
Waktu berlalu.
Rumah tangga Aira dan Ibrahim semakin kuat terjalin. Kini usia kehamilan Aira sudah memasuki usia 6 bulan.
Seperti rencana mereka sebelumnya, jika kehamilan Aira sudah kuat, mereka akan melakukan babymoon, bulan madu disaat Aira tengah hamil.
Aira yang tidak tahu apa-apa tentang babymoon pun hanya mengikuti apapun kehendak sang suami.
Kata Ibrahim, mereka akan pergi ke Bali. Hanya berdua saja, karena Yusuf akan ditinggal bersama kakek dan neneknya. Rencananya mereka akan di Bali selama 5 hari.
Dan pagi ini mereka mulai bersiap untuk pergi. Rencananya jam 2 siang nanti penerbangan mereka manuju ke Bali.
"Sayang tidak usah membawa barang apa pun, bawa saja tas kecil mu itu dan kita pergi," ajak Ibrahim, ia menghampiri istrinya yang nyaris saja membuka lemari.
Aira berniat menyiapkan barang-barang bawaan yang akan mereka bawa.
"Tidak membawa baju satupun?" tanya Aira dengan tidak percaya, namun Ibrahim menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Membuat Aira tidak bisa berkata apa-apa dengan mulutnya yang sedikit menganga.
Bagaimana mungkin bepergian jauh tanpa membawa 1 baju pun? Batin Aira.
Namun ia coba percaya, bahwa mungkin saja sang suami sudah menyiapkan semuanya disana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam setengah 2 siang, Aira dan Ibrahim sudah berada di bandara internasional soekarno-hatta. Mereka duduk di kursi tunggu, menunggu jadwal penerbangan tiba.
Aira dan Ibrahim duduk berdampingan, terus saling bertukar cerita, canda dan tawa. Di samping keduanya pun berdiri dua pengawal yang siap mengamankan mereka.
"Aku tidak mau memakai baju seperti itu," ucap Aira saat Ibrahim menunjukkan gambar sebuah bikini dari dalam ponselnya.
"Kolam renangnya kan ada di dalam kamar kita sayang, hanya ada aku dan kamu. Jadi mau tidak mau nanti kamu harus memakainya," jawab Ibrahim memaksa, dia bahkan menarik hidung Aira gemas. Hidung yang sedang mendengus kesal.
Asik berbincang keduanya sampai tidak sadar jika di ujung sana Dirga memperhatikan. siang ini Dirga pun berniat pergi ke Bali untuk menyelesaikan salah satu kasusnya.
Dia sungguh tidak menyangka jika di bandara dia akan bertemu dengan Aira dan Ibrahim. Melihat sepasang suami istri itu yang nampak begitu bahagia. Begitu kontras dengan hidup yang dia jalani saat ini.
__ADS_1
Terpuruk dalam perasaan bersalah dan benci sekaligus.
Andai waktu bisa diulang ia akan memilih untuk tidak bertemu dengan Aira atau dia akan memilih untuk tidak peduli pada tangis wanita itu.
Huh! Dirga membuang nafasnya berat, berapa kali pun dia berharap untuk mengulang waktu. Namun nyatanya itu tidak akan pernah bisa terjadi.
Cintanya kepada Aira semakin dalam, selaras dengan rasa bersalahnya kepada mendiang sang istri.
Dirga harus tahu kenapa Aira memilih untuk kembali kepada Ibrahim.
Dirga harus bertanya langsung kepada wanita bodoh itu, apa dia benar-benar sudah lupa pada semua perbuatan yang Ibrahim lalukan kepadanya.
Dirga harus memperjelas perasaannya sendiri, agar tidak terus berharap bahwa suatu saat nanti Aira akan berpisah dengan Ibrahim.
Dan karena itulah kini Dirga sudah mengambil keputusan, saat di Bali nanti Dirga akan menemui Aira.
tanpa sepengetahuan Aira dan Ibrahim, Dirga terus mengikuti kemanapun Mereka pergi.
Sampai saat tiba di Bali Dirga pun terus mengikuti sepasang suami istri itu, hingga akhirnya sampai di tempat penginapan.
Six Senses Uluwatu.
Awalnya Dirga tidak ingin menginap di hotel ini namun melihat Aira dan Ibrahim yang ada di sini dia pun memutuskan untuk memesan kamar pula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di hotel, langit siang mulai meredup, berganti dengan senja yang begitu indah.
Ibrahim langsung memeluk sang istri dari arah belakang, menatap luas samudera hindia dari dinding kaca kamar mereka.
"Kamu menyukainya?" tanya Ibrahim, seraya mencium sekilas pipi sang istri.
"Sangat," balas Aira singkat. Ia terkekeh, saat Ibrahim mulai mengelus-elus perutnya berulang. Terasa geli dan nyaman sekaligus.
__ADS_1
Pertama datang ke hotel itu, Ibrahim langsung memberikan pelayanan kepada sang istri. meminta Aira untuk duduk disalah satu kursi, memijat kakinya dan membasuhnya dengan air hangat.
"Mas, kenapa memperlakukanku seperti ini? aku jadi merasa tidak sopan kepada mu."
"Tidak, ini bukan tidak sopan. Ini adalah caraku aku untuk melayani kamu," balas Ibrahim.
Dan Aira tidak bisa membantah, dia tahu betul jika Ibrahim tidak suka ditolak. Yang bisa Aira lakukan hanya satu, bersyukur.
Setelah memijat kaki sang istri, Ibrahim mengajak Aira untuk berenang di kolam renang yang ada di kamar mereka, kolam renang dengan ukuran yang cukup luas namun berisi dengan air hangat.
Seperti keinginan Ibrahim tadi, akhirnya kini Aira menggunakan bikini khusus untuk ibu hamil. Kain kecil yang hanya menutup bagian intinya.
Awalnya Aira sungguh malu apalagi saat melihat Ibrahim yang menatap lekat pada tubuhnya, bahkan hingga membuat tubuhnya meremang meski hanya dengan tatapan.
"Jangan malu, Kamu adalah istriku dan aku adalah suami mu," ucap Ibrahim. Sebuah ucapan yang membuat lidah Aira terasa kelu.
Aira menurut saat Ibrahim menuntun langkahnya pelan-pelan untuk mulai masuk ke dalam kolam renang. Membawanya untuk terus berjalan hingga sampai di tengah. Kolam ini tidak dalam, hanya sampai di bawah dadanya.
"Kenapa Mas senyum terus?" tanya Aira, melihat Ibrahim yang terus mengukir senyum dia pun tersenyum juga.
"Kamu cantik, sangat cantik," jawab Ibrahim, apalagi saat wajah sang istri terpapar cahaya jingga langit sore. Membuat wajah Aira semakin memukau di matanya.
Tanpa banyak kata Ibrahim langsung menahan tengkuk Aira dan mengikis jarak diantara mereka. Memagut lembut bibir sang istri, hingga Aira membukanya secara perlahan.
Menautkan lidah keduanya dengan tangan yang mulai berkelana kemana-mana.
Senja hari itu terasa lebih indah dari pada senja-senja yang pernah Aira lewati selama ini. Bukan hanya tubuhnya yang menghangat, namun hatinya pun seperti musim semi. Terasa hangat dengan banyak bunga-bunga yang tumbuh.
Rasa bahagianya sampai tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hanya kata Ah yang mampu Aira keluarkan.
Sampai akhirnya pelepasan mereka dapatkan dan memutuskan untuk keluar dari dalam kolam renang. Ibrahim membalut tubuh istrinya menggunakan handuk tebal, lalu memeluknya dan membawa sang istri kembali masuk ke dalam kamar.
Menikmati sup hangat untuk menyegarkan tubuh keduanya.
"Aku kangen Yusuf Mas," ucap Aira, saat baru sesuap sup masuk ke dalam mulutnya.
"Nanti habis shalat magrib, kita telepon Yusuf," usul Ibrahim dan Aira menganggukkan kepalanya patuh.
__ADS_1
Lalu keduanya kembali menikmati hidangan di atas meja, sambil sesekali menatap luasnya samudera hindia.