Berdagang Dengan Dunia Lain

Berdagang Dengan Dunia Lain
Panti Asuhan Leonard


__ADS_3

<>


Nama : Alexander Leonard


Usia : 17 tahun


Konstitusi : 5 [+]


Vitalitas : 6 [+]


Skill :


- pemahaman bahasa : 3/3 [+]


- klon : 3/3 [+]


- berpikir cepat : 3/3 [+]


<>


<>


<>


<>


Poin system : 0


Koin emas : 499


Teng - tong, "Pengumuman, nama - nama yang disebutkan harap datang ke ruang kepala sekolah. Helen Nord, Wika Silam, Vincentius Botuna, Alexander Leonard. Pengumuman diulangi, nama - nama yang disebutkan harap datang ke ruang kepala sekolah. Helen Nord, Wika Silam, Vincentius Botuna, Alexander Leonard.


Sesaat setelah bel istirahat siang, terdengar pengumuman yang memanggil empat orang termasuk Alex keruangan kepala sekolah.


"Sepertinya empat orang ini dipanggil untuk menjadi perwakilan lomba marathon. Wahh Alex kau hebat berhasil jadi salah satu perwakilan." Tomi bergegas lari ke arah Alex diikuti ketua kelas dan yang lain.


"Helen juga termasuk yang dipanggil kan? Bukankah sudah kuberi tahu kemarin dia menyelesaikan lima putaran dengan cepat." Kata Vivi bangga seolah dia yang berhasil.


"Benarkah? aku tidak mendengar nama Helen tadi." Gumam Mika sambil berpikir.

__ADS_1


"Hebat! Berarti kelas kita mewakilkan dua orang sebagai peserta. Ngomong - ngomong, Dimana Helen?" Tomi melihat kesekeliling kelas mencari keberadaan Helen.


"Sepertinya dia sudah pergi saat namanya dipanggil tadi." Vivi juga memperhatikan sekeliling namun tidak menemukan keberadaan Helen.


Sedangkan itu tidak jauh dari tempat duduk Alex, Dino yang sedang berjalan menuju pintu keluar kelas tiba - tiba berhenti. "Itu tidak seperti sifatmu untuk mengikuti lomba?"


Helen yang sedang memainkan handphonenya mengalihkan pandangan ke arah Dino dan berkata, "Aku hanya sedang membutuhkan uang."


Mata Dino yang biasa terlihat mengantuk terbuka lebar mendengar perkataan Helen, "Apakah gajimu tidak cukup? Kau bisa meminjam uang dari bos jika kebutuhanmu mendesak. Aku juga bisa meminjamkan beberapa."


"Tidak perlu. Tabunganku sudah kupakai semua dan menyisakan sedikit untuk kebutuhan harianku. Lagipula aku ingin melakukan apa yang ingin kulakukan dengan kerja kerasku sendiri." Helen tersenyum mengingat anak - anak di panti asuhan yang ia kunjungi beberapa hari sebelumnya.


"Yahhh. Aku tidak terlalu peduli untuk apa kau gunakan uangmu itu. Dengan kekuatan kita, aku yakin kau pasti bisa menang. Tapi jangan terlalu keras dengan dirimu dan melupakan kebahagiaan diri sendiri oke." Sebagai partner Helen, Dino tahu bahwa Helen selalu lembut dan perhatian dengan orang lain meskipun tidak dapat menunjukkannya secara langsung.


"Tenang saja, jika tidak ada yang seperti kita di lomba itu aku yakin akan menjadi juara." Helen tersenyum menanggapi Dino.


Dino menggelengkan kepala mendengar jawaban Helen yang tidak menanggapi nasihatnya.


Di depan ruangan kepala sekolah, Alex mengetuk pintu dan setelah mendengar balasan dari dalam, ia memasuki ruangan tersebut.


Terlihat sudah ada dua siswa laki - laki di dalam yang duduk dengan kepala sekolah dan guru olahraga.


"Oh Alex, silahkan duduk. Kita akan menunggu yang lain terlebih dahulu." Guru olahraga tersenyum melihat kedatangan Alex. Meskipun sebelumnya ia berniat menyingkirkan salah satu dari dua siswa laki - laki yang tercepat pada proses seleksi, ternyata Alex adalah siswa tercepat dibandingkan yang lain meskipun di putaran ke lima Alex berlari sangat lambat akibat kelelahan.


"Baiklah. Kalian berenam sudah berkumpul di sini. Mulai besok, kalian akan saya latih selama empat hari dari pagi sampai jam pulang sekolah berakhir. Setelah waktu pulang sekolah berakhir, kalian dapat berlatih bersama anggota klub lari atau pulang dan melakukan aktifitas masing - masing.


"Ngomong - ngomong, ini adalah Melvis dan Jhon. Mereka adalah peserta yang mengikuti lomba sejak seleksi tingkat daerah dan berhasil sampai perlombaan nanti. Melvis adalah ketua klub lari dan Jhon adalah salah satu anggota klub lari. Kepala sekolah, apakah ada yang ingin bapak sampaikan kepada mereka?" Guru olahraga bertanya kepada kepala sekolah yang sejak tadi diam.


"Eheeem. Meskipun kalian berempat memiliki waktu yang sedikit untuk berlatih berbeda dengan Melvis dan John yang sudah mempersiapkan diri sejak awal, kalian harus tetap bertujuan untuk menjadi juara dan jangan sia - siakan tiket emas yang sudah diberikan kepada sekolah kita. Berdasarkan itu, sekolah akan mendukung kalian berenam dengan menyediakan makanan yang baik untuk tubuh kalian selama empat hari kalian berlatih."


Mendengar perkataan kepala sekolah, Alex merasa senang karena ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan selama empat hari ke depan.


"Bagi kalian yang melanjutkan latihan bersama klub lari setelah jam pulang, sekolah akan memberikan uang saku untuk makan malam kalian. Uang ini akan diberikan kepada Melvis yang akan memimpin kelompok ini. Jadi kalian dapat makan malam bersama dan mengakrabkan diri kalian masing - masing. Apakah kalian mengerti?"


"Mengerti pak kepala sekolah." Jawab keenam siswa serempak.


"Baiklah, kalian dapat melanjutkan waktu istirahat kalian. Besok pagi, bapak akan menunggu kalian di lapangan sepak bola sekolah. Jadi jangan lupa membawa pakaian olahraga sekolah. Jika pakaian olahraga kalian sedang kotor, kalian dapat memakai pakaian training yang biasanya kalian pakai." Kata guru olahraga kepada mereka berenam.


Setelah beberapa saat berkenalan dengan kelima siswa lain di depan ruangan kepala sekolah, Alex berjalan kembali ke ruangan kelasnya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Alex merasakan perasaan yang aneh. Pada saat berada di koridor yang sepi, Alex tiba - tiba bergidik karena ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan bersamanya meskipun ia merasa sendirian di koridor itu.


Menolehkan kepalanya ke belakang, Alex melihat Helen yang sedang berjalan sambil memperhatikan handphone di tangannya. "Oh hai Helen. Aku kira kau pergi ke kantin. Aku tidak memperhatikanmu sejak tadi."


Helen bingung melihat Alex yang dapat memperhatikannya. Meskipun ia tidak menggunakan kekuatannya, biasanya orang lain tidak akan merasakan kehadirannya jika orang itu tidak cukup teliti memperhatikan sekitar.


"Aku membawa bekalku sendiri. Apakah kau membawa bekal juga?" Helen sejak tadi berada di belakang Alex. Meskipun ia ingin memulai pembicaraan dengan Alex, Helen mengurungkan niatnya karena takut mengagetkan Alex.


"Tentu saja. Aku tidak memiliki banyak uang sehingga harus membuat bekal setiap pagi. Hahahahah."


Helen ikut tersenyum setelah melihat Alex tertawa. Namun di dalam ia merasa kasihan. Berkat kejadian yang pernah menimpa Alex setahun lalu, ia dan Dino yang satu sekolah dengan Alex diberikan misi untuk menyelidiki latar belakang Alex.


Flashback.


Ketika Alex bayi, ia ditemukan seorang diri di taman kota kemudian di rawat di sebuah panti asuhan.


Meskipun Alex sudah masuk SMA, belum ada yang berniat mengadopsi Alex dari panti asuhan tersebut yang membuat ia sedikit sedih dan merasa menjadi beban disana.


Berniat sedikit membalas jasa yang dilakukan panti asuhan terhadapnya, Alex mulai bekerja paruh waktu dan menyisihkan sebagian besar pendapatannya untuk membeli beberapa makanan enak kepada adik - adiknya dan para perawat di panti asuhan.


Alex menjalani hari - harinya dengan damai di panti asuhan karena dapat membahagiakan adik - adiknya dan merasa bahwa ia tidak menjadi beban lagi di panti asuhan tersebut. Meskipun pemilik panti asuhan itu tidak pernah merasa Alex yang sudah cukup dewasa sebagai beban yang tentu saja tidak diketahui Alex.


Pada saat kelas dua SMA, Alex pulang dari supermarket tempat ia bekerja pada malam hari dan melihat kerumunan orang di dekat panti asuhan.


Merasa ada yang aneh, Alex bergegas mendekati kerumunan dan melihat kobaran api yang menyelimuti bangunan tempat ia dan semua yang dikenal Alex sebagai keluarga tinggal.


"Tidak... Tidaaaak..." Alex berlari menuju panti asuhan yang terbakar namun ditahan oleh anggota pemadam kebakaran yang sedang berusaha memadamkan kobaran api.


Di sudut kerumunan, terlihat beberapa orang yang mengamati kebakaran itu dengan sedih. Salah seorang yang berdiri di depan kumpulan orang itu bersuara setelah melihat Alex yang meronta - ronta dengan sedih di tangan petugas pemadam kebakaran, "Siapa dia?"


Seorang wanita cantik di belakang pria itu terlihat membalik - balik kumpulan dokumen di atas tangannya lalu menjawab pertanyaan pria itu. "Namanya Alexander Leonard. Dia merupakan anak itu yang tidak ditemukan di dalam."


Pria itu menghela nafas dengan sedih, "Leonard, ternyata masih ada anak asuhmu yang berhasil selamat dari kejadian ini."


Sebelumnya, pria itu mendapatkan kode berupa pesan yang dikirimkan ke ponselnya dari salah satu anggotanya yaitu Leonard yang menjalankan salah satu panti asuhan di kota mereka. Kode singkat itu memiliki arti meminta pertolongan yang membuatnya memobilisasi para pemilik bakat yang tersedia saat itu.


Saat tiba di panti asuhan, mereka menemukan potongan - potongan tubuh yang berserakan di beberapa ruangan. Mereka mengidentifikasi semua mayat di dalamnya dan membuat daftar. Setelah mencocokkan dengan dokumen ternyata ada salah satu anak yang tidak ditemukan di antara mayat itu yang bernama Alex, sehingga pria itu mengasumsikan bahwa mungkin pelakunya bertujuan untuk mendapatkan Alex.


Pria itu menyadari tidak mungkin kejadian ini disebabkan oleh manusia biasa dan diberitakan ke publik. Karena itu, mereka memutuskan untuk membakar panti asuhan milik Leonard meskipun ia merasa sedih untuk menghancurkan sesuatu yang akan mengingatkannya akan salah satu anggota terbaiknya yaitu Leonard.

__ADS_1


Melihat Alex yang sebelumnya ia kira telah diculik oleh pelaku kejadian, pria itu merasa Alex sangat beruntung karena tidak berada di lokasi kejadian sebelumnya.


Kemudian pria itu menyuruh beberapa anggotanya untuk menyelidiki latar belakang dan kehidupan Alex selama beberapa hari ke depan. Setelah memastikan Alex bersih, ia akan memberikan sedikit bantuan untuk mengenang anggotanya yang menjadi korban malam itu.


__ADS_2