
Dua minggu Ibrahim di tempat Sonya setelah malam penyatuan itu, lalu dua minggu berikutnya Ibrahim akan pulang ke rumah Aira.
Dan hari ini adalah hari kepulangan Ibrahim ke rumah utama. Sore hari setelah pulang dari SM, Ibrahim segera menuju rumah istri keduanya.
Ibrahim kini sudah kembali menjabat sebagai CEO di SM. Ibrahim sangat terkejut saat mengetahui Aira tak sedikitpun memakai uang dari sana, bahkan gajinya pun masuk ke rekening kakek.
Entah apa yang harus Ibrahim lakukan untuk menebus semua kesalahannya pada Aira. Setiap hari seolah Allah selalu menunjukkan betapa bejatnya dia.
Ibrahim mengemudikan mobilnya sendiri, menolak saat sang asisten pribadi menawarinya untuk di supir kan.
Melaju dengan kecepatan sedang, Ibrahim membelah jalanan Jakarta. Dua minggu tidak bertemu, membuat Ibrahim sangat rindu. Apalagi Aira melarang Ibrahim menghubunginya saat sedang bersama Sonya.
Setau Aira, hubungan Ibrahim dan Sonya memang sudah membaik layaknya suami dan istri pada umumnya.
Apalagi kini Sonya pun sudah berubah begitu banyak. Ingin menjalani pernikahan yang rukun dengan istri pertama suaminya itu, Aira selalu menekankan sang suami untuk berlaku adil.
Dan Ibrahim hanya selalu mengiyakan, meski ia tidak sepenuhnya menuruti keinginan sang istri.
Memasuki halaman rumah, Ibrahim melihat satu mobil yang terparkir di sana, mobil milik pak Basir. Kini pak Basir sudah tidak lagi bekerja di SM.
Bertanya-tanya ada apa datang kemari, Ibrahim pun segera turun dan masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu sudah ada istrinya, pak Basir dan ibu Rachel yang sedang memangku Yusuf.
"Assalamualaikum," ucap Ibrahim dan semua orang menjawab salamnya bersamaan. Ibrahim lalu duduk persis di samping sang istri dan melihat sesuatu yang di pegang oleh Aira.
"Ini undangan Mas, Dirga akan menikah 2 minggu lagi," jelas Aira seraya menyerahkan undangan pernikahan itu pada sang suami.
Ibrahim menerimanya lalu membaca dengan seksama.
"Iya Ibra, Dirga akan menikah dua minggu lagi, kalian berdua datang ya, ajak Yusuf juga," ucap ibu Rachel.
Ibrahim pun menyudahi membaca undangan itu dan membalas tatap ibu Rachel dan pak Basir secara bergantian.
Ada perasaan lega saat Ibrahim mengetahui Dirga akan segera menikah. Ibrahim selalu yakin jika anak pak Basir itu memendam rasa pada istri keduanya.
Ibrahim bisa melihat dengan jelas tatapan dalam yang selalu Dirga tunjukkan tiap kali melihat Aira.
Dan kini mengetahui Dirga akan segera menikah dengan wanita lain membuat hatinya merasa lega.
"Insya Allah Pak, Bu, kami akan datang," jawab Ibrahim, ia pun tersenyum hangat menyambut undangan itu.
__ADS_1
Dan pak Basir juga ibu Rachel ikut mengukir senyum yang sama. Kini mereka berdua benar-benar yakin jik Ibrahim memang sudah berubah.
Sebelum waktu semakin sore, pak Basir dan ibu Rachel pamit untuk pulang. Aira langsung menggendong sang anal dan mengantar tamunya hingga sampai ke teras.
Terus berdiri di sana bersama Ibrahim sampai mobil pak Basir tak nampak lagi.
"Ayo Mas, masuk," ajak Aira, ia bahkan menggandeng lengan sang suami dan masuk ke dalam rumah.
Mereka langsung menuju kamar dan Aira pun langsung memandikan Yusuf sementara Ibrahim istirahat sejenak duduk di sofa kamar.
"Kamu sudah mandi?" tanya Ibrahim.
Aira dan Yusuf baru saja keluar dan melihat Aira yang bajunya sedikit basah.
"Belum Mas," jawab Aira singkat.
Semenjak keluar dari rumah sakit hingga kini, Ibrahim dan Aira belum pernah berhubungan badan. Ibrahim masih takut untuk menyentuh istrinya itu, takut kembali melukai Aira.
Sedangkan Aira hanya menunggu, ia tak kuasa untuk meminta lebih dulu.
"Sayang," panggil Ibrahim, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri yang sedang membalur tubuh Yusuf dengan minyak telon.
"Apa Mas?"
"Tentu saja rindu, tapi sebelum rindu biar aku urus Yusuf dulu," jawab Aira dan kini Ibrahim yang terkekeh pelan.
"Aku siapkan air hangat ya, setelah ini berendam lah sebentar di air hangat agar tubuhmu lebih segar," ucap Ibrahim, ia tahu mengurus Yusuf bukanlah hal mudah, tentu istrinya merasa lelah. Aira memang ingin mengurus semuanya sendiri, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengurus sang anak, melewati waktu yang tidak akan bisa ia ulang lagi.
"Terima kasih Mas," jawab Aira.
Sebelum pergi Ibrahim mencium dahi sang istri, menciumnya dalam penuh rasa cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Sonya.
Setelah Ibrahim pergi dari rumahnya, Sonya baru memiliki keberanian untuk memeriksakan diri.
Menggunakan benda pipih ini untuk mengetahui ia hamil atau tidak.
"Ya Allah, hamba mohon, hamba mohon izinkan hamba untuk hamil," gumam Sonya. Ditangannya sudah ada hasil testpack itu, ia hanya tinggal melihatnya saya.
__ADS_1
"Bismislahirohmanirohim," ucap Sonya dengan perasaan yang begitu gugup. Tidak hanya gugup, ia juga sangat takut.
Perlahan, Sonya membalik testpack itu dan melihat hasilnya.
Satu garis merah.
Sonya ambruk, terduduk dilantai kamar mandi.
Saat matanya terpejam, air mata itu jatuh begitu saja.
"Kenapa ya Allah? kenapa engkau tidak mengizinkan hamba untuk memiliki anak?" ucap Sonya diantara isak tangisnya. Ia terus menangis, tidak takut Ibrahim akan mampu mendengarnya.
Sonya menarik dan menghembuskan nafasnya berulang, mencoba menenangkan dirinya yang tengah hancur.
Tiap kali ia kecewa seperti ini, ia kembali mengingat masa lalunya. Ia bahkan dengan tega membunuh kakek Pram, lalu bagaimana bisa kini ia meminta sebuah kehidupan di dalam rahimnya.
Lagi, Sonya membuang nafasnya dengan kasar. Mencoba bangkit dan kembali ke dalam kamar.
Duduk disisi ranjang dan mengambil ponselnya di atas nakas.
Ia mengirim pesan singkat kepada Ibrahim.
Mas, aku tidak hamil, aku sudah memeriksanya dan hasilnya negatif.
Ucap Sonya dalam pesan itu, meskipun kecewa namun ia tetap harus memberi tahu Ibrahim tentang kenyataan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pesan Sonya itu masuk dan membuat ponsel Ibrahim bergetar. Aira yang sedang mengeringkan rambutnya di meja rias pun tak sengaja melihat pesan itu.
Ia bahkan bisa membaca dengan jelas pesan itu meski tidak membukanya.
Seketika hati Aira berdesir, merasa iba.
"Ada apa sayang?" tanya Ibrahim, ia sedikit heran saat melihat sang istri terus menatap layar ponselnya yang menyala. Menatap dengan tatapan yang entah.
Namun mendengar ucapan sang suami, Aira langsung terkisap, secepat kilat ia memalingkan wajah dari layar ponsel itu, lalu mendongak saat sang suami sudah berdiri di sampingnya. Ibrahim yang baru saja selesai mandi dan menggunakan handuk di pinggang.
"Maaf Mas, aku tidak sengaja baca pesan mbak Sonya," jujur Aira.
"Tidak apa-apa sayang," balas Ibra, ia bahkan mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang. Lalu membuka ponselnya dan membaca pesan itu.
__ADS_1
Ibrahim hanya diam, ia pun bingung harus menanggapi bagaimana.