Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 32 - Keinginan Sonya


__ADS_3

Tiga hari Aira di rawat di rumah sakit dan tiga hari itu pula Ibrahim menunjukkan kesungguhannya untuk merawat dan membahagiakan Aira.


Ibrahim memperlakukan Aira dengan sangat baik, ia bahkan sampai takut jika membuat kesalahan lagi.


Kini mereka semua sudah bersiap untuk pulang. Aira juga sudah bisa jalan tegap seperti biasa, tidak pusing seperti hari pertama disini.


"Sayang, Yusuf biar aku yang gendong," ucap Ibrahim, ia bahkan langsung mengambil sang anak yang sudah berada di gendongan ibunya.


"Aku bisa kok Mas, aku ku_"


Cup!


Belum sempat Aira menyelesaikan ucapannya, Ibrahim sudah lebih dulu mengecup sekilas bibir ranum itu, menghentikan Aira bicara dengan cara yang paling ampuh.


Kedua pipi Aira bahkan sampai merona, menahan malu karena dilihat bik Sumi.


Dan bik Sumi yang melihat itupun hanya mengulum senyum. Bik Sumi sudah menanyakan perihal kondisi Nyonya Aira yang sesungguhnya dan juga perubahan tuan Ibrahim pada pak Basir dan ibu Rachel, mereka berdua mengatakan jika sebaiknya kini mereka semua berhusnuzon, bersyukur jika Ibrahim benar-benar berubah dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang buruk lagi.


Bik Sumi pun menurut, kini ia pun mulai percaya jika tuan Ibrahim benar-benar mencintai Nyonya Aira.


Di dalam mobil yang melaju, Ibrahim memangku sang anak dengan sayang. Yusuf kini sudah semakin aktif, di usianya yang baru memasuki usia 5 bulan, Yusuf sudah tak ingin digendong seperti bayi, Yusuf selalu ingin duduk.


"Sayang, hari ini aku meminta supir untuk menjemput ibu dan bapak, sore nanti mereka sudah sampai di rumah," ucap Ibrahim, sebuah ucapan yang membuat kedua netra Aira langsung berbinar.


"Benarkah? ibuk bapakku?" tanya Aira tidak percaya, namun mendengar itu Ibrahim mendengus kesal. Pasalnya pak Imam dan ibu Asma bukan hanya orang tua Aira, namun juga kedua orang tuanya.


"Bukan ibu dan bapak mu, tapi mertuaku," balas Ibrahim pula, ia terkekeh saat Aira langsung memukul lengannya pelan.


"Terima kasih Mas," ucap Aira, terima kasih untuk semua kebahagiaan yang Ibrahim berikan untuknya.


Kebahagiaan yang tak pernah ia sangka-sangka akan diperoleh, disaat ia nyaris melepaskan semuanya. Disaat ia sudah membulatkan tekad untuk berpisah dan kembali ke kampung.

__ADS_1


Tapi seolah Tuhan tak ingin mereka berpisah, nyatanya lagi dan lagi rumah tangga itu terselamatkan.


Sampai di rumah sektiar jam 10 pagi, Aira melihat ke sana kemari dan tidak melihat Sonya di manapun. Rasanya pun tidak mungkin jika di jam ini mbak Sonya berada di dalam kamar.


"Mas, tiga hari ini kamu selalu menemani aku, coba lihat di kamar mbak Sonya, ada mbak Sonya atau tidak," ucap Aira pada sang suami.


Ibrahim yang tidak ingin berdebat sedikitpun dengan sang istri kedua nya pun lantas menuruti, setelah mengantar Aira dan Yusuf ke dalam kamar, Ibrahim mengunjungi kamar istri pertamanya.


Mengetuk dan tak ada sahutan, Ibrahim akhirnya masuk begitu saja, menelisik tiap sudut ruangan dan tak menemukan Sonya di manapun.


Tapi saat hendak berbalik, ia melihat Sonya yang baru masuk ke dalam kamar.


Nampak jelas dari penampilan istri pertamanya itu, jika Sonya baru saja pulang entah darimana. Bahkan mungkin semalaman istrinya ini tidak pulang.


"Kamu disini Mas?" tanya Sonya lirih, 3 hari ini ia memang tak pernah bermalam disini. Menyadari jika Ibrahim kini hanya mencintai Aira membuat seolah dunianya runtuh, saat ini Sonya sungguh merasa lemah.


Ia memikirkan banyak hal, semua yang sudah terjadi di dalam hidupnya.


"Istirahatlah, aku akan kembali ke kamar Aira," ucap Ibrahim lagi, dan seketika itu juga air mata Sonya jatuh.


"Mas, kenapa kamu tidak menceraikan aku saja? kamu sudah mencintai Aira kan? kamu juga sudah memiliki anak dari dia? bahkan kamu sudah tau apa yang ku lakukan diluar sana, kenapa kamu tidak menceraikan ku saja!" tanya Sonya dengan suaranya yang meninggi. Ia bahkan bicara dengan sesenggukan menangis.


"Aira yang melarang ku untuk menceraikan mu tapi jika kamu yang ingin berpisah denganku, aku tidak akan menahan mu."


Brug!


Sonya jatuh, ia terduduk di atas lantai dengan air mata yang berderai. Hati dan pikirannya benar-benar kacau, sesak di dadanya tidak bisa ia kendalikan.


"Kami jahat Mas! kamu jahat," lirih Sonya.


Ibrahim yang melihat itupun hanya terpaku, ia juga tak menyangka jika hubungannya dengan Sonya akan jadi seperti ini. Seolah kenangan indah 5 tahun bersama hilang dalam sekejap saja.

__ADS_1


"Bangunlah, jangan seperti ini?" pinta Ibrahim, ia bahkan membantu Sonya untuk bangkit dan mendudukkan sang istri di sisi ranjang.


"Jika Aira memintamu untuk menceraikan ku, apa Mas akan benar-benar menurutinya?"


"Iya," balas Ibrahim tanpa pikir panjang.


"Kenapa? kenapa kamu bisa mencintai wanita itu Mas?"


Di tanya ini Ibra tidak langsung menjawab, terlepas dari meninggalnya sang anak, ia memang tidak ingin melepaskan Aira untuk pergi. Entah karena apa, namun ia memnag mencintai Aira.


"Entahlah, aku hanya sangat mencintai dia," jawab Ibrahim jujur, ia tak ingin membeli harapan apapun pada Sonya tentang rumah tangga mereka. Rumah tangga yang hanya tinggal menunggu waktu berakhirnya.


Sonya makin menangis, 3 hari ini sudah banyak hal yang ia pikirkan, tentang dia dan semua kesalahannya termasuk yang menyebabkan kakek Pram meninggal, tentang Ibrahim dan juga tentang Aira.


Aira yang memang tidak bersalah sedikitpun, karena pernikahan itu terjadi atas kesepakatannya, Ibrahim dan kakek Pram.


Sonya tahu, hubungannya dengan Ibrahim tidak akan bisa diselamatkan lagi. Namun sungguh Sonya tidak ingin sampai bercerai dari Ibrahim.


Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya jika ia benar-benar berpisah dengan Ibrahim, keluarganya juga pasti akan menanggung malu.


Belum lagi status janda yang akan tersemat di dalam dirinya.


Tidak, aku tidak ingin berpisah dengan mas Ibrahim. Batin Sonya.


"Tidak Mas, aku tidak ingin kita berpisah, meskipun kita tidak mungkin bersama lagi seperti dulu, setidaknya anggaplah aku sebagai temanmu, dan biarkan aku menjadi istri pertama mu meski hanya status," ucap Sonya dengan sesenggukan, namun ia coba untuk menghapus air mata itu.


"Tapi bolehkah aku minta satu permintaan terakhir?"


"Apa?" jawab Ibrahim langsung.


"Sentuh aku untuk terakhir kali Mas, beri aku kesempatan untuk sekali lagi berusaha agar memiliki anak darimu, kamu tau kan? aku sangat ingin segera hamil," lirih Sonya.

__ADS_1


Dan mendengar itu Ibrahim menelan ludahnya dengan kasar.


__ADS_2