Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 57 - Keputusan Sulit


__ADS_3

Satu minggu berlalu dan Adisty belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar.


Dirga pun dengan setia menemani istrinya terus menerus. mendoakan sang istri agar segera sadar juga mulai merelakan anaknya diasuh oleh Aira dan Ibrahim.


Pak Basir dan ibu Rachel pun tidak tinggal diam, mereka terus kulu kilir antara rumah sakit dan rumah keluarga Suryo.


Sampai saat tepat 9 hari Adisty koma, perempuan berparas Ayu itu menghembuskan nafas Terakhir. Adisty memilih untuk tidak sadar dari komanya namun tetap melanjutkan tidur panjangnya, dia meninggal sebelum mengetahui sang anak dan juga suaminya yang sudah mengaku salah.


Dirga terdiam menatap dengan tatapan kosong tubuh sang istri yang mulai ditutup kain putih.


Sementara tangis ibu Rachel pecah dan pak Basir memeluk istrinya coba menenangkan.


Pemakaman Adisty dilakukan hari itu juga, Aira dan Ibrahim pun ikut menghadiri pemakaman itu. Mereka juga merasakan kesedihan yang sama, memikirkan Nusa yang belum sempat bertemu dengan sang ibu.


Aira menangis memeluk Ibu Rachel yang juga menangis.


Sampai akhirnya pemakaman mulai sepi, semua orang yang ikut mengantar kepergian Adisty mulai meninggalkan pemakaman. Kini  hanya menyisakan keluarga inti di sana, Aira dan Ibrahim pun masih tinggal. Masih belum sanggup pergi sementara ibu Rachel masih saja menangis.


Dirga bahkan masih terus bersimpuh di atas makam sang istri , menyentuh nisan istrinya dengan derai air mata.


Penyesalan yang ia rasa semakin mendalam, mendarah daging seolah kepergian Adisty ini akan membuatnya tersiksa seumur hidup.


"Dirga, ayo kita pulang Nak," ucap pak Basir, ia pun menyentuh bahu sang anak, menepuknya pelan meminta Dirga untuk sabar dan ikhlas.


"Bagaimana ini Yah? Bagaimana bisa Adisty meninggalkan aku dan anak kami, bahkan kami belum sempat memberi nama pada anak kami Ayah. Adisty juga belum sempat melihat anak kami, bagaimana bisa dia tega pergi?" jawab Dirga dengan banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya.

__ADS_1


Dan semua orang pun tahu dengan pasti apa jawaban dari semua pertanyaan Dirga. Bahwa ini adalah takdir yang sudah ditetapkan untuk Adisty dan juga Dia.


Takdir dari sang Maha Kuasa yang tidak bisa untuk mereka tolak.


Ikhlas adalah satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh untuk tetap menjalani hidup ini dengan baik.


"Istighfar Dirga istighfar, Adisty sudah meninggal dan kamu tidak bisa menuntut apapun akan hal itu," jelas pak Basir.


Tangis Dirga pun makin mengalir deras, ia memeluk nisan sang istri erat.


Aira yang tidak kuasa melihat ini pun langsung memeluk Ibrahim erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami dan menumpahkan semua air mata kesedihan nya di sana.


Nussa Nussa dan hanya Nusa lah yang ada di dalam pikiran Aira. memikirkan betapa malangnya anak itu.


Dan Ibrahim yang tidak ingin istrinya terus bersedih seperti ini memutuskan untuk pamit. Ibu Rachel mengangguk pelan, kembali memeluk Aira sebelum mereka berpisah.


"Berhentilah menangis aku tidak ingin Yusuf dan Nusa melihatmu bersedih seperti ini," ucap Ibrahim saat dia dan Aira sudah berada di dalam mobil. Ibrahim pun membantu Aira untuk mengeringkan air mata di wajahnya.


"Iya sayang, maafkan aku, aku hanya tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini," jelas Aira dan Ibrahim sangat memahami itu, karena dia pun merasakan hal yang sama. Siapa yang bisa mengira jika akhirnya Adisty akan meninggal dunia.


Setelah air mata sang istri kering Ibrahim segera melajukan mobilnya untuk pulang.


dan saat jam 5 sore akhirnya mereka sampai di rumah. Aira dan Ibrahim langsung membersihkan diri sebelum menemui anak-anaknya. Yusuf dan Nusa yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri. Kini kedua bayi itu masih bersama dengan mbak Ita dan bik Sumi.


"Mas aku temui Ayah dan Ibu dulu ya," pamit Aira pada sang suami saat mereka berdua sudah sama-sama selesai mengenakan baju.

__ADS_1


"Iya sayang."


Setelahnya Aira pergi menemui ibu dan ayahnya. Sebelum Magrib menjelang, Aira Pak Imam dan Ibu Asma duduk bersama di ruang tengah yang ada di lantai 2.


"Bagaimana Ibu Rachel dan Pak Basir Aira? apa mereka baik-baik saja?" tanya Ibu Asma, Ia dan sang suami cukup mengenal baik Pak Basir dan ibu Rachel. Keduanya pun ikut berbela sungkawa atas meninggalnya menantu mereka Adisty.


"Ya begitu lah Bu, Ibu Rachel masih saja terus menangis.  Dirga belum bisa menerima dan hanya Pak Basir lah yang terus menenangkan keduanya," jawab Aira sendu, kembali mengingat itu dia kembali memikirkan nasib Nusa.


"Lalu bagaimana dengan Nusa?" kini giliran Pak Imam yang bertanya.


Bagaimanapun nasib bayi mungil itu harus tetap dipikirkan .Apakah Nusa akan terus diasuh oleh Aira dan Ibrahim atau Dirga akan mengambilnya.


Dan ditanya tentang Nusa, seketika Aira terdiam. Dia pun bingung mau menjawab apa, hati dan pikirannya pun masih terus beradu memikirkan bagaimana baiknya.


"Aku tidak tahu Pak, tapi andai mereka menginginkan aku untuk merawatnya aku akan menerima Nusa dengan tangan terbuka."


"Lalu bagaimana dengan suamimu? setahu bapak dulu kalian bersedia merawat Nusa untuk sementara waktu, menunggu Adisty sadar dari komanya atau Nusa sudah lebih cukup kuat untuk tinggal bersama mereka," jelas Pak Imam.


Perihal Nusa jika tidak dibicarakan baik-baik pasti akan menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga anaknya. Dan Pak Imam maupun Ibu Asma tidak menginginkan hal itu terjadi.


Lagi-lagi Aira terdiam semakin bingung harus bagaimana. namun dalam sudut hatinya Ia yakin, jika suaminya Ibrahim pasti berpikiran sama dengan dirinya, mereka pasti akan bersedia untuk merawat Nusa. Bahkan sampai Nusa dewasa nanti.


Pun ikatan batin antara Nusa dan Aira sudah terjalin begitu kuat. Membuat keputusan ini semakin terasa sulit untuk diambil.


Pembicaraan mereka terhenti saat melihat Ibrahim mulai menghampiri. Pak Basir dan Ibu Asma tidak lagi kembali mengungkit tentang Nusa, mereka berharap nanti air akan membicarakan masalah ini dengan suaminya berdua.

__ADS_1


Setelah Ibrahim menyapa kedua mertuanya, dia mengajak Aira untuk menjemput anak-anak. Sebentar lagi waktu maghrib tiba dan Ibrahim ingin mereka semua bersama dalam satu kamar.


Saat Aira dan Ibrahim salat magrib berjamaah, Yusuf dan Nusa akan berada di samping mereka.


__ADS_2