
Ibrahim dan Aira memutuskan untuk menunda konsultasi mereka dengan dokter Irna. Kini mereka ikut menunggu persalinan Adisty bersama dengan pak Basir dan ibu Rachel.
Cukup lama menunggu dan akhirnya pintu ruangan persalinan itu terbuka, tapi bukan menyampaikan kabar bahagia namun memindahkan Adisty ke ruang operasi.
Persalinan secara normalnya gagal, Adisty sudah banyak kehabisam tenaga dan darah namun namun sang jabang bayi belum juga keluar. Karena itulah operasi cesar sebagai pilihan kedua.
Dirga begitu bersedih melihat perjuangan sang istri yang tidak mudah. Ia sampai tidak sadar jika disini ada Ibrahim dan juga Aira.
Ibu Rachel pun memeluk anak laki-lakinya erat, meminta Dirga untuk bersabar, ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Kini Dirga tidak ikut masuk ke ruang operasi, ia menunggu diluar bersama semua keluarga.
Yusuf pun tidak bisa diam, anak laki-laki ini ingin sekali turun dan berlari-lari. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk membawa sang anak ke taman rumah sakit, ia berbisik pada Aira pamit untuk pergi.
"Sayang, aku ajak Yusuf ke taman rumah sakit sebentar ya? kamu tunggu disini saja," bisik Ibrahim dan Aira pun menganggukkan kepala. Aira mengelus lengan sang suami dengan sayang sebelum akhirnya Ibrahim pergi.
Hingga satu jam kemudian akhirnya pintu ruang operasi itupun terbuka. Bayi Adisty dan Dirga masuk ke dalam inkubator dan Adisty masih dalam keadaan belum sadarkan diri.
Dirga berada diantara dua persimpangan, ia bersyukur sang anak lahir dengan selamat namun ia bersedih melihat sang istri yang kini tak sadarkan diri.
"Lihat anakmu, ibu dan ayah akan menemani Adisty di ruang rawatnya," ucap ibu Rachel.
Aira yang berada disana dan melihat semuanya pun benar-benar merasa iba. Ia lantas menghubungi sang suami dan meminta Ibrahim untuk segera menemuinya, juga memberitahu Ibrahim dimana kamar rawat Adisty.
"Bu," panggil Aira pada ibu Rachel, kini mereka sudah berada di dalam kamar. Ibu Rachel menoleh dan menyambut Aira untuk mendekat. Lalu memperhatikan Adisty yang tidak sadarkan diri. Di dalam hati keduanya mereka terus mendoakan agar Adisty segera siuman dan dapat bertemu dengan sang anak.
Ibrahim masuk ke dalam ruangan itu bersamaan dengan Dirga. Membuat Dirga akhirnya sadar jika ada Ibrahim dan Aira disini. Namun dia tidak bisa menyambut dengan baik, kini pikirannya terlalu gamang.
__ADS_1
Baru saja Dirga bertemu dengan dokter yang menangani sang istri. Dokter itu mengatakan jika sampai besok pagi Adisty tidak sadar juga maka dipastikan istrinya itu mengalami koma, karena selama proses persalinan Adisty banyak kehilangan tenaga hingga kekurangan oksigen di kepalanya.
Remuk sudah dunia Dirga, kini ia menangis seraya menggenggam erat tangan sang istri. Ibu Rachel dan Aira pun ikut menangis pula.
Menjelang sore, Ibrahim dan Aira pamit untuk pulang, Yusuf pun sudah tertidur di gendongan sang ayah.
"Pak, kabari kami jika ada apapun yang terjadi, jika butuh bantuan kami katakan," ucap Ibrahim pada pak Basir, ia pun sungguh iba melihat keadaan Adisty dan anak mereka.
"Iya Nak, kalian pulanglah, kasihan Yusuf," jawab pak Basir.
Ibrahim pun menganggukkan kepalanya, setelah berpamitan ia mengajak sang istri untuk pulang.
Disepanjang jalan pun mereka hanya diam, masih memikirkan bagaimana nasib Adisty dan anaknya yang baru lahir. Dan saat berhenti dilampu merah, Ibrahim menoleh pada sang istri dan melihat Aira yang sedang mengelus dengan sayang anak mereka, Yusuf yang masih tertidur pulas.
"Sayang," panggil Ibra dan Aira menoleh, membalas tatapan sang suami dan tersenyum kecil.
"Maafkan aku," ucap Ibrahim, sebuah ucapan yang membuat Aira bingung.
"Maaf untuk apa?"
"Semuanya," sahut Ibra cepat, melihat perjuangan Adisty untuk melahirkan, Ibrahim jadi teringat tentang Aira dulu, lalu tentang anak mereka yang keguguran. Rasanya kata maaf selalu kurang untuk diucapkan.
Belum sempat Aira kembali berucap, lampu rambu lalu lintas sudah berubah jadi hijau dan sang suami mulai melajukan mobilnya kembali dan membuat tatapan mereka terputus.
Tidak ingin Ibrahim terus merasa bersalah atas semua yang terjadi, Aira pun membuka tangan kanannya, meminta Ibrahim untuk menyambut itu. Dan Ibrahim pun melakukannya, menautkan jemari mereka dan saling menggenggam erat.
__ADS_1
Kedamaian seperti ini adalah hal yang selalu mereka inginkan untuk terus ada dalam rumah tangga mereka.
Nyaris magrib mereka baru sampai di rumah, mbak Ita langsung mengambil Yusuf untuk ia urus sementara Aira dan Ibrahim segera membersihkan diri dan melaksanakan shalat magrib berjamaah di dalam kamar mereka.
Kecupan lembut Ibrahim berikan saat mereka telah usai melaksanakan shalat magrib. Keduanya lantas bersiap untuk turun dan makan malam.
"Kamu sudah tidak minum pil KB kan?" tanya Ibrahim, kini ia dan Aira berjalan beriringan menuruni anak tangga.
"Tidak sayang, sudah dari bulan lalu aku tidak minum KB, kata mas jangan minum lagi," jawab Aira, sedikit mengeluh. Karena ia sudah menuruti suaminya tapi sang suami masih juga tidak percaya jika dia sudah tidak mengkonsumsi pil itu.
Melihat bibir Aira yang mencebik, Ibrahim pun mengecupnya sekilas, tidak peduli meski kini mereka berada di tangga, diperhatikan oleh beberapa pelayan kebetulan lewat di lantai 1.
"Jangan cemberut seperti itu, bukannya kesal aku malah gemas," ucap Ibra persis berbisik, karena bicara dekat sekali dengan telinga Aira, ia sampai bergidik merasa geli.
"Aku sudah tidak sabar membuat rumah ini ramai dengan anak-anak kita," timpal Ibrahim lagi, membuat senyum di bibir Aira makin mengembang sempurna.
"Dan satu lagi, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Ibrahim, kini mereka sudah sama-sama duduk di meja makan.
Aira hanya diam, namun semakin lekat menatap sang suami, menunggu ucapan Ibrahim selanjutnya.
"Bagaimana jika bapak dan ibu kita ajak tinggal disini?" tanya Ibrahim, membuat kedua netra Aira langsung membola.
Tanpa ditanya pun Aira pasti sangat setuju dengan keinginan suaminya itu, ia pun sebenarnya sudah sejak lama ingin mengatakan ini kepada Ibrahim. Aira ingin kedua orang tuanya ikut tinggal bersama mereka.
Dan sangat beruntunglah Aira jika ternyata suaminya pun berpikiran yang sama.
__ADS_1
Tidak menjawab, Aira langsung memeluk suaminya erat. Mengucapkan kata terima kasih banyak-banyak.
Jika tidak ada halangan, besok ia dan Ibrahim akan menjemput kedua orang tua Aira untuk tinggal bersama mereka di rumah ini.