi seperti orang bodoh, Aira malah kembali lagi pada suaminya. Membuatnya kecewa dan benci.


Dirga sadar, dulu dia memang menaruh rasa pada Aira. Dan karena perasaannya yang terungkap itulah, membuat dia benci.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan Adisty dan memulai hidup baru. Coba mengacuhkan Aira dan mencoba mencintai Adisty sepenuh hati dan makin membenci Aira sampai mati.


Hingga akhirnya semua ini terjadi.


Adisty koma dan anaknya malah diasuh oleh Aira.


Dirga bangkit dari duduknya dan masuk kedalam ruangan sang istri. Duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang dan menatap lekat wajah sang istri yang kini dicintainya meski dengan setengah hati.


"Sayang, bangunlah, bangun dan kita rawat anak kita bersama-sama," ucap Dirga, ia menggenggam erat salah satu tangan istrinya. Menciumnya dengan lembut menunjukkan semua ketulusan.


Duduk di sana pun tidak membuat pikirannya Dirga tentang Aira menghilang. Dalam hati dan otaknya terus berkecamuk, beradu tentang memikirkan wanita itu.


Aira yang kini mungkin mendekap anaknya erat.


Mungkinkah Allah membuat semua ini terjadi karena ingin Dirga merubah pemikirannya tentang Aira.


Bahwa Aira bukanlah wanita bodoh seperti yang selalu ia yakini selema ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari di rumah Ibrahim.


Malam ini adalah malam pertama anak Dirga dan Adisty menginap di rumah mereka.


Aira dan Ibrahim menyambut antusias, mereka berdua bahkan sudah menganggap anak itu seperti anak mereka sendiri.


Ibrahim memang tidak menyukai Dirga, namun bukan berarti dia membenci anak ini. Melihat tubuhnya yang begitu lemah dan raut wajahnya yang melas membuatnya iba, lalu ingin memberikan yang terbaik untuk bayi mungil ini.


"Sayang, dia belum diberi nama, bagaimana jika beri nama kita sendiri, biar tidak bingung memanggilnya siapa," usul Aira, kini Aira sedang menyusui di jabang bayi sementara Ibrahim memangku Yusuf yang sedang asik menoel-noel tangan sang adik.

__ADS_1


"Boleh juga sayang, tapi hanya panggilan untuk kita berdua saja, karena yang berhak memberi nama anak ini adalah kedua orang tuanya," jawab Ibrahim dan Aira mengangguk.


"Jadi siapa namanya?" tanya Aira, menatap penuh harap dengan kedua netra nya yang berbinar. Ibrahim yang melihat itupun tersenyum, merasa lucu dan gemas sekaligus.


Lalu berpikir sejenak, memikirkan kira-kira nama apa yang cocok dengan bayi laki-laki ini.


"Bagaimana jika Nusa?"


"Oke!" sahut Aira cepat, Ibrahim bahkan sampai mengelus kepala sang istri saking gemasnya.


Jam 9 malam mereka semua mulai terlelap, Aira dan Ibrahim pun menidurkan Yusuf diantara mereka. Ada Nusa di rumah ini membuat mereka tidak ingin Yusuf merasa kasih sayangnya berkurang. Maka mereka pun akan lebih memperhatikan anaknya ini.


Yusuf sebagai kakak dan Nusa sebagai adik.


Kini Yusuf masih menyusu dengan Aira sambil tidur bersama. Sedangkan Ibrahim tidur menghadap anak dan istrinya. Nusa pun sudah terlelap nyenyak di dalam box bayi.


"Sayang, bagaimana jika besok aku sendiri yang jemput bapak dan ibu?" tawar Ibrahim, dia pun terus mengelus sayang kepala sang anak yang sedang bersarang di dada ibunya.


Mendengar tawaran sang suami, Aira tersenyum dengan sangat lebar.


"Tapi aku tidak tega jika Mas Ibra pergi sendiri."


"Kalau begitu aku akan pergi bersama pak Amir."


Pak Amir adalah supir keluarga mereka.


"Benar tidak apa-apa?" tanya Aira memastikan dan Ibrahim menganggukkan kepalanya dengan yakin. Tidak ingin niat baik mereka ini tertunda terlalu lama.


Melihat anggukan sang suami, Aira pun langsung menarik kerah baju suaminya untuk mendekat dan lalu mencium bibir suaminya sekilas.


"Kenapa bentar sekali?" keluh Ibrahim dan Aira pun terkekeh.


"Yang lama nanti, tunggu ada ibu dan bapak, jadi Yusuf ada yang pegang."


Keduanya terkekeh pelan dan Ibrahim langsung mengigit hidung istrinya pelan.

__ADS_1


__ADS_2