
"Bukan rejekiku dan Sonya untuk memiliki anak sayang, lagipula kita sudah memiliki Yusuf, Sonya pun bisa menganggap Yusuf seperti anaknya," ucap Ibrahim setelah cukup lama hanya ada hening diantara mereka.
Aira hanya bisa menganggukkan kepala meski rasanya rasa iba itu makin kental ia rasa. Aira semakin merasa egois saat meminta sang suami membuat mereka hidup terpisah, Sonya dan dia tidak berada dalam satu atap.
"Mas, apa kita sebaiknya meminta mbak Sonya untuk kembali tinggal di rumah ini?" tanya Aira lirih. Ia jadi bingung sendiri.
Sebelum menjawab Ibrahim lebih dulu bersimpuh di hadapan sang istri, lalu menggenggam erat kedua tangan Aira.
"Tidak sayang, kamu dan Sonya memiliki privasi saat memperlakukan aku sebagai suami. Aku juga tidak ingin nanti kalian jadi saling membandingkan," jelas Ibrahim.
Aira yang mendengar itupun mengukir senyumnya tipis, ia lalu mengambil handuk kecil di atas meja dan mengeringkan rambut sang suami yang masih basah. Ibrahim kini begitu tenang, selalu mengambil keputusan dengan kepala dingin.
Tidak seperti dulu yang apa-apa selalu mengedepankan emosi.
Dan Aira sangat mensyukuri itu.
Ibrahim pun sangat menikmati perubahannya ini. Meski terkadang ia masih sangat merasa bersalah atas meninggalnya sang anak namun kini ia jadi lebih tenang. Hubungan harmonis yang ia bangun bersama Aira membuat hidupnya jadi lebih bahagia.
Ibrahim menghentikan tangan sang istri di atas kepalanya, lalu menatap lekat kedua netra Aira yang nampak berbinar itu. Dilihatnya pula Aira yang tersenyum menatap ke arahnya.
Perlahan Ibrahim mengangkat tubuhnya, mengikis jarak dan menjangkau bibir sang istri.
Aira menyambut itu, ia membuka sedikit mulutnya dan membiarkan sang suami masuk lebih dalam. Sampai akhirnya Aira merasakan tubuhnya yang melayang, Ibrahim menggendongnya dan membawanya untuk berbaring di atas ranjang. Ciuman itu semakin dalam dan rasanya begitu menuntut.
Namun sekelebat ingatan tentang darah yang mengalir di tubuh Aira membuat Ibrahim dengan segera melepaskan pagutan itu. Ia bahkan hendak bangkit namun dengan cepat pula Aira menahan lengannya.
"Kenapa Mas? kenapa selalu urung untuk menyentuhku?" tanya Aira, Ibrahim masih memunggunginya dan duduk disisi ranjang dengan deru nafasnya yang memburu.
Aira yang sudah berbaring pun lantas bangkit. Ia pun bertanya-tanya ada apa sebenarnya pada sang suami.
__ADS_1
Apa tubuhnya sudah membuat suaminya bosan?
Apa dia sudah tak terlihat menawan?
"Mas, lihat aku," pinta Aira.
Ibrahim pun menoleh, kedua netra nya membola saat melihat Aira mulai menanggalkan kancing bajunya satu per satu. Melepasnya dan meletakkan baju di atas ranjang. Kini hanya ada penutup terakhir di bagian dan inti, Aira berniat untuk melepaskannya pula. Namun dengan cepat Ibrahim menahan.
"Kenapa Mas?" kini kedua matanya sudah berkaca-kaca, Aira nyaris menangis. Namun Ibrahim dengan segera memeluk tubuh polos istrinya itu.
"Aku takut Aira, aku takut sayang," ucap Ibrahim lirih, masih terekam jelas di ingatannya tentang peristiwa di dalam mobil kala itu.
Merasakan tubuh suaminya yang bergetar, membuat tangis Aira urung. Ia lantas membalas pelukan sang suami.
"Aku takut kembali membuatmu terluka seperti saat itu," timpal Ibrahim lagi dan Aira semakin memeluk erat sang suami. Selama ini Ibrahim sekuat tenaga menahan hasratnya, karena tak ingin membuat istrinya kembali terluka.
"Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja Mas, aku sudah sembuh, aku juga sangat merindukanmu," jawab Aira tak kalah lirih. Sudah hampir dua bulan mereka tidak menyatu dan itu membuat Aira menahan rindu. Ia tak tahu jika sang suami masih terbayang akan masa lalu itu.
"Aku baik-baik saja Mas, tidakkah kamu melihatnya?" tanya Aira pula.
"Kalau begitu lakukan dengan lembut," pinta Aira, saat sang suami kembali terdiam. Sampai akhirnya Aira mulai merasa jika tangan-tangan suaminya mulai bergerak. Melepas pengait bra nya dan membuatnya tertanggal.
Sore menjelang malam itu keduanya menyatu. Ibrahim benar-benar memperlakukan Aira dengan lembut. Tidak hanya sekali, mereka terus mengulangi penyatuan itu hingga semua rindu terobati.
Kecupan lembut pun Ibrahim berikan sebagai penutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu.
__ADS_1
Pagi ini Sonya berniat untuk mendatangi rumah sakit. Ia ingin memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ingin tahu kenapa ia sulit sekali untuk hamil.
Bersama Ibrahim tidak bisa, bersama pria lain tak kunjung jadi. Padahal selama ini ia yakin betul jika ia baik-baik saja. Sebelum Aira hamil bahkan Sonya mengira jika Ibrahim lah yang bermasalah.
Selama ini terus mencoba dan berpikir semuanya baik-baik saja membuatnya tak begitu peduli dengan rahimnya. Ia bahkan hanya sekali memeriksakan kandungan selama menikah dengan Ibrahim.
Menemui dokter Irna, Sonya mulai melakukan beberapa pemeriksaan. Dokter Irna adalah dokter kandungan di rumah sakit milik keluarga Suryo, yang dulu juga merawat Aira dan membantu persalinan Yusuf.
"Bagaimana Dok? semuanya baik-baik saja kan?" tanya Sonya antusias. Kini ia sudah duduk di depan dokter Irna. Ada pula beberapa catatan di hadapan dokter Irna lengkap pula dengan hasil USG dan rontgen.
"Maaf nyonya, ada Miom yang tumbuh di rahim anda, itulah yang menyebabkan anda sulit untuk hamil," jelas dokter Irna.
"Miom?" ulang Sonya yang tidak tahu apa itu.
Dokter Irna pun dengan rinci menjelaskan bahwa Miom atau mioma adalah tumor jinak yang tumbuh di sekitar rahim.
Miom yang tumbuh di rahim Sonya menonjol dan mendesak rongga rahim, sehingga mengganggu terjadinya proses kehamilan Tapi jika miom posisinya di dinding rahim atau di luar rahim, maka tidak berpotensi untuk mengganggu kehamilan.
Selain lokasi terjadinya miom, ukuran pun harus diperhatikan. Miom dengan ukuran 5 cm atau lebih harus diperiksa secara intensif karena miom dengan ukuran ini bisa mengakibatkan terganggunya pertumbuhan rahim sehingga akan mengakibatkan terganggunya kehamilan.
"Jadi aku harus bagaimana Dok? apa itu bahaya?" tanya Sonya lagi, kini dahi dan kedua telapak tangannya sudah dipenuhi keringat dingin. Mendadak takut jika ini juga akan mengancam nyawanya.
Dokter Irna kembali menjelaskan jika kini ia akan memberi beberapa obat untuk mengecilkan Miom itu. Setelah 2 bulan mengkonsumsi obat itu baru akan dilihat bagaimana hasilnya. Adakah perubahan atau tidak.
Dokter Irna juga mengatakan untuk Sonya mulai menerapkan hidup sehat.
Dengan pikirannya yang gamang, Sonya keluar dari ruangan dokter Irna. Disaat ia sangat-sangat terpuruk seperti ini, Sonya hanya seorang diri, tidak ada yang menemani dan memeluknya erat.
Ia hanya menatap layar ponselnya yang mati. Ragu untuk menghubungi Ibrahim atau tidak. Karena kini hubungannya dengan Ibrahim sudah tidak seperti dulu.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh menghubungi mas Ibra, saat ini ia sedang bersama Aira," putus Sonya.
Lantas dengan kakinya yang terasa lemas dia kembali melangkah.