Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 36 - Hadiah Terindah


__ADS_3

Jam 9 pagi Aira mulai bersiap untuk mengunjungi istri pertama suaminya, bersama Yusuf dan bik Sumi, Aira berniat pergi ke rumah Sonya.


Tadi pagi ia sudah mendapat izin Ibrahim, namun dengan syarat sebelum zuhur sudah pulang. Aira menurut, sifat penurut Aira itulah yang membuat Ibrahim semakin menyayanginya.


Dan kini Aira sudah mulai menekan bell rumah, namun tidak ada tanda-tanda jika pintu akan terbuka.


"Apa mbak Sonya pergi ya Bik?" tanya Aira, mulai mengira-ngira. Pasalnya cukup lama mereka berdiri disini namun belum ada juga membukakan pintu.


Sonya memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Pelayan hanya datang saat pagi pagi buta dan sore hari untuk membersihkan rumahnya.


"Coba telepon saja Nyonya," saran bik Sumi, ia masih menggendong Yusuf yang sedang begitu aktif. Bayi beranjak semakin besar ini ingin segera turun dan bermain di lantai.


Aira menganggukkan kepalanya, lalu mengambil ponsel dan berniat menghubungi Sonya. Namun niatnya urung saat melihat sebuah mobil berwarna putih memasuki halaman rumah ini.


Aira tahu jika itu adalah mobil mbak Sonya.


Melihat Aira berdiri dihadapan rumahnya itu pun membuat lamunan Sonya tersadar. Dengan segera ia menghentikan mobilnya dan keluar.


"Aira, kamu datang? kenapa tidak memberi tahuku lebih dulu?" tanya Sonya diantara langkahnya yang mendekati Aira. Ia bahkan langsung mengambil Yusuf di gendongan bik Sumi dan menggendongnya sendiri.


Pipi gembul Yusuf langsung diciumi oleh Sonya, dan Yusuf pun tertawa merasa geli.


Kini Yusuf tidak lagi menangis saat berada di gendongan ibu keduanya ini. Semua orang bahkan mulai mengajari Yusuf untuk memanggil Sonya dengan sebutan Mama. Sementara Aira ingin di panggil Ibu.


"Ayo masuk," ajak Sonya.


Aira pun menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah Sonya untuk masuk ke dalam rumah itu. Namun perhatian Aira teralihkan pada kantung plastik berwana putih yang dibawa oleh Sonya. Nampak jelas di sana jika ada cap bertuliskan nama Rumah Sakit milik keluarga Suryo.


"Mbak Sonya habis dari rumah sakit?" tanya Aira langsung yang tidak ingin salah mengira.


"Iya Aira, aku darah rendah," jawab Sonya, ia tersenyum saat menjawab itu. Sampai akhirnya mereka semua sampai di ruang tengah.


Aira dan Sonya duduk di sana bersama Yusuf, sementara bik Sumi menyiapkan cemilan di dapur rumah ini. Sesekali pun bik Sumi datang ke rumah ini, memeriksa kebersihan rumah dan kebutuhan dapur.

__ADS_1


Aira dan Sonya pun terus berbincang membicarakan banyak hal. Kini mereka sudah seperti adik dan kakak, Aira benar-benar bersikap seolah tak ada jarak antara dirinya dan Sonya. Namun Sonya masih berasa jika ada dinding pembatas diantara mereka.


Meski selalu mencoba ikhlas, namun tetap tidak bisa di pungkiri jika rasa isi itu masih jelas ia rasakan. Melihat Aira yang kini nampak jauh lebih sempurna di banding dirinya.


Aira bukan lagi wanita kampung yang bodoh, karena nyatanya Aira pernah menjadi CEO di SM Corp dan membuat kebijakan baru di sana. Dan kini Aira mendapatkan cinta Ibrahim dan juga anak.


Terlalu banyak kesempurnaan Aira yang membuatnya merasa kecil.


Pikiran-pikiran buruk itu terus saja merayunya kembali membenci, namun sekuat tenaga Sonya menahan kebenciannya.


Ingat sudah berapa banyak kesalahan yang ia lakukan dan apa yang dia dapatkan kini.


Dan seperti janjinya kepada Ibrahim, sebelum zuhur Aira sudah pamit untuk pulang.


Sonya memintanya untuk menunggu sebentar, ia ingin memberikan Yusuf sesuatu, beberapa mainan yang sudah ia beli dan kini berada di kamar.


Dengan menggendong Yusuf, Sonya pergi mengambil mainan itu dan meninggalkan Aira sendiri ruang tengah.


Hingga dengan lancangnya Aira benar-benar melihat. Namun tidak satupun ia temukan obat penambah darah dan zat besi, obat yang biasa ia minum ketika dokter memberinya obat untuk darah rendah.


Aira kembali bertanya-tanya, mungkinkah Sonya bohong? lalu obat apa ini semua? obat ini juga bukan penyubur kandungan seperti yang ia tahu.


Tak ingin banyak menduga-duga, Aira lantas kembali meletakkan kantong plastik obat itu di atas meja.


Menunggu Yusuf dan sonya kembali, lalu pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari seperti biasa, Aira akan menyambut suaminya untuk pulang. Kini bibir tersenyum saat melihat suaminya itu mulai memasuki rumah.


Ada yang berbeda, tepatnya ada yang sedang Ibrahim bawa.


Aira terkekeh, saat sudah berdiri dihadapannya Ibrahim mengulurkan sebuket bunga mawar merah untuknya.

__ADS_1


"Seperti anak muda," ucap Aira dan menerima uluran itu.


"Kamu memang masih muda, yang tua itu aku."


Aira menjulurkan lidahnya kecil, memang begitulah kenyataannya. Karena jarak usia mereka terpaut 9 tahun.


Namun selama ini Aira merasa ia lebih bersikap dewasa ketimbang Ibra.


"Yusuf bersama bik Sumi?" tanya Ibrahim dan Aira mengangguk, keduanya lalu masuk ke dalam rumah, berjalan beriringan dengan Ibrahim yang memeluk pinggang Aira erat.


Sementara Aira memegangi buket mawar itu dengan kedua tangannya, sesekali ia menciumi aromanya yang begitu segar.


Sampai akhirnya mereka berdua sampai di dalam kamar. Ibrahim langsung mendudukkan Aira di kursi meja rias dan melepaskan hijab sang istri.


Merapikan rambut Aira bahkan mengikatnya tinggi.


Aira hanya diam, bingung sendiri dengan perlakuan suaminya sore ini. Sampai akhirnya kedua netra Aira membola saat dari cermin ia melihat Ibrahim yang memasangkan sebuah kalung berlian di lehernya.


Kalung itu bersinar dengan sangat indah. Kalung dengan lingkaran sederhana yang begitu ia suka.


"Mas," lirih Aira, tidak bisa berkata apa-apa lagi saking bahagianya. Ini adalah hadiah terindah yang pernah Ibrahim beri.


"Cantik, seperti kamu," ucap Ibrahim, ia mencium sekilas pipi sang istri dari arah belakang.


Membuat Aira benar-benar berharga melebihi berlian itu.


"Terima kasih," ucap Aira, satu tangannya masih memegang sebuket mawar merah, satu tangannya yang lain menyentuh bandul kalung itu, bandul berbentuk tetesan air yang begitu indah.


"Kamu menyukainya?"


"Sangat," jawab Aira lirih.


Ibrahim lantas memeluk erat istrinya dari arah belakang, berulang kali pula menciumi pipi sang istri yang merona.

__ADS_1


__ADS_2