Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 41 - Pembunuh


__ADS_3

"Dimana Aira?!" tanya Sonya dengan membentak. Sonya datang ke rumah ini untuk.


bertemu dengan Aira namun malah yang menemuinya Ibrahim seorang diri. bahkan ada 2 penjaga yang melarangnya masuk untuk pergi ke kamar Aira.


Belum apa-apa Sonya sudah merasa sangat dilecehkan, ia marah, dulu rumah Ini jugalah miliknya namun kini dia seolah diperlakukan seperti orang asing.


"Aku tidak akan membiarkan mu bertemu dengan Aira," jawab Ibrahim dengan suaranya yang dingin. Tatapannya pun nampak begitu benci pada wanita yang pernah dicintainya ini.


Mendengar jawaban Ibrahim Sonya berdecih, ia tahu Ibrahim pasti takut.


"Cih! Mas takut aku akan mengatakan semuanya pada dia?" tanya Sonya lalu tertawa sendiri seperti orang gila.


"Kalau begitu perlakukan lagi aku seperti istrimu, Mas tahu aku rindu kebersamaan kita," ucap Sonya setelah tawanya mereda, ia bahkan menghampiri Ibrahim dan berdiri persis di harapan pria tampan dan rupawan ini, menyentuh kancing-kancing baju Ibra untuk menggodanya.


Tapi bukannya tergoda, Ibrahim malah merasa jijik. Dengan segera ia mencekal tangan Sonya itu dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur di atas lantai.


Sonya sedikit menjerit, ia sungguh terkejut atas perlakuan kasar yang dia terima.


Bukannya meminta maaf dan menolong, Ibrahim malah ikut berjongkok dan memberi tatapan tajam pada istri pertamanya itu.


"Aku menalakmu! talak talak talak!" ucap Ibrahim dengan suaranya yang berat. Tiga talak langsung ia jatuhkan pada Sonya, yang artinya kini mereka telah sah bercerai segera agama.


Lain halnya dengan talak yang diberikan Ibrahim kepada Aira pada saat itu yang hanya talak satu kali, talak yang membuat mereka bisa rujuk lagi.


Sonya terperangah, menatap tak percaya kedua netra suaminya yang nampak merah, mengisyaratkan sebuah kemarahan yang membuncah.


Namun Sonya pun sama, kini ia sangat marah atas talak yang dijatuhkan kepadanya.


"Aku tidak peduli Mas menalakku! aku akan tetap memberi tahu Aira kebenarannya! Mas adalah pembunuh!" pekik Sonya. Kini ia benar-benar marah dan amarahnya tidak lagi bisa dikendalikan, ia tidak mau hancur sendiri, ia mau Ibrahim dan Aira sama hancurnya seperti hatinya saat ini.

__ADS_1


"Sadarlah Mas, kamu itu pembunuh! kamu tidak berhak bahagia!" pekik Sonya.


Ibrahim tidak peduli, ia bangkit dan meminta kedua penjaga keamanan yang tak jauh dari mereka untuk mengusir Sonya.


Sementara Sonya terus meronta sampai akhirnya cekalan atas tubuhnya terlepas, ia kembali berlari dan masuk ke dalam rumah, melewati Ibrahim dan hendak naik ke lantai 2.


Namun dengan cepat Ibrahim menarik lengan Sonya hingga wanita ini terhenti.


"Jangan menggila di rumah ini!" ucap Ibrahim, ia memang tidak membentak namun setiap ucapannya terdengar begitu berat dan penuh kemarahan.


Bahkan kini Ibrahim sendiri lah yang menarik Sonya untuk keluar, sampai kapanpun ia tidak akan membiarkan Sonya untuk bertemu dengan Aira. Wanita ini hanya akan membuat Aira terluka dengan semua ucapannya.


"Ingatlah Mas, kamu itu pembunuh! kamu membunuh anakmu sendiri!" ucap Sonya dengan sedikit memekik dan Ibrahim sungguh tidak peduli akan hal itu.


"Kita sama Mas, kita sama-sama pembunuh!" pekik Sonya pula, ia benar-benar ingin Ibrahim tahu bahwa sejak dulu mereka begitu serasi dalam banyak hal. Bahkan kini pun mereka sama-sama menjadi pembunuh. Ibrahim membunuh anaknya sendiri dan Sonya membunuh kakek Pram.


Dan mendapat pertanyaan itu Sonya tersenyum smirk.


"Kita sama-sama pembunuh Mas, kamu membunuh anakmu sendiri dan aku membunuh kakek Pram," jawab Sonya tanpa sadar. Amarah dan rasa kecewa membuatnya lupa untuk terus menjaga rahasia ini.


Dan ucapan Sonya itu mampu membuat Ibrahim terbelalak, gemuruh amarah di dadanya makin membesar.


Ibrahim masih diam sementara Sonya terus mengucapkan kata-kata uang menyakitkan, bagaimana dia dengan tega melipat selang pernafasan kakek dan menyelipkannya di sisi ranjang. Membuat kakek Pram kekurangan pasokan oksigen ke dalam otaknya dan meninggal.


Setelah menguak semua rahasianya sendiri Sonya tergelak, bahkan tidak lagi merasa sakit di pergelangan tangannya meski Ibrahim masih terus mencengkram lengannya kuat.


Sonya tertawa, menertawakan mereka berdua yang ternyata seorang pembunuh. mengganggap mereka sama dan selamanya tidak akan berpisah.


Plak!

__ADS_1


Dan ...


Brug! tubuh Sonya jatuh diatas lantai setelah Ibrahim melayangkan satu tamparan keras pada wanita ini.


Tawa Sonya menghilang, diganti dengan keterkejutannya yang luas biasa. Ia merasakan pedih yang teramat di wajahnya ini.


Belum sempat Sonya bangkit, Ibrahim sudah lebih dulu berjongkok dan mencekik Sonya degan kuat.


"Ak ak ak!" ucap Sonya putus-putus diantara nafasnya yang nyaris habis.


Dan saat wajah Sonya mulai berubah merah Ibrahim melepas cekiknya dsn mendorong tubuh Sonya hingga tersungkur.


Sonya terbatuk-batuk namun sungguh Ibrahim tidak memperdulikannya.


"Kamu paling tahu aku bisa melakukan lebih dari ini Sonya, tapi aku tidak ingin mengotori tanganku untuk menyentuh wanita menjijikkan seperti dirimu!" ucap Ibrahim.


Saat itu juga Ibrahim meminta pada kedua penjaga keamanan untuk kembali mencekal tubuh Sonya.


Membawa wanita ini langsung ke kantor polisi. Dulu Ibrahim tidak berpikir sejauh itu, dia ingat memang jika selang pernafasan kakek terjepit oleh tubuh kakek sendiri. Namun saat itu Ibrahim mengira itu karena kakek sendiri, kesalahan yang tanpa disadari hingga membuat kakek meninggal.


Tapi ternyata itu semua ulah wanita gila ini.


Ibrahim sendiri yang membawa Sonya ke kantor polisi pagi ini. Sementara itu ia meminta asisten pribadinya Robby untuk memeriksa rekaman CCTV di ruang rawat kakek Pram di rumah sakit keluarga Suryo, memeriksa rekaman beberapa saat sebelum kakek Pram meninggal.


Tubuh Sonya tiba-tiba gemetar, kini ia baru menyadari apa yang sudah ia lakukan, yang dengan bodohnya mengungkap semua rahasianya sendiri.


Kini ketakutan itu menguasai hati dan pikiran Sonya. Bahkan keringat dingin mulai muncul di dahi dan kedua telapak tangannya.


Namun semuanya sudah terlambat, belum sempat ia memohon ampun kepada Ibrahim, dia sudah lebih dulu Ibrahim lempar pada penyidik.

__ADS_1


__ADS_2