
Jalan-jalan diterangi oleh cahaya merah kekuningan yang bersumber dari lampu sihir.
Lampu sihir tersebut berisi batu cahaya yang akan bereaksi dan mengeluarkan cahaya terang jika tenggelam di dalam air, sehingga penduduk di dunia sihir menggunakan batu tersebut sebagai sumber penerangan dimalam hari.
Suara irama serangga menemani kesunyian yang dirasakan Alex di bawah tirai malam bertabur bintang.
Sejak mulai berpatroli, klon keduanya hanya berputar-putar di lokasi pusat. Dia melakukan hal tersebut karena klon pertamalah sebagai pemantau utama dalam misi ini.
Klon kedua menghabiskan lebih banyak waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan diri, jika klon pertama menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Hoaaam... Baru dua hari yang lalu terjadi kasus penculikan. Melihat selang waktu kasus-kasus sebelumnya, sepertinya malam ini pelaku tidak berniat melakukan tindakan." Seorang pria yang mengikuti patroli berkata dengan malas.
"Kau berkata seperti itu karena masih belum memiliki anak! Pikirkan bagaimana jika setelah istrimu melahirkan dan anakmu itu menjadi korban." Pria disampingnya menggeleng-gelengkan kepala.
"Baiklah, aku hanya bercanda. Aku hanya mengantuk karena belum sempat istirahat setelah pulang kerja."
Di tikungan jalan, keduanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Mereka menemukan sebuah rumah dengan pintu depan setengah terbuka. Hal ini tentu saja sangat kontras dengan rumah lain di barisan rumah itu.
Keduanya saling berpandangan, lalu mengangguk secara bersamaan. Mereka berjalan mengendap-endap menuju rumah tersebut, tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.
"Apa kau mencium sesuatu?"
"Ya... Baunya sungguh aneh"
Keduanya saling berbisik setelah melewati pintu rumah. Mereka mencium bau aneh yang menenangkan pikiran mereka.
Kreeeeek.
Sesosok berjubah abu-abu keluar dari pintu kamar dengan menggendong seorang anak ditangan.
"Si-siapa kau? Turunkan anak itu!"
"Heehhh... Sepertinya aku membuat kesalahan." Suara wanita terdengar dari sosok tersebut.
"Tidak masalah. Lagipula kalian sudah menghirup aroma ini." Lanjut sosok itu.
"Apa maksudmu?" Mereka tidak mengerti maksud perkataan wanita di depannya.
"Tidakkah kalian merasa mengantuk?" Wanita itu tertawa lucu melihat keduanya.
Salah satu pria menyadari sesuatu setelah mendengar ucapan wanita di depannya. Sejak memasuki rumah ini, dia merasa tubuhnya menjadi rileks. Perasaan kantuk yang ditahannya sejak mulai berpatroli menyeruak, membuat seluruh tubuhnya menjadi lemas.
"Si-sial, aroma ini membuat kita mengantuk!" Baru saja mengutuk, pria disampingnya jatuh ke lantai. Dia melihat temannya masih bernafas, memastikan kehidupan mereka tidak terancam akibat aroma aneh ini.
__ADS_1
"Tidurlah. Aku akan menjadikan kalian berdua sebagai makanan monster! Lagipula jika cara kami menculik anak-anak terbongkar, kedepannya kami akan kesulitan."
Pria terakhir tertidur dengan keengganan dihatinya. Sesaat sebelum tertidur, dia menyadari meskipun aroma yang tercium tidak membahayakan nyawa mereka, wanita di depannya dapat berbuat apa saja ketika mereka tak sadarkan diri.
"Bawa keduanya dari sini!" Di belakang wanita tersebut, muncul dua sosok bertubuh hitam yang bersembunyi di tempat gelap.
Ketiganya membawa seorang anak serta dua pria yang mengetahui tindakan mereka, lalu berjalan keluar rumah melalui pintu depan.
Baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara seseorang yang langsung membuat mereka waspada, "Apa tujuan Gereja Bintang Darah melakukan hal ini?"
"Siapa kau?" Wanita itu mundur ketika melihat seorang pria muncul dari balik bangunan.
"Aku adalah musuh alami organisasi kalian. Sekarang sebutkan apa tujuan Gereja Bintang Darah menculik anak-anak?"
"Apa maksudmu?" Tanya wanita itu dengan wajah bingung.
"Aku kenal dengan dua makhluk hitam ini, bukankah kalian menyebutnya makhluk terkutuk? Tak perlu berpura-pura seperti itu, Tio!"
Ketika namanya disebutkan, wanita itu terkejut dan menjadi sangat waspada. "Bunuh orang itu!"
Tio memerintahkan dua makhluk terkutuk yang dia bawa untuk menyerang pria didepannya. Kedua makhluk terkutuk melempar masing-masing pria yang mereka bawa ke tanah, lalu berlari menuju orang itu mengikuti perintah Tio.
'Bagus! Keduanya tidak dijadikan sandera. Dengan ini, aku bebas menggunakan sihir.' Alex tersenyum melihat dua makhluk terkutuk menerjang ke arahnya setelah melepas dua pria yang sebelumnya mereka bawa.
Wushhh...
Satu makhluk terkutuk mengarahkan sebuah pukulan tepat ke kepala Alex. Alex menghindari pukulan tersebut ke samping, lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah kepala makhluk terkutuk.
Zraaa..... Zraaa..... Zraaa.....
Api biru masuk dengan mudah melalui tengkorak makhluk tersebut. Ketika Alex melepaskan kendalinya atas api biru yang berputar, api seukuran kelereng itu semakin membesar di dalam kepala, dan membakar otak serta organ lainnya yang terdapat di kepala makhluk tersebut.
"Perwujudan sihir!" Tio berteriak panik.
Dia tercengang melihat salah satu makhluk terkutuk mati dengan mudah oleh pria tersebut.
Dia segera mengeluarkan sebuah pisau yang terselip di pinggangnya, lalu mengarahkan pisau tersebut ke arah leher anak yang dia bawa. "Berhenti! Jangan melawan atau anak ini akan mati!"
"Apakah begitu?" Alex dengan tenang menghindari serangan makhluk terkutuk yang tersisa.
Dia menciptakan kembali sihir yang serupa, lalu membunuh makhluk tersebut dengan serangan yang sama seperti sebelumnya.
"Meskipun lebih baik jika tidak ada korban, aku tidak peduli dengan anak itu. Lagipula misiku hanya menemukan pelaku penculikan dan membongkar tujuan mereka." Alex berkata dengan dingin.
__ADS_1
Setelah merasakan perasaan kehilangan untuk yang kedua kalinya, Alex menutup hatinya dari mengenal serta membentuk suatu ikatan yang menyerupai keluarga.
Meskipun dia masih bersikap baik terhadap orang disekelilingnya, dia akan memilih suatu tindakan yang menurutnya lebih efektif, serta tidak dipengaruhi oleh rasa iba.
Namun tindakan Alex berbanding terbalik dengan situasi. Ketika Tio mengetahui ancamannya tidak berguna, dia malah semakin panik dan melangkah mundur berusaha menjauh dari Alex.
Wajah dingin Alex mengeras ketika mengingat kembali orang-orang di desa Rod yang terbunuh. Dari puluhan orang penduduk desa, hanya sepuluh orang yang berhasil selamat. Yaitu delapan orang yang berlari menuju pedalaman Great Forest, dirinya, serta Timothi yang tidak diketahui keberadaannya saat ini.
Alex menenangkan amarah dihatinya, dan wajahnya kembali menjadi dingin.
"Jangan... Jangan mendekat atau aku akan membunuh anak ini!" Seru Tio mencoba mengancam kembali.
"Sudah kukatakan sebelumnya. Bunuh saja jika kau mau." Alex tetap melangkah dengan tenang.
"Brengsek!" Tio melempar anak ditangannya, lalu berbalik melarikan diri dengan sekuat tenaga.
Dengan kecepatannya, Alex dengan sigap menangkap anak itu sebelum menyentuh tanah. Dia meletakkan anak tersebut di tanah, dan segera mengejar Tio yang telah menghilang di balik bangunan.
Alex mengikuti lokasi Tio berdasarkan pandangan klon pertamanya yang mengamati dari kejauhan.
Disebuah gang gelap, dia merasa ada sesuatu yang salah. "Aneh. Tubuhku yang lain tidak melihat Tio keluar dari gang ini."
Di dalam bangunan, Tio berusaha menenangkan nafasnya. Dia mengelus sepatu artefak pemberian tuannya, yang akan dia aktifkan jika terjadi sesuatu yang mengharuskannya untuk melarikan diri.
Sepatu tersebut merupakan sebuah artefak yang dapat memperingan langkah pemakainya. Meskipun begitu, stamina yang diperlukan Tio tetap sebanding dengan ketika dia berlari dalam jarak yang sama tanpa memakai artefak tersebut.
"Untung aku memakai ini. Lihat saja nanti, aku akan melaporkan hal ini ke guru dan membalas perbuatan pria itu!"
Sebelum Tio berhasil menenangkan diri, dinding rahasia yang menghubungkan gang samping dengan tempat persembunyiannya hancur, memperlihatkan wajah Alex yang dingin dibalik serpihan-serpihan dinding kayu.
"Ke-kenapa bisa?" Tanya Tio berteriak panik.
Alex tentu saja tidak menjawabnya. Berkat konstitusinya, dia dapat merasakan lingkungan sekitar dengan baik.
Jika Alex memfokuskan kesadaran dalam sebuah garis lurus, Alex dapat membentangkan kesadarannya sejauh sepuluh meter dari lokasinya berada.
Karena itulah meski pengamatan klon pertamanya tak berhasil menemukan keberadaan Tio, klon keduanya menggunakan cara tersebut dan berhasil menemukan Tio, yang berada dibalik dinding kayu sejauh delapan meter dari lokasinya berada.
"Mengejarmu sungguh merepotkan." Alex menghela nafas, lalu dengan cepat melaju menuju Tio.
Melihat Alex berlari ke arahnya, Tio berteriak dengan panik. "Tolong..."
Brakk!!!
__ADS_1
Alex menghantam kepala Tio dengan sebuah pukulan biasa, menyebabkan Tio terjatuh pingsan di tanah.