Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 64 - Rasa Bersalah


__ADS_3

Aira menggelengkan kepalanya, dia menolak ucapan Dirga itu, andai bisa dia pun sungguh tidak ingin mendengarnya.


"Aku mencintaimu, apa kamu tidak bisa merasakannya," ucap Dirha sekali lagi.


Disaat Aira tidak ingin mendengarnya, kini Dirga malah mengulang pernyataan itu.


"Jangan asal bicara Dirga, aku adalah istri orang. Dimana akal sehatmu?" balas Aira. Dia bahkan sampai bingung harus menjawab apa dari pernyataan tidak masuk akal itu.


"Kamu datang ke rumahku dengan menangis, mengatkan tetang perpisahan dengan Ibrahim. Aku dan ayah membantumu untuk bisa lepas dari pria itu. Tapi kamu malah memutuskan untuk kembali. Padahal saat itu aku bersedia merangkulmu, menerimamu bersama Yusuf," jelas Dirga, ingat pertemuan pertamanya dengan Aira yang membuatnya jatuh cinta.


Andai saat itu Aira tidak kembali kepada Ibrahim, Dirga yakin jika kini dia lah pria yang bersanding dengan Aira.


"Kamu yang datang ke rumahku, tapi kamu juga yang pergi begitu saja, seolah hanya singgah dan memanfaatkan kebaikan ayah dan ibu. Karena ujungnya kamu terus saja kembali pada Ibrahim, tidak peduli pada semua kesalahan pria itu." timpal Dirga lagi.


Tiap ada masalah, Aira akan lari ke rumahnya membuat Dirga ingin selalu memeluk wanita itu, namun kemudian Aira kembali lagi pada Ibrahim.


Dan menyadari tindakannya itu Aira sungguh merasa menyesal. Tidak seharusnya memang dia pergi ke rumah orang lain saat sedang ada masalah dengan rumah tangganya.


Namun itu semua di luar kendali Aira, karena yang dia tuju adalah pak Basir dan ibu Rachel dan bukannya Dirga.


Tapi mencari alasan untuk membenarkan tindakannya pun tidak akan merubah apapun karena kini semuanya sudah terjadi. Tentang perasaan Dirga dan ketidaktahuan Aira.


"Aku meminta maaf jika kedatanganku ke rumah mu saat itu ternyata mengusik dirimu. Aku juga meminta maaf karena aku selalu memanfaatkan keluarga kalian_"

__ADS_1


"Bukan itu yang mau aku dengar Aira, bukan permintaan maafmu," potong Dirga dengan cepat.


Dia tidak ingin mendengar kata maaf, yang ingin dia dengar adalah perasaan Aira. Benarkah dia kembali pada Ibrahim karena cinta? bukan karena terpaksa, benarkah tidak ada cinta untuknya? jika ada dia akan memperjuangkan Aira dengan sekuat tenaga agar terlepas dari pria badjingan itu.


"Aku ingin mendengar tentang perasaanmu, kenapa kamu memilih kembali kepada Ibra dari pada menerimaku?" tanya Dirga lirih.


Ibrahim yang juga ikut mendengar pembicaraan keduanya pun mengepalkan tangannya kuat. Namun sebisa mungkin dia coba untuk menahan diri agar tetap menunggu di sini. Ibrahim sudah mempercayakan semuanya kepada Aira.


Seperti Aira yang dulu selalu mempercayai dirinya saat menyelesaikan masalah dengan Sonya.


"Karena aku mencintai Mas Ibrahim, karena dia suamiku. Pernikahan bukan hanya tentang mengikat janji suci di depan penghulu dan saksi, tapi juga di depan Allah. Aku juga bukan manusia yang sempurna, yang selalu menghakimi kesalahan suamiku. Aku dan mas Ibrahim sama-sama memafkan, menerima satu lain. Karena itulah hingga saat ini kami masih bersama," terang Aira tak kalah lirih, dia sungguh ingin Dirga tahu tentang Apa yang dia rasa, bahwa cintanya hanya untuk sang suami bukan untuk yang lain apalagi Dirga.


"Dan satu lagi, mulai sekarang Aku tidak ingin kita bertemu. Aku malu pada diriku sendiri, malu kepada suamiku, malu kepada mendiang Adisty, juga malu kepada Ibu Rachel dan Pak Basir. Aku malu karena tanpa sadar sudah membuat mi memiliki rasa itu. Aku mohon jangan menemuiku lagi," pinta Aira.


"Maafkan aku," ucap Dirga akhirnya, dia sungguh tidak menyangka jika perasaan yang selama ini ia jaga akan membuat Aira merasa tidak nyaman seperti ini.


Apalagi ketika nama Adisty disebut dia pun merasakan hatinya kembali berdenyut.


Sesuatu yang selalu ia sangkal bahwa dialah yang menyebabkan Adisty meninggal.


"Aku akan pergi dan tidak akan mengusik hidupmu dan Ibrahim lagi. Aku hanya berharap kamu akan selalu bahagia Aira," ucap Dirga dan Aira tetap bergeming, dia tidak membalas ucapan itu ataupun kembali menatap Dirga.


Aira terus memalingkan wajahnya menatap ke sembarang arah asalkan itu bukan Dirga.

__ADS_1


"Semoga waktu bisa membuat hubungan kita nanti jadi lebih baik," ucap Dirga untuk yang terakhir kali, setelah mengatakan itu dia keluar dari ruangan Aira.


Bertemu dengan Ibrahim dan menatapnya sesaat, hingga akhirnya Dirga benar-benar memutuskan untuk pergi dari sana.


Sedangkan Ibrahim tidak peduli itu, dia langsung masuk ke dalam ruangan sang istri. menemui Aira yang langsung menatap kedatangannya.


"Mas," ucap Aira lirih, matanya sayu ingin segera menjelaskan semua kepada sang suami.


Sebelum Ibrahim berprasangka buruk kepadanya tentang dia dan Dirga barusaan, Aira ingin segera menjelaskan semuanya, namun belum sempat dia membuka mulut Ibrahim sudah lebih dulu mendekap tubuhnya, memeluknya erat bahkan menyembunyikan wajah Aira di dada bidangnya.


"Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah mendengar semuanya," ucap Ibrahim.


Tanpa sadar Aira menangis di dalam dekapan sang suami, dulu Ibrahim memang sempat mengatakan kepada dia untuk menjaga jarak kepada Dirga.


Karena Dirga memiliki rasa padanya, namun saat itu Aira mengatakan tidak, bahwa itu hanyalah dugaan tanpa dasar dari Ibrahim dan kini dia sangat menyesalkan akan hal itu.


"Maafkan aku Mas," jawab Aira, dia semakin memeluk erat suaminya.


"Tidak, kamu tidak bersalah sayang. Dirga lah yang tidak bisa menjaga perasaannya," balas Ibrahim, dia tidak ingin Aira merasa bersalah, membuat istrinya itu akan terus memikirkan tentang ini.


Ibrahim tahu betul bagaimana sifat Aira, pasti rasa bersalahnya pada almarhumah Adisty, Pak Basir dan ibu Rachel akan membebani diri.


"Ingat sayang, kamu sedang hamil. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri," pinta Ibrahim.

__ADS_1


Dan Aira hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


__ADS_2