Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu

Berbagi Cinta : Istri Pelampiasan Hasratmu
IPH BAB 27 - Jadi Kenangan Yang Indah


__ADS_3

Setelah membicarakana banyak hal dengan Aira, Ibrahim memutuskan untuk keluar dari dalam kamar. Ia juga memberikan Yusuf pada Aira untuk segera di susui.


Cukup lama menunggu, namun Ibrahim tak juga kembali ke dalam kamar. Bahkan Yusuf sudah terlelap dengan begitu pulasnya tapi sang suami tak juga kunjung datang.


Aira melihat jam bundar yang menempel di dinding, saat ini nyaris tengah malam. Tepatnya jam 11 lewat 45 menit.


Menarik dan menghembuskan nafasnya pelan, Aira lantas merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ingatannya kembali saat sore tadi ia melihat Ibrahim keluar dari dalam kamar Sonya. Membuat nya yakin jika malam ini Ibrahim pasti menghabiskan malam di kamar istri pertamanya.


Hawa dingin seketika menghampiri Aira. Ia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.


"Ya, mas Ibrahim pasti tidur di dalam kamar mbak Sonya." gumam Aira lirih.


Menyadari itu makin membuat hatinya pedih, nyatanya sampai kapanpun cinta suaminya memang hanya untuk sang istri pertama. Selamanya hanya Sonya lah yang dicintai oleh Ibrahim.


Aira tidak tahu jika kini Ibrahim masih berada di ruang kerjanya. Duduk dan kalut dengan pikirannya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi datang.


Aira bangun dan hanya mendapati dia seorang diri di dalam kamar ini. Sang suami benar-benar tidak bermalam di dalam kamarnya. Hal itu berhasil membuat dada Aira sesak. Karena nyatanya meskipun Ibrahim sering memperlakukannya dengan kasar, kehadiran suaminya itu tetap ia tunggu. Sentuhan Ibrahim tetap ia nantikan.


Aira tersenyum kecil, berpikir jika kenangannya bersama Ibrahim biarlah jadi kenangan yang indah.


Aira lantas menghampiri Yusuf dan mulai membersihkan tubuh sang anak. Bik Sumi pun mendatangi kamar Aira dan membantu Aira untuk mengurus si jabang bayi.


Aira bersiap untuk menemui pak Basir pagi ini. Menyampaikan apa inginnya dan apa keputusan bersama yang sudah ia sepakati dengan sang suami.


Sampai di meja makan, ia tetap tak melihat keberadaan sang suami. Bahkan Sonya pun tak terlihat pula batang hidungnya.


Aira yakin betul jika kedua orang itu masih tertidur pulas. Membuat nafsu makannya hilang seketika.

__ADS_1


"Bik, perutku rasanya tidak enak, aku tidak sarapan," ucap Aira pada salah satu pelayan. Bik Sumi tidak disini, beliau masih bersama dengan Yusuf.


"Baik Nyonya, apa perlu saya siapkan bekal?"


"Tidak perlu," jawab Aira cepat.


Ia segera berlalu dari sana dan segera keluar. Luna sudah menunggu kedatangannya di halaman rumah.


Luna bahkan sudah membuka pintu mobil itu saat melihat sang Nyonya mulai mendekat.


Aira sudah membuat janji dengan pak Basir untuk membicarakan masalah pribadinya ini di rumah pak Basir, tidak ingin membicarakannya di perusahaan.


Pagi ini suasana jalanan masih senggang, membuatnya lebih cepat sampai di kediaman rumah pak Basir.


Saat Aira dan Luna turun dari dalam mobil, pintu rumah pak Basir pun terbuka, nampak Dirga keluar dari sana dengan menenteng tas kerjanya.


Dirga berlalu begitu saja, bersikap acuh dan dingin.


Dan Aira tak ambil pusing, setelah Dirga berlalu ia pun mengetuk pintu rumah itu. Dan ibu Rachel yang membukakannya.


"Ibu kira tadi Dirga kembali lagi, kamu melihat Dirga keluar kan?" tanya ibu Rachel, ia duduk disamping Aira dan menyambut sang tamu dengan begitu ramah.


"Iya Bu, tadi bertemu di depan," jawab Aira apa adanya. membalas tak kalah hangat senyuman ibu Rachel.


Sampai akhirnya pak Basir menghampiri mereka.


Aira lantas mengutarakan semua maksudnya datang kesini. Tentang perceraiannya dengan Ibrahim, tentang keinginannya untuk melepas semua harta kakek Pram juga tentang ingin hidup tenang di kampung.


Pak Basir tidak bisa menahan keingian Aira. Apalagi pak Basir bisa melihat dengan jelas jika Aira sudah lelah. Tatapan matanya sayu dan berbicara dengan suara yang begitu rendah.


"Kalau begitu semua harta kakek Pram atas namamu akan bapak kembalikan ke tuan Ibrahim. Dan setelah itu semoga dia puas dan tidak lagi menyakitimu," balas pak Basir.

__ADS_1


Bukan hanya Aira, Luna dan ibu Rachel pun menganggukkan kepalanya setuju.


Harta memang bisa membuat orang lupa, bahwa kebahagiaan bukanlah hanya tentang harta.


Selesai bersepakat, Aira pun memutuskan untuk pergi ke SM Corp. Menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia punya. Sebelum akhirnya nanti benar-benar ia lepaskan.


Beberapa manajemen bahkan ada yang Aira ganti. Sebuah kebijakan yang ia harapkan akan bisa semakin mengembangkan SM Corp nanti.


"Luna, saat pergi nanti aku tidak ingin membawa uang sepeserpun. Semua gaji dan bonus yang aku dapatkan masukkan semua ke rekening kakek. Rekening itu nanti perwaliannya pasti mas Ibrahim kan?" tanya Aira.


"Iya Nyonya, semua rekening tuan Pram diwalikan oleh Tuan Ibrahim."


Aira menganggukkan kepalanya, merasa lega. Aira benar-benar tak ingin membawa sedikitpun harta peninggalan kakek Pram saat pulang ke kampung nanti.


Dulu saat menikah, ayah dan ibunya memberi Aira uang sebanyak 3 juta untuk pegangan. Kini uang itu hanya bersisa 500 ribu di dalam ATM nya. Uang itulah yang akan ia bawa untuk pulang ke kampung.


Saat Aira sedang sibuk dengan pekerjaannya, pak Basir menemui Ibrahim.


Hingga siang ini Ibrahim tak juga datang ke SM Corp. Pak Basir akhirnya memutuskan untuk menemui Ibrahim di rumahnya. Dan ternyata benar, Ibrahim masih disana dan mengurung dirinya di ruang kerja.


Pak Basir mengetuk pintu dan Ibrahim mempersilahkan masuk.


Tanpa mengulur-ngulur waktu pak Basir pun mengatakan semua keinginan Aira padanya tadi pagi. Tak hanya itu, pak Basir juga berniat mengundurkan diri dari perusahaan setelah semua tugasnya usai.


Makin berdesirlah hati Ibrahim dibuatnya, seolah satu per satu orang akan meninggalkan dirinya. Membuatnya benar-benar hidup sebatang kara.


Namun Ibrahim hanya diam, ia juga tak mencegah keinginan pak Basir itu.


Ibrahim terus yakin jika ia akan hidup baik-baik saja. Hidup bahagia dengan semua harta yang ia punya.


"Lakukan semuanya dengan cepat, aku tidak ingin ini berlarut-larut," tukas Ibrahim.

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab pak Basir, ia bahkan menundukkan kepalanya tanda hormat.


Lalu segera berlalu dari sana.


__ADS_2