
Seperti yang diucapkan Ibrahim tadi pagi bahwa hari ini dia akan pulang jam 3 sore. Dan tepat saat jarum jam menunjuk angka 3, Ibrahim sampai di rumah.
Aira menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat dan kecupan kecil di bibir sang suami. Kini sebuah kecupan sudah seperti rutinitas wajib bagi mereka.
Jika pagi ataupun sore tidak ada kecupan, rasanya ada yang kurang. Seolah menunjukan jika salah satu diantara mereka sedang ada yang marah.
“Yusuf dimana?” tanya Ibrahim, berjalan masuk kedalam rumah dengan satu tangannya yang memeluk pinggang sang istri.
“Baru saja tidur, dia kelelahan main dengan mbak Ita,” jawab Aira, mbak Ita adalah babysitter Yusuf yang baru.
Mereka lantas langsung menuju kamar, Aira membantu suaminya untuk melepaskan baju, merubah dari setelan jas lengkap dengan baju rumahan.
“Kita tidak ingin langsung pergi?” tawar Ibrahim, kini tubuh atasnya sudah polos, sementara Aira sedang mengambil baju ganti sang suami di dalam lemari.
“Mas Ibra istirahat dulu, habis Ashar kita baru pergi,” putus Aira dan Ibrahim pun mengangguk, lalu memakai baju yang sudah disiapkan oleh sang istri.
Selesai memakainya, Ibrahim pun lantas menarik pinggang Aira dan mendekapnya erat.
Menatap lekat kedua netra Aira dan Aira pun membalasnya, kedua tangan Aira bahkan langsung menggantung di kedua bahu suaminya itu. Lalu salah satunya mengelus lembut wajah sang suami.
Ibrahim memang sangat tampan, mata , hidung bahkan rahangnya seolah terpahat dengan sempurna.
Setiap hari memandang seperti ini Aira tidak pernah bosan, ia malah semakin menyukainya. Aira bahkan tersenyum tanpa ia sadari.
Sampai akhirnya Ibrahim yang lebih dulu mengikis jarak dan menyesap bibir sang istri. Melumaatnya lembut sehingga membuat tubuh Aira bergetar seperti tersengat listrik.
“Nanti saat pergi ke rumah pak Basir tidak usah merias wajahmu, ya?” pinta Ibrahim setelah melepaskan pagutannya.
Ibrahim tidak terima, kecantikan sang istri dinikmati oleh orang lain, apalagi Dirga. Meski kini Dirga sudah menikah bahkan istrinya hamil, tapi entah kenapa Ibrahim masih merasa jika pengacara itu masih menaruh perhatian lebih pada sang istri.
“Iya Mas, hanya pakai bedak tipis, ya?” tawar Aira pula, lalu terkekeh.
__ADS_1
“Panggil aku sayang dulu.”
Aira mencebik, namun tetap menuruti keinginan sang suami, jika diingat-ingat pun rasanya dia tidak pernah memanggil suaminya dengan sebutan itu.
“Sayang,” panggil Aira, kaku. Membuat Ibrahim langsung terkekeh pelan, merasa gemas. Bahkan saking gemesnya Ibrahim pun menggigit dagu Aira, hingga wanita berparas cantik ini pun melenguh, merasa sakit dan sensasi yang entah.
“Mulai sekarang panggil aku sayang, dimanapun, kapanpun, meski ada siapapun,” pinta Ibrahim dan Aira pun menganggukkan kepalanya.
Melihat sang suami yang menuntut seperti ini disaat mereka akan pergi ke rumah pak Basir membuat Aira merasa jika mungkin saja ada sesuatu yang mungkin mengganggu pikiran sang suami.
Sekejap terlintas dalam pikiran Aira mungkinkan Ibrahim masih menaruh rasa cemburu pada Dirga, padahal sumpah ia dan Dirga tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan terlibat pembicaraan mereka tidak pernah. Jika tanpa sengaja bertemu pun mereka tidak pernah bertegur sapa, karena Dirga selalu bersikap dingin kepadanya.
Tidak ingin pikiran sang suami semakin jauh membayangkan yang tidak-tidak, Aira pun segera berjinjit dan lebih dulu menyesapi bibir sang suami. Bahkan dengan berani menelusupkan lidahnya masuk lebih dalam.
Ibrahim membuka mulutnya, memberi akses Aira untuk berkelana.
Semakin lama, ciuman keduanya semakin menuntut. Bukan hanya Ibrahim, namun Aira pun merasakan tubuhnya mulai memanas.
Bersama dengan hembusan angin sore waktu itu, Ibrahim dan Aira akhirnya jatuh diatas ranjang. Melepas semua penghalang dan melakukan penyatuan.
Lenguhan Aira semakin tak tertahan saat semua inti tubuhnya dalam kendali sang suami. Dibawah sana Ibrahim terus menyentaknya kuat sementara di atas sini salah satu dadanya dihisap kuat, sementara yang lain diremaas tanpa ampun. Aira hanya bisa mengerang merasakan nikmat. Sampai akhirnya mereka berdua sama-sama menjerit dengan suara yang tertahan. Ibrahim menumpahkan semua hasratnya di rahim sang istri.
Benih itu tidak akan tumbuh, karena Aira dan Ibrahim sudah sepakat untuk menunda memiliki anak, menunggu Yusuf berusia 2 tahun barulah mereka akan menambah momongan.
Masih menyatu, Ibrahim sedikit mengangkat tubuhnya, menatap sang istri yang kedua matanya masih terpejam, nafasnya memburu dengan dada yang naik turun. Ibrahim sangat menyukai pemandangan ini. Melihat istrinya yang puas ia pun semakin puas lagi.
“Sayang, sebaiknya kita cepat mandi,” ucap Ibrahim. Sebuah ucapan yang akhirnya membuat Aira membuka mata dan tersenyum sambil menggigit bibir bawah.
Aira masih ingin lagi, namun waktu yang tidak mengizinkan.
Sehabis membersihkan tubuh, Aira dan Ibrahim langsung bersiap. Aira menyiapkan semua keperluan Yusuf dalam satu tas, sementara Ibrahim bertugas membangunkan sang anak, tinggal Yusuf sendiri yang belum siap.
__ADS_1
“Anak ayaah sayang, bangun dong,” ucap Ibrahim pelan-pelan sambil mengelus kepala Yusuf.
Sang anak yang di bangunkan masih setia terpejam, bahkan bergerak pun tidak. Jika boleh bicara Yusuf ingin sekali berkata, Aku lelah Yah, mau tidur saja .
“Sayang, Yusuf sepertinya tidak mau bangun,” ucap Ibrahim dengan suaranya yang mengeluh. Aira yang sedang sibuk pun sampai menoleh ke arah suami dan anaknya itu.
“Digelitik kakinya.”
“Kasihan,” balas Ibrahim cepat.
“Kita tinggal saja Yusuf ya, biar nanti Ita yang mandikan,” timpal Ibrahim membuat aira menghembuskan nafasnya berat.
Padahal tadi Aira sudah membuat opsi seperti itu pada sang suami, bahwa mereka pergi berdua saja ke rumah pak Basir, tapi kata mas Ibrahim kasihan Yusuf, nanti anaknya itu mencari keberadan mereka berdua.
Ya sudah Aira menurut dan menyiapkan semua keperluan sang anak, tapi tiba-tiba Ibrahim mengatakan jika mereka pergi berdua saja, hanya karena tidak tega membangunkan Yusuf.
"Benar Yusuf ditinggal?" tanya Aira memastikan dan Ibrahim pun menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Aira pun mengangguk kecil dan kembali mengeluarkan keperluan Yusuf.
Lalu memanggil mbak Ita untuk menjaga Yusuf saat dia dan Ibrahim pergi.
Sebelum menuju rumah pak Basir, Ibrahim dan Aira berhenti dulu ke sebuah toko kue ternama di kota Jakarta. Memberi beberapa box kue sebagai buah tangan.
Lalu saat Adzan magrib berkumandang mereka berhenti di salah satu masjid dan sholat disana. Setelanya Ibrahim dan Aira baru menuju rumah pak Basir.
Sudah banyak mobil yang terparkir di halaman rumah pak Basir, menandakan jika sudah banyak pula tamu yang datang.
Ibrahim turun lebih dulu, lalu meminta pada beberapa pelayan di rumah pak Basir untuk membantunya membawa box kue yang dia bawa.
Dan setelah itu Ibrahim dan Aira baru menemui tuan rumah. Ibu Rachel memeluk Aira erat, sebuah sambutan hangat yang membuat Aira dan Ibrahim mengukir senyum.
__ADS_1
Dan saat bertemu dengan Dirga dan Istrinya, mendadak suasana jadi dingin. Baik Ibrahim ataupun Dirga hanya saling sapa sekedarnya. Bahkan Ibrahim terus memeluk pinggang Aira erat, seolah mengatakan jika Aira adalah istrinya.
Sementara Dirga hanya sedikit melirik, lalu memalingkan wajah.