
Pagi ini Aira pergi lebih awal dari rumah menuju kantor, tak ingin terlambat di pertemuan pertamanya dengan beberapa klien.
Luna dan pak Basir pun ikut mendampingi sang CEO.
Di salah satu ruang rapat di hotel bintang lima pertemuan itu diadakan. Seluruhnya ada sekitar 30 rekan bisnis Aira disini, mulai dara para CEO peruahaan media yang lain, para sponsor, pengiklan dan juga beberapa editor dan sutradara.
Membicarakan tentang beberapa program yang akan sama-sama mereka usung untuk menyambut tahun baru.
Aira duduk disalah satu kursi dan mendengarkan dengan baik berjalannya acara ini, ia sudah tak merasa gugup lagi tiap bertemu dengan para kolega. Bahkan Aira tak segan untuk menyampaikan apa pendapatnya.
Sikap ramah Aira membuat semua orang pun begitu menseganinya.
Setelah makan siang bersama, pertemuan itu usai. Aira begitu bersemangat akhir-akhir ini dalam pekerjaannya. Makin banyak ilmu yang ia tahu makin antusias pula untuk melakukan semuanya dengan baik.
“Luna, menjelang tahun baru nanti jangan lupa beri bingkisan untuk para karyawan,” ucap Aira. Kini mereka semua sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju perusahaan SM Corp. Ia dan Luna berada di mobil yang sama, sementara pak Basir di mobil lain dan mengikuti mereka dari belakang.
“Baik Nyonya,” jawab Luna patuh.
3 bulan memimpin dan Aira berhasil membuat para karyawan menghormatinya, bahkan melihat Aira seolah mereka melihat kakek Pram dulu.
Tidak seperti Ibrahim yang selama ini memimpin dengan semena-mena. bahkan pembayaran biaya lembur mereka sering terlambat.
“Nyonya, mulai sekarang anda tidak perlu datang ke kantor setiap hari, anda bisa memiliki lebih banyak waktu bersama Yusuf,” jelas Luna.
“Kenapa?” tanya Aira bingung, ia pun menoleh dan menatap Luna dengan tanda tanya.
“Anda sudah memahami semuanya, sistem kerja, laporan, bahkan meeting dengan para kolega anda sudah begitu mahir,” jawab Luna apa adanya.
Luna pun menjelaskan jika selama ini Aira rutin datang ke kantor setiap hari karena masih masa belajar. Dan saat sudah memahami semuanya Aira tinggal mengawasinya saja, bahkan beberapa pekerjaan bisa Aira lakukan di rumah.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Luna itu, Aira langsung mengukir senyumnya, ini benar-benar kabar bahagia baginya.
Hanya membayangan hari-harinya yang akan lebih banyak bersama Yusuf membuatnya merasa sungguh bahagia.
“Bahkan anda berkuasa untuk meminta Tuan Ibrahim membantu anda dalam pekerjaan,” timpal Luna lagi. Makin membuat senyum Aira mengembang sempurna.
Memang inilah yang dia mau, memerintahkan suami yang paling sempurna itu untuk mengikuti perintahnya.
Membuat Ibrahim benar-benar tahu dimana posisinya kini, yang hanyalah bawahan Aira.
“Benarkah?”tanya Aira, memastika sekali lagi.
Dan Luna menjawab IYA seraya menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Jam 2 siang, mereka sampai di Suryo Media Corp. Aira berjalan dengan percaya diri menuju ruangannya. Bahkan senyum dibibirnya tak surut-surut juga.
“Luna, satu jam kedepan jangan ada yang menggangguku ya, aku mau shalat zuhur dan istirahat sebentar,” titah Aira pada sang asisten.
Dan Luna pun menganggukkan kepalanya patuh.
“Baik Nyonya.”
Setelah menjawab itu Luna keluar, lalu memberi tahu pada 2 sekretaris Aira disana tentang pesan sang Nyonya.
Luna bahkan meminta satu orang keamanan untuk berjaga di depan pintu. Bukan apa-apa, di perusahaan SM Corp ini ada satu orang yang selalu mengusik sang Nyonya.
Bahkan tidak mematuhi peraturan yang ada, siapa lagi orangnya jika bukan Ibrahim.
Dirasa aman, Luna pun segera berlalu dari sana dan masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Belum ada 5 menit Luna pergi, Ibrahim benar-benar mendatangi ruangan sang istri. Ia memicingkan matanya, menatap tak suka pada penjaga keamanan yang menjaga pintu ruangan Aira.
“Buka pintunya!” titah Ibrahim, belum apa-apa kemarahannya sudah tersulut.
“Maaf Tuan, Nyonya Aira sedang tidak bisa di ganggu,” jawab penjaga keamanan itu apa adanya, ia bahkan menundukkan kepalanya menjawab dengan hormat.
Ibrahim terkekeh, lalu berdecih dengan senyum smirk.
“Jangan main-main denganku, buka pintunya,” pinta Ibrahim sekali lagi.
Merasa takut, penjaga keamanan itu pun akhirnya hendak membukakan pintu untuk Ibrahim, namun urung karena Luna lebih dulu datang.
“Maaf Tuan, Nyonya Aira sedang beristirahat, hari ini beliau memiliki banyak jadwal,” jelas Luna, sama seperti sang penjaga, sebelum menjawab pun Luna lebih dulu memberi hormat pada Ibrahim.
“Jangan memancing kemarahanku, aku bilang buka pintunya,” ancam Ibrahim, dia memang bicara dengan nada yang pelan, namun penuh penekanan.
“Maaf Tuan, anda memang suami Nyonya Aira, namun di kantor ini anda tetaplah bawahannya. Dan saya akan tetap mematuhi Nyonya saya ketimbang Anda,” jelas Luna pula, makin membuat darah Ibrahim terasa mendidih.
Ibrahim pun menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, mencoba tenang.
“Baiklah,” jawab Ibrahim.
Setelah mengatakan satu kata itu ia segera berlalu dari sana.
“Kamu memang bisa menghindariku saat berada di kantor, tapi kamu tidak akan bisa menghindariku saat kita berada di rumah,” umpat Ibrahim dengan langkahnya yang lebar.
Ia kembali masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu itu dengan keras.
Brak!
__ADS_1