Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 67 - Memiliki Banyak Anak


__ADS_3

Bantu Like dan Komen ya ❤


Happy Reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi datang.


Aira bangun lebih dulu dan melihat sang suami yang masih bergumul di bawah selimut.


Semalam tiap dia terbangun untuk menyusui Yuna, Ibrahim pun ikut bangun juga dan menemani dirinya.


Sehabis salat subuh tadi Ibrahim memutuskan untuk berbaring sejenak, namun tidak menyangka jika akhirnya suaminya itu malah tertidur hingga kini. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi hari.


"Mas, bangun." Aira coba membangunkan suaminya, menggoyang lembut bahu Ibrahim agar tersadar dari tidurnya.


"Mas."


Ibrahim menggeliat, namun masih setia memejamkan matanya.


"Mas, katanya pagi pak Basir dan ibu Rachel mau kesini. Ayo bangun," ajak Aira lagi. Mencari-cari alasan agar suaminya semangat untuk bangun.


"Mas."


"Mas Ibraa."


"Sebentar lagi, 5 menit," tawar Ibrahim, dia bahkan menunjukkan 5 jarinya kepada Aira.


"Mas, Yuna sedang dibawa bik Sumi untuk berjemur, Mas tidak mau mandi bersamaku?" tawar Aira pula, main-mian.


Aira terkekeh, saat melihat kedua mata Ibrahim langsung membola. Dan melihat tawa istrinya itu dia tahu Aira berbohong.


Karena nyatanya Aira sudah mandi lebih dulu.


Drt drt drt


Ponsel Ibrahim di atas nakas bergetar, dia dan Aira yakin jika itu adalah panggilan dari Pak Basir.


Aira segera bergegas mengambilnya dan langsung menjawab tanpa melihat Siapa yang menelpon.


"Halo, Assalamualaikum."

__ADS_1


Salam Aira tidak langsung dijawab oleh orang di ujung sana. membuat Aira heran dan akhirnya melihat ini panggilan telepon dari siapa.


Pak Dedi.


Ayah dari Sonya.


Lantas dengan ragu akhirnya Aira menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. Ibrahim pun menerima ponselnya dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya.


Kenapa Aira tidak menjawabnya saja?


Dan sama seperti Aira, Ibrahim pun melihat panggilan yang aktif itu bukan dari Pak Basir melainkan Pak Dedi mantan mertuanya.


Dengan perasaan dihati yang tiba-tiba terasa mengganjal, Ibrahim pun menjawab panggilan itu.


"Halo, Assalamualaikum," ucap Ibrahim dan akhirnya Pak Dedi menjawab salam itu, kemudian meminta maaf karena pagi-pagi begini dia mengganggu kebersamaan antara Ibrahim dan Aira.


"Ada apa Pak?" tanya Ibrahim langsung yang tidak ingin terlalu banyak basa-basi, bagaimanapun hubungan mereka kini sudah berakhir. Berakhir dengan tidak baik.


"Maafkan bapak Ibrahim, bapak ingin meminta tolong kepadamu. tolong izinkan Sonya untuk dirawat di rumah sakit," jelas Pak Dedi penuh dengan permohonan.


Sudah seminggu ini Sonya sakit di dalam sel, ditangani dengan obat-obatan seadanya. Rumah sakit khusus tahanan pun tidak bisa menangani penyakitnya secara intensif.


Ibrahim yang sudah tahu sejak lama penyakit itu pun hanya diam. dia memang tahu jika Sonya sedang dalam keadaan tidak baik.


Tapi untuk memberikan keringanan kepada wanita itu hati Ibrahim masih terasa berat.


"Bukan saya yang menangani kasus Sonya Pak, tapi istri saya. Jadi jika anda ingin meminta izin maka izin lah dengan istri saya," jawab Ibrahim, Kini pun dia berbicara dengan bahasa yang begitu formal seolah hubungan diantara mereka benar-benar sudah berakhir.


Dan mendengar jawaban Ibrahim itu pada Dedi mendesaah pelan, menunjukkan rasa kecewanya. Dia dan Aira tidak terlalu dekat. Rasanya pun begitu enggan untuk meminta tolong.


"Baiklah Ibra, terima kasih," balas Pak Dedi dan berakhirlah sambungan telepon itu.


"Kenapa sayang? apa ada sesuatu yang penting tentang mbak Sonya?" tanya Aira, dia hanya mendengar ucapan sang suami namun tidak mampu mendengar ucapan Pak Dedi di ujung sana.


"Tidak sayang, tidak ada apa-apa. jika ada sesuatu yang penting aku sudah meminta Pak Dedi untuk menghubungi mu," jelas Ibrahim.


Dia begitu enggan memberitahu Aira tentang kondisi Sonya saat ini. Sejak dulu pun Ibrahim tidak pernah memberi tahu Aira tentang Sonya yang memiliki penyakit di rahimnya.


Dan mendengar itu Aira menganggukkan kepalanya. menghubungi dia bukanlah perkara sulit, meskipun Pak Dedi tidak memiliki nomor ponselnya tapi Pak Dedi bisa menghubungi Luna yang merupakan asisten pribadi Aira hingga kini.


Setelahnya Ibrahim segera bergegas mandi, sementara Aira menyiapkan baju ganti untuk sang suami.

__ADS_1


Dan saat tepat jam 9 pagi Pak Basir dan ibu Rachel benar-benar datang ke rumah ini, lengkap pula dengan Akbar bersama mereka.


Mereka semua berkumpul dan berbincang di ruang tengah, setelah memperlihatkan baby Yuna kepada Akbar, Akbar pun segera bergegas main bersama Yusuf. Bermain bersama di atas karpet tebal yang ada di ruang tengah itu, sementara para orang tua mengawasi keduanya.


"Baby Yuna juga mirip dengan Ibra," ucap Ibu Rachel dengan terkekeh. Kini dia sedang menggendong baby Yuna dan memperhatikan wajah bayi cantik ini, begitu mirip dengan Ibrahim sang ayah.


Yusuf dan Yuna keduanya sama-sama mirip dengan Ibrahim tidak ada yang mirip dengan Aira.


Dan hal itu sedikit membuat Aira kecewa, merasa tidak adil. Padahal dia yang sudah mengandung selama sembilan bulan juga dia yang melahirkan, tapi kedua anaknya malah memilih untuk mirip dengan sang ayah.


"Berarti harus tambah satu lagi kan Bu? biar ada yang mirip dengan Aira," jawab Ibrahim.


Pak Basir dan Ibu Rachel tertawa mendengar ucapan Ibrahim itu lain halnya dengan Aira yang mendengus kesal.


Aira dan Ibrahim memang sudah bersepakat untuk memiliki banyak anak, diantara 4 atau 5. Tapi semua itu semampu Aira dan restu Allah.


Setelah makan siang bersama, Pak Basir dan ibu Rachel memutuskan untuk pamit pulang.


Sedangkan Akbar terus menangis tidak ingin pulang, apalagi di sini dia punya teman untuk bermain, Yusuf.


"Sayang kita pulang dulu, besok kita main lagi," bujuk ibu Rachel pada sanh cucu.


Tapi Akbar yang belum genap berusia 2 tahun seolah belum bisa diajak bernegosiasi seperti itu, dia terus menangis tidak ingin dipisah dengan Yusuf.


"Mas Yusuf, ini mainannya di kasih untuk Akbar saja ya, biar dia tidak menangis," jelas Aira pada Yusuf.


"Iya!" jawab Yusuf patuh dan antusias, dia bahkan menyerahkan sendiri mainan yang sedang dia pegang kepada Akbar.


Membuat bayi laki-laki itu akhirnya benar-benar diam dan semua orang tersenyum merasa lega.


Yusuf pun melambaikan pada Akbar yang mulai menjauh.


"Ibu, besok beliin Yusuf mainan seperti itu lagi ya, 2," pinta Yusuf, dengan menunjukkan jari nya yang berbentuk V.


Ibrahim tergelak dan menggendong sang anak, menghujani Yusuf dengan ciuman yang bertubi.


"Bukan 2, nanti ayah belikan 5," seloroh Ibrahim dan Yusuf bersorak kegirangan.


"Tidak boleh boros Sayang, beli mainannya satu saja!" ucap Aira.


Membuat kegembiraan ayah dan anak itu hilang seketika.

__ADS_1


__ADS_2