
Dirga duduk di kursi tunggu setelah kedua orang tuanya pulang bersama sang anak. Ibrahim dan Aira pun juga sudah pulang.
Kini hanya tinggal dia seorang diri, duduk di kursi tunggu yang ada di ruangan sang istri.
Sebelum masuk Dirga ingin menenangkan hatinya sejenak. Hati yang sudah porak poranda dan hancur lebur. Istri yang sangat dicintainya kini koma, dan sang anak membutuhkan sentuhan seorang ibu.
Dirga merunduk, mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan.
Kembali teringat akan pertemuan pertamanya dengan Aira. Saat wanita itu datang ke rumahnya dengan banyak derai air mata.
Baginya Aira adalah wanita yang paling bodoh. Sebesar apapun Ibrahim menyakitinya, Aira selalu saja bisa memaafkan.
Dirga tidak menyukai itu, Aira benar-benar lemah dan tidak bisa tegas dengan hidupnya sendiri. Bahkan setelah Aira keguguran karena Ibrahim, lagi-lagi pun Aira masih mau memaafkan suaminya itu.
Dirga sungguh benci, sangat benci pada wanita selemah Aira.
Karena itulah ia selama ini begitu enggan bertegur sapa dengan wanita bodoh itu. Dirga lebih memilih acuh dan bersikap dingin.
Tapi kini, wanita bodoh itulah yang bisa menenangkan anaknya. Bahkan anaknya menyusu pada wanita bodoh itu.
Terbesit rasa tidak Ikhlas di hati Dirga, namun ia tak kuasa untuk menolak keinginan sang anak. Karena nyatanya anak laki-lakinya itu langsung terdiam ketika didalam dekapan Aira.
"Ya Allah," gumam Dirga pelan. Ia terus beristigfar di dalam hati, mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi.
Lalu setelahnya ia masuk ke dalam ruangan sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah lewat waktu Zuhur beberapa menit, Aira dan Ibrahim sampai di rumah mereka.
Yusuf pun langsung berlari menyambut ayah dan ibunya.
Ibrahim langsung berjongkok dan merentangkan tangannya lebar-lebar lalu mendekap Yusuf erat, kemudian menggendongnya.
__ADS_1
Ibrahim menciumi pipi sang anak dan tercium aroma manis yang pekat..
"Hem, anak ayah maka permen ya?"
"Cedikit," jawab Yusuf begitu menggemaskan.
Yusuf tumbuh menjadi anak yang pintar dan aktif, membuat Ibrahim semakin mencintai istrinya itu karena mampu merawat Yusuf dengan baik.
Seperti yang diucapkan pada ibu Rachel bahwa dia akan mengirimkan beberapa botol susu untuk anak Dirga dan Adisty yang belum diberi nama.
Aira pun meminta supir keluarga Suryo untuk mengantarkan botol-botol susu itu.
Dan saat botol susunya sampai di rumah bu Rachel, ibu Rachel pun dengan segera merendam salah satunya menggunakan air hangat dan memberikannya pada sang cucu.
Namun sayang, cucu enggan meminum dari dot. Cucu kesayangannya terus menangis membuat ibu Rachel pun ikut menangis juga saking tidak teganya.
Akhirnya ibu Rachel dan pak Basir pun mengambil keputusan untuk mendatangi rumah Ibrahim.
Sesapan bayi kembali membuat produksi Asi Aira melimpah. Padahal sebelumnya produksi Asi Aira sudah berkurang.
"Makan yang banyak ya sayang dan setelah ini tidur yang nyenyak," ucap Aira pada bayi mungil itu. Yusuf dan mbak Ita pun ada di dalam kamar, sementara Ibrahim tetap di lantai satu menemani ibu Rachel dan pak Basir.
"Bubu, dede ecil," ucap Yusuf, menunjuk-nunjuk bayi kecil yang digendong sang ibu.
"Iya sayang, dedek kecilnya nangis, minta susu. Susunya sama-sama ya sama Mas Yusuf?"
"Iya!" jawab Yusuf riang, membuat mbak Ita dan Aira terkekeh dengan jawaban Yusuf itu.
Disaat Aira dan semuanya sedang tertawa, lain halnya dengan yang di lantai 1. Ibrahim, pak Basir dan ibu Rachel terlibat pembicaraan serius.
Tentang bagaimana kelanjutan ini semua.
"Jujur saja Pak, Bu, saya sedikit keberatan saat Aira harus menyusui bayi orang lain, hal yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah Dirga," jujur Ibrahim. Tidak ingin ada yang dia tutup-tutupi tentang perkara ini.
__ADS_1
Terlebih Ibrahim yakin jika ibu Rachel dan pak Basir pun tahu jika hubungannya dengan Dirga memang tidak terlalu dekat.
"Bapak paham Ibra, kamu pasti tidak rela melihat istrimu menyusui anak orang lain. Tapi bapak tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa," jujur pak Basir, wajahnya begitu sendu membuat Ibrahim tidak tega melihatnya.
"Maafkan saya Pak, Bu, bukan saya tidak mengizinkan Aira, tapi selama anak Dirga dan Adisty menyusu pada Aira tolong berikan anak itu kepada kami, percayakan kepada kami bahwa kami akan merawatnya dengan baik," balas Ibrahim, inilah yang sebenarnya dia inginkan.
Kepercayaan bahwa ia dan Aira mampu merawat bayi itu dengan baik, jadi kedua belah pihak keluarga tidak akan saling canggung, jika hanya datang untuk menyusu kemudian pergi, dan terus seperti itu entah sampai kapan.
"Kami tidak akan mengambil anak itu Pak, kami hanya akan bantu merawatnya sementara waktu, sampai Adisty sadar dari komanya, atau sampai anak itu lebih kuat daripada hari ini," jelas Ibra lagi yang tidak ingin pak Basir dan ibu Rachel salah memahami maksudnya.
Dan di lihat lah oleh Ibrahim, pak Basir yang mengangguk kecil. Pak Basir memahami itu, mereka pun harus menghargai privasi Aira dan Yusuf, tidak mungkin tengah malam mereka datang dan meminta Aira untuk menyusui cucunya.
Harus ada kerelaan hati, ikhlas dan mempercayakan cucunya dalam pengasuhan Aira dan Ibra.
Pak Basir dan ibu Rachel pun bisa percaya, namun entah bagaimana dengan Dirga.
"Bapak mengerti maksudmu Ibra dan bapak sayang berterima kasih akan hal itu," jawab pak Basir dan ibu Rachel menganggukkan kepalanya kecil, ia pun memahami Ibra seperti sang suami.
Setelah pembicaraan itu, akhirnya mereka bersepakat untuk meninggalkan anak Dirga dan Adisty di rumah ini. Sementara pak Basir dan ibu Rachel kembali pergi ke rumah sakit dan mengabarkan semuanya kepada sang anak, Dirga.
Sampai di sana, mereka bicara diluar, tidak di kamar rawat Adisty.
Duduk bersama di kursi tunggu dan pak Basir menceritakan semuanya kepada sang anak. Tentang anak Dirga yang kini berada di rumah Ibrahim, atau bahkan akan tinggal di sana sementara waktu.
"Ya Allah Bu, Pak. Kenapa anakku harus ditinggal di rumah itu? bapak dan ibu tahu persis aku tidak menyukai mereka," jawab Dirga, ia kira hanya menyusu pada Aira tidak sampai harus tinggal di rumah itu.
"Lalu mau mu bagaimana? membiarkan anakmu terus menangis? kalau ibu, ibu tidak sanggup untuk melihatnya," jawab ibu Rachel dengan cepat. Ia tak kuasa tiap kali mendengar cucunya menangis, dan dia sangat lega saat melihat sang cucu yang merasa nyaman di dekapan Aira.
"Ibrahim sudah berubah Dirga, dia bisa merawat anakmu dengan baik. Juga Aira adalah wanita yang tulus, apa salah mereka?" tanya Ibu Rachel lagi, tidak habis pikir dengan pikiran sang anak.
"Aira itu bodoh Bu, dan Ibrahim itu pembunuh, bagaimana bisa aku menyerahkan anakku pada mereka?"
Astagfirulahalazim. ucap pak Basir dan ibu Rachel di dalam hati. Mereka beristigfar, menyayangkan pikiran buruk yang bersarang di hati Dirga.
__ADS_1