
Makan malam kali ini, Aira hanya makan seorang diri. Sonya masih bersedih di dalam kamarnya. Sementara Ibrahim memutuskan untuk menjaga Yusuf di dalam kamar.
Ada perasaan hampa yang Aira rasa, seolah pencapaiannya di luar sana tidak berarti apa-apa jika di dalam rumah ini tak ada kehangatan keluarga.
"Nyonya Aira, kenapa sayurnya tidak di makan? apa malam ini masakannya tidak enak?" tanya bik Sumi, sedari tadi ia terus memperhatikan Aira yang makan dengan tak bernafsu, bahkan sayur yang tersaji di sana tidak disentuh oleh sang Nyonya.
"Tidak Bik, semuanya enak, hanya saja perutku sedikit tidak nyaman," jelas Aira apa adanya, ia bahkan langsung meminum air putih dan menyudahi makan malamnya.
"Apa Nyonya sakit?"
"Tidak Bik, tadi pagi aku masuk angin," jawab Aira sekenanya dan bik Sumi pun menganggukkan kepalanya.
Setelah makan malam Aira kembali ke dalam kamarnya, melihat apa yang dilakukan oleh sang suami dan anaknya.
Ibrahim sedang bermain dengan Yusuf di atas ranjang. Bayi yang sudah mulai belajar tengkurap ini jadi semakin aktif dan menggemaskan.
Aira pun bisa mendengar dengan jelas, tawa sang suami yang terdengar lepas.
Meskipun ia benci namun tetap saja hati Aira merasa menghangat saat mendengar tawa itu.
Aira lantas duduk disisi ranjang, ikut bergabung dengan keduanya.
"Mas," panggil Aira lirih. Ini adalah kali pertama Aira kembali memanggil Ibrahim dengan sebutan Mas. Selama 3 bulan terakhir Aira selalu menyebut Ibrahim dengan sebutan kamu, kamu dan kamu.
Ibrahim yang mendengar panggilan lembut itu pun langsung menoleh kearah Aira, menatap dengan curiga.
"Apa? kamu punya rencana baru lagi untuk mengumpulkan banyak uang?" tanya Ibrahim langsung, tanpa mendengarkan lebih dulu apa maksud Aira.
Padahal Aira sudah berniat untuk memperbaiki hubungan mereka, memutus ke salahpahaman yang selama ini menguasai.
Namun mendengar tanggapan sang suami, Aira hanya mampu menghembuskan nafasnya pelan. Niat baiknya kembali urung ia lakukan.
"Apa?" tanya Ibrahim sekali lagi saat sudah menatap lekat wajah sang istri yang nampak berbeda.
Wajah Aira tak lagi nampak dingin, bahkan terlihat lebih sayu dari biasanya.
__ADS_1
Kembali ditanya suaminya, Aira pun kembali mengangkat wajah dan membalas tatapan Ibrahim.
Sesaat keduanya hanya saling tatap, tanpa ada kata diantara mereka. Seolah saling menyelami apa isi hati keduanya. Sampai akhirnya suara Yusuf mengambil alih dan perhatian Ibrahim dan dan Aira pecah.
Ibrahim lantas menggendong anaknya dan menimang si jabang bayi.
Perlakuan lembut Ibrahim pada Yusuf makin membuat hati Aira terasa nyeri. Ia akhirnya mengambil keputusan untuk menyudahi egonya sendiri.
Mencoba bicara sekali lagi dengan sang suami tentang bagaimana baiknya rumah tangga ini.
Aira sadar, jika cinta yang ia rasa pada Ibrahim belum sepenuhnya hilang. Bahkan akan membuatnya terlihat lemah. Tapi tak apa, karena kini pun Aira merasa sudah lebih kuat.
Ia yakin bisa menghadapi ini semua dengan baik.
"Mas," panggil Aira lagi, Ibrahim pun memutar badannya dan kembali menatap Aira.
Ia tak menjawab apa, hanya menunggu apa yang akan Aira ucapkan selanjutnya.
"Aku ingin bicara tentang kita," jelas Aira. Ibrahim masih menggoyangkan tubuhnya, menimang sang anak.
Mendadak pikirannya kosong saat mendengar ucapan Aira itu. Tentang mereka, tentang keinginan Ibrahim akan Aira.
"Mas ingin aku menolak semua harta pemberian kakek? baiklah akan aku lakukan," ucap Aira lagi. Hingga membuat tubuh Ibrahim berhenti bergerak.
"Aku tidak ingin kita terus bermusuhan seperti ini Mas, bahkan jika kita bercerai aku ingin kita memiliki hubungan yang baik, demi Yusuf," timpal Aira lagi karena Ibrahim hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang entah.
Aira tidak tahu, jika Ibrahim kini sudah merasa sesak. Meski tak tahu kalimat Aira mana yang membuatnya sesak seperti ini.
"Katakan Mas? apa yang kamu inginkan tentang aku? aku harus apa agar membuatmu tidak lagi membenciku?" tanya Aira bertubi, tatapannya sayu, tanda ia sudah lelah dengan semua pertengkaran ini.
Sementara Ibrahim semakin gamang, dengan banyak pikiran di dalam kepalanya. Namun satu yang ia coba yakini, bahwa Aira memang hanya menginginkan harta kakek.
"Baiklah, kalau begitu lepas semua pemberian kakek padamu. Termasuk berhentilah menjadi CEO di SM."
Aira mengangguk.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan rumah tangga kita? apa kita akan berpisah?" tanya Aira lagi dan lagi.
"Aku mencintai kamu Mas, aku mau rumah tangga ini tetap utuh. Tapi jika Mas tidak mencintai aku lebih baik ceraikan aku," putus Aira.
Dan..
Deg! seketika itu juga jantung Ibrahim terasa tersengat. Seolah detaknya berhenti sekejab.
"Tentang Yusuf tidak perlu kita perdebatkan, selamanya dia akan tetap jadi anak kita. Tapi karena dia masih bayi, izinkan Yusuf ikut bersamaku."
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? kenapa mendadak membicarakan ini?" tanya Balik Ibrahim.
"Aku sudah lelah Mas, aku lelah kita terus bertengkar, aku ingin kembali ke rumah orang tuaku dan hidup damai di sana," putus Aira seyakin-yakinnya.
Tak lagi ada yang membuatnya gentar akan keputusannya itu. Karena nyatanya ia memang tetap merasa hampa meski kariernya semakin bersinar.
Ibrahim terdiam, mencoba memahami semua kata yang diucapkan oleh Aira. Tentang perpisahan mereka yang tiba-tiba terasa begitu menyiksa.
"Baiklah," jawab Ibrahim, ia pun sadar jika selama ini rumah tangga mereka memang sudah tak sehat. Terlalu banyak pertengkaran dan perdebatan.
Ibrahim pun mencoba yakin, jika yang ia inginkan tentang Aira memang hanyalah harta kakek. Dan tentang perpisahannya ini tidak akan mempengaruhi hidupnya.
Apalagi sudah mengatakan jika selamanya mereka akan tetap menjadi kedua orang tua Yusuf.
"Besok kita temui pak Basir dan katakan mau mu itu padanya."
"Baiklah," jawab Aira pasrah, kini memang semuanya terasa berat, bahkan ia seperti tak ikhlas rumah tangganya akan benar-benar berakhir.
Namun keputusan bersama ini memang harus segera mereka lakukan, sebelum semakin lama mereka saling menyakiti.
Dada Aira pun terasa nyeri saat mengetahui jika sang suami selama ini memang tidak pernah mencintai dirinya.
Sedikitpun semua kebersamaan mereka tak membuat hati Ibrahim goyah.
Tapi Aira terus mencoba yakin, jika ia bisa melewati ini semua. Benar-benar membuka lembaran baru setelah ia dan Ibrahim berpisah nanti.
__ADS_1
Kembali ke kampung dan memulai semuanya di sana.